Wanita Tawanan Tuan Grey

Wanita Tawanan Tuan Grey
I love you, Grey


__ADS_3

Keesokan paginya, Alicia merasakan sakit yang luar biasa pada sekujur tubuhnya. Bagaikan tanpa tulang begitu lemas dan tidak bertenaga. Grey benar-benar menghukumnya selama semalaman sampai dia tidak bisa tidur.


"Aaauuh," keluar Alicia ketika dia hendak ingin menurunkan kakinya.


"Kamu sudah bangun?" tanya Grey yang membawakan nampan berisikan makanan dan segelas susu. "Mau ke kamar mandi?"


Bergegas Grey menaruh nampan tersebut di atas nakas, lalu menggendong tubuh Alicia masuk ke dalam kamar mandi usai melihat anggukan dari kepala sang istri.


"Mau kumandikan?" tawar Grey yang hanya mendapat gelengan kepala.


"Aku bisa sendiri!" ucap Alicia dengan suara serak basahnya.


"Kau menggodaku?" Grey justru tergoda mendengar suara ciri khas Alicia yang berhubungan tidur. Dia mencium bibir itu langsung saja.


"No, Grey!" ucap Alicia yang mencoba mendorong wajah suaminya agar menjauh.


Grey hanya terkekeh saat mendapat penolakan dari istrinya, dia pun menyuruh Alicia untuk segera membersihkan dirinya lantas keluar dari sana.


Selepas kepergian Grey, Alicia pun membersihkan tubuhnya. Air matanya pun menetes bersamaan dengan air shower yang membasahi sekujur tubuh.


"Apakah aku harus bahagia? Atau tidak?" batin Alicia berkata pada dirinya sendiri saat dia menyabuni tubuhnya yang penuh dengan tanda merah. "Aku harus bagaimana? Kau membuatku bingung Grey! Kau masih menjalani kasih dengan wanita lain saat kau terus menggauliku semaumu!"


Entah apa yang dirasakan oleh Alicia, dia bingung dengan keadaannya sendiri. jika memang Grey tidak ingin lepas dengan kekasih seharusnya lelaki itu tidak menyentuhnya.


"Aku benar-benar hanya sebagai wanita tawananmu! Yang hanya dipakai saat kau butuhkan, tanpa memperdulikan perasaanku." batin Alicia saat tangannya masih menelusuri membersihkan dirinya yang begitu banyak tanda kemerahan dari Grey seakan tidak ada celah sedikitpun kulit tanpa tanda merahnya.


Beberapa menit kemudian Alicia keluar dengan tertatih, dengkulnya benar-benar terasa lemas. Sampai harus merambat pada dinding dan benda sekitar.


"Aakkh, Grey!" teriak Alicia tiba-tiba saat tubuhnya kembali diangkat oleh tangan kekar suaminya.


"Diamlah!" pinta Grey usai menaruh Alicia di atas tempat tidur. Tangan kekarnya mulai membuka handuk yang melilit pada tubuh istrinya tapi ditahan oleh Alicia. "Kenapa? aku sudah melihat semuanya berkali-kali, tidak usah malu!"


"Tidak usah malu? Jelas Aku sangat malu apalagi tanda itu begitu banyak di sekujur tubuhku!" ujar Alicia dalam hati.


Grey begitu gemas melihat wajah merajuk Alicia yang seperti anak kecil langsung mengecup bibirnya berkali-kali saat dia memakaikan baju pada Alicia, membuat hatinya begitu senang entah senang karena apa Yang jelas Grey benar-benar senang mungkin karena permainan semalam yang begitu memuaskan hasratnya.


Tangan kekar itu pun, juga mengeringkan rambut Alicia dengan telaten. Setelah itu dia mengeluarkan dari dalam laci sebuah kotak berukuran sedang.

__ADS_1


Dibukanya kotak tersebut lalu diperlihatkan di depan Alicia. Secara perlahan Grey mendekat di telinga istrinya sembari berbisik, "Suka gak?"


Alicia terkejut melihat kalung permata yang begitu cantik, dia mengingat harga kalung ini sekitar 5 M. Siapa yang tidak menyukai kalung cantik dengan harga selangit? Jelas dia sangat suka, tapi ragu saat ingin mengatakannya.


"Al, apa kau tidak menyukai kalung ini?" tanya Grey saat Alicia hanya terdiam. "Baiklah kalau kau tidak menyukainya maka lebih baik aku buang saja!"


Grey langsung menutup kalung itu, tapi tiba-tiba Alicia mencegahnya. "Aku suka, sangat suka, aku rasa semua wanita pasti menyukainya. Tidak mungkin tidak suka."


Senyum pun terukir di wajah Grey, dia pun memakai kalung itu pada Alicia dan melihat bagaimana sang istri melihat dirinya sendiri di pantulan cermin.


"Your beautiful, Honey!" ucap Grey saat menunduk hingga Alicia pun melihat ke atas.


Pada saat itu juga, Grey langsung ******* bibir Alicia dari posisinya yang berada di belakang Alicia, kemudian kepala istrinya dia tonggakan ke atas agar bisa leluasa mencium dengan puas.


Ciuman itu terus berlanjut sampai kini Grey menggendong tubuh Alicia untuk berada di atas meja, tentu tangan Alicia lingkar di lehernya sedangkan dia menahan tengkuk sang istri agar memperdalam morning kiss.


"Hmmmaahhh ...."


Ciuman itu terlepas dan kini deru napas masing-masing begitu saling memburu, Grey tertawa melihat Alicia kesulitan bernapas bersamaan dengan mengelap sisa air Saliva.


Alicia yang melihat Grey selalu tersenyum dan tertawa, membuatnya untuk beberapa sesaat terhipnotis dengan ketampanan dan sikap romantis sang suami, hingga dia pun mencoba untuk mengetes Grey dengan kata-katanya.


"I love you," ucap Alicia masih melihat manik mata Grey yang tiba-tiba membuat tawa dan senyuman laki-laki itu berhenti. "I love you, Grey."


Grey tersenyum kaku langsung menghela napasnya, tanpa membalas ucapan cinta sang istri dia langsung menggendong tubuh Alicia untuk keluar dari dalam kamar, menuju suatu tempat di mana dia dan sang istri menikmati indahnya pemandangan langit yang cerah atas hamparan laut yang luas.


"Apakah kau menyukainya?" tanya Grey dengan senyum yang mengembang saat kini melihat ke arah hamparan. Dia membelakangi tubuh sang istri yang terduduk di sofa yang empuk lalu merentangkan tangannya dan menikmati angin yang begitu semilir.


Sementara Alicia, begitu terkejut ketika Grey sama sekali tidak membalas ungkapan perasaannya. Apakah benar suaminya itu hanya menginginkan tubuhnya saja tapi tidak mencintainya?


Alicia langsung tertawa membuat Grey pun melihat ke arahnya, sungguh dia tertawa lepas kali ini menertawai kebodohannya. Sampai-sampai Grey terpesona perihal dia tertawa lepas.


"Beautiful," gumam Grey dalam hati terus memperhatikan istrinya yang tertawa lepas. Dia ingin melihat istrinya terus tertawa saat berada di samping.


"Apa kau benar-benar senang?" tanya Grey pada Alicia yang masih tertawa lepas.


"Ya, tentu! Aku sangat senang sekali," ucap Alicia pada Grey, lalu kembali melanjutkan dalam hatinya. "Senang karena ternyata keputusanku untuk selingkuh adalah benar! Dasar bodohnya dirimu Alicia, jelas dia tidak akan membalas cintamu, dia hanya mencintai kekasihnya dan hanya menginginkan tubuhmu saja!"

__ADS_1


Grey pun duduk di samping sang istri dan memeluknya sembari berkata, "Aku ingin selalu melihat kau tersenyum di sampingku, Alicia!"


"Benarkah?" tanya Alicia yang kini mengikuti alur yang diinginkan oleh. Dia membalas pelukan Grey seakan hatinya baik-baik saja.


"Tentu!" Grey langsung mengecup kening Alicia lalu bersandar sembari menikmati udara pagi hari yang indah.


"Permisi, Tuan!" Seorang pelayan datang membawa sarapan untuk mereka berdua.


"Thanks," ucap Grey.


Kini keduanya menikmati makan pagi mereka sembari melihat hamparan laut yang luas, ditemani oleh angin semilir serta menu yang begitu menggugah.


Tiba-tiba saja di saat Grey dan Alicia menikmati sarapan mereka, Flo datang begitu saja memeluk tubuh Grey dan duduk di sampingnya.


"Grey, huhuhu ...." rengek Flo dengan manja saat belahan dada itu menempel sempurna di lengan Grey. "Grey kamu tahu, kamu janji sama aku kalau—"


Tiba-tiba Grey menutup mulut Flo dengan makanan agar berhenti bicara di depan Alicia, membuat Alicia pun kesulitan dalam menelan makanannya.


"Flo tunggu dulu sana, setelah makan baru kita bicara!" pinta Grey.


"Gak mau, dia aja suruh pergi!" ujar Flo yang menujuk ke arah Alicia dengan bibirnya.


"Flo!" tegur Grey.


"Ya sudah kalau gitu aku akan bicara saja di depan dia!" ucap Flo yang masih keras kepala.


"Peter!" ucap Grey yang memerintahkan agar Alicia mengalah sementara waktu.


"Gak mau!" tegas Alicia dengan kesal.


"Al," bujuk Grey yang memohon dan melihat ke arah asisten pribadinya. "Peter!"


Alicia hanya bergeming saat Peter menuntunnya agar dia menjauh dari Flo dan Grey, hatinya yang sedih kini sudah tidak bisa merasakan sakit setelah dia sudah mengetes sang suami.


"Ku balas kau Grey!" umpat Alicia dalam hati dan menangkis tangan Peter dengan kasar.


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2