
Di dalam kapal pesiar termewah, Peter sudah menyewa satu restoran untuk malam nanti. Di mana Grey akan mengungkapkan perasaan pada sang istri yang akan menjadi momen terindah sepanjang sejarah dirinya.
Selama ini Grey tidak pernah sedikitpun mengungkapkan rasa cinta pada wanita manapun, termasuk Flo. Terkecuali sang ibunda tercinta.
"Di mana dia, Peter? Kenapa dia tidak ada di sekitar ruangan sini? Bukankah tadi kamu bilang istriku sedang berbicara pada Mama? Kenapa tidak ada? Hah!" bentak Grey pada Peter.
"Maaf Tuan, saya akan mencarinya!" Peter langsung menundukkan kepalanya.
"Astaga!" Grey benar-benar kesal buat oleh Peter. "Cari sampai dapat, jangan sampai aku mendengar bahwa dia bersama Jacob!"
"Baik, Tuan!" ujar Peter yang langsung keluar dari ruangan privasi Grey.
***
"J, kenapa kamu bawa aku ke sini?" tanya Alicia yang bingung ketika dia baru saja selesai menelepon ibu mertuanya, tiba-tiba saja Jacob membawanya ke kamar dia yang berada di deck tiga, di bawah deck delepan posisi atas.
"Aku hanya merindukanmu!" Jacob memeluk tubuh Alicia dengan erat. Namun, tidak ada balasan dari wanita tersebut. "Al, aku sangat mencintaimu!"
Alicia termenung mendengar ucapan dari Jacob, jujur saja Alicia hanya memanfaatkan Jacob sebagai pelarian semata ketika suaminya terus memanfaatkan tubuhnya saja, sedangkan hatinya sudah memiliki sang kekasih.
"Aku tahu, aku hanyalah seorang pengawal, tapi aku juga cukup mampu membuatmu bahagia dengan harta yang tidak kalah banyak dari Grey!" tutur Jacob.
Wanita yang memiliki saudara kembar' itu masih bergeming, dia memang tidak memiliki perasaan apapun pada Jacob, justru hanya menganggapnya sebagai Kakak. Namun, melihat rumah tangganya tidak memiliki harapan karena Grey tidak mencintainya dan memiliki kekasih.
Sehingga apa salahnya Alicia membuka hati untuk Jacob yang sudah jelas mencintai dirinya? Karena cepat atau lambat suaminya akan menceraikan dia dan menikah dengan Flo—kekasihnya Grey.
"Al, apa kamu mau menikah denganku?" tanya Jacob yang melepaskan pelukannya.
Kedua mata mereka saling bersitatap, terpancar keseriusan pada wajah Jacob dengan bola mata yang berkaca-kaca. Membuat Alicia bingung sekaligus terkejut mendengar lamaran dari Jacob.
"J, aku ...." Alicia menurunkan kedua tangan Jacob dari wajahnya. Namun, tiba-tiba saja tatapan pria itu melihat ke arah bagian lehernya dan dada yang terbuka.
__ADS_1
Alicia menyadari banyak tanda milik Grey, membuat Alicia berusaha untuk menutupinya. Jelas matanya melihat air mata yang keluar dari sudut kelopak mata Jacob.
"Boleh aku menciumnya?" tanya Jacob yang meminta izin kepada Alicia, hatinya sungguh benar-benar sakit saat mengetahui bahwa semalam wanita yang dia cintai selama ini sejak lama bergulat panas dengan saingan cintanya.
Oleh karena itulah, kenapa Jacob langsung menculik Alicianya dengan menggendongnya karena tahu sang wanita kesulitan berjalan.
"I promise, just kiss!" mohon Jacob yang perlahan mendekat ke arah leher Alicia kemudian dengan sangat lembut dia mengecup di atas tanda milik Grey dengan air mata yang menetes. "Menikahlah denganku, Alicia!"
Jacob terus saja mengecup tanda-tanda yang ada di leher Alicia secara perlahan seraya mengajaknya untuk menikah dengannya, diiringi oleh tangisan bahwa dia sangat mencinta Alicia.
"J, ma–maaf, a–aku—"
Tiba-tiba saja Jacob menyambar bibir Alicia untuk menghentikan ucapannya yang dia tahu kalau wanita yang dia suka akan menolaknya, hingga kini mereka berdua terjerembap dia atas kasur dengan Jacob berada di atas tubuh Alicia.
Bibir terus menyesap meski wanita itu tidak membalas ciumannya, tapi Jacob terus menciuminya dengan tangan yang meremas kuat jemari Alicia.
Perlakuan Jacob atas cintanya membuat Alicia teringat bagaimana perlakuan Grey yang selalu membuatnya menangis, mengingat bagaimana Grey bisa bersama dengan Flo sedangkan dia berstatus istrinya.
Sampai Alicia sudah memutuskan untuk menerima lamaran Jacob dan mulai memejamkan mata, lantas membalas ciuman dari sang pengawalnya.
Namu, tiba-tiba saja saat mata Alicia terpejam, dalam ingatannya justru saat ini adalah Grey, sontak kedua bola mata itu langsung terbuka dan melihat bahwa Jacoblah yang menciumnya hingga dia pun kembali memejamkan matanya.
Akan tetapi, lagi-lagi bayangan Grey yang muncul dalam benak pikirannya membuat Alicia langsung mendorong tubuh Jacob hingga pria itu menjauh.
"Why?" tanya Jacob yang terheran melihat wajah Alicia seperti terkejut akan sesuatu.
"Maaf, J. Aku tidak bisa menerima lamaran kamu! Ma–maf, aku ... aku ...."
"It's okay, tidak untuk sekarang, i know! Aku akan bersabar sampai proses perceraian kamu dengan dia berea." Jacob kembali mendekat kepada Alicia tapi justru tanggapannya berbeda dari wanita itu.
"No! Bukan, maksud aku ... kita, lebih baik kita sudahi! Maaf, J. Kita putus!" ujar Alicia yang meneteskan air matanya dan mencoba untuk turun dari tempat tidur tapi tubuhnya dicekal oleh pria itu.
__ADS_1
"Kenapa? Aku tidak akan melakukannya saat ini? Aku sudah katakan sama kamu, just kiss! Tidak lebih!" ucap Jacob langsung panik mendengar ucapan Alicia memutuskan hubungannya.
"Aku tahu kamu tidak akan melakukannya," ucap Alicia menatap Jacob. Lantas kembali bangun tapi Jacob berhasil mengukungnya.
"Ya, terus apa alesan kamu mutusin hubungan ini?" tanya Jacob yang tidak senang. "Kasih aku alesannya, aku akan belajar untuk memperbaikinya."
"No, maaf J. Aku, aku ... aku ingin balik ke kamarku, aku sedikit lelah, nanti kita bahas lagi." Alicia bingung pada dirinya sendiri, seakan dia menyesal dan merasa atas apa yang sudah dilakukan di belakang Grey.
Apalagi saat Alicia mencoba mencium Jacob, tidak ada rasa sama sekali yang ada adalah bayangan Grey yang terus menyentuhnya membuah degup jantungnya berdebar.
"Tidak!" cegah Jacob yang masih menahan tangan Alicia. "Istirahatlah di sini! Setelah kau bangun, baru aku akan mengantarmu kembali ke kamar! Kau tidak perlu takut, aku akan jaga di luar, tidurlah!"
Jacob mengecup kening Alicia lantas keluar dari dalam kamar yang tidak terlalu besar, karena kelas ekonomi berbeda dengan deck delapan khusus bangsa para orang berbisnis.
Sementara di posisi Grey, dia begitu kesal karena Peter belum juga menemukan istrinya. Amarahnya semakin meletup ketika mengetahui bahwa Jacob tidak berada di dalam pengawasannya.
"Masa begitu aja tidak becus! Tidak mungkin tidak ada! Ini di kapal, pasti masih ada di sini!" kesal Grey yang sudah memukul Peter dengan geram. "Periksa rekaman cctv!"
Selang beberapa menit Grey memastikan dengan sendiri, melalui kedua bola matanya dia melihat bagaimana Alicia tengah berbicara melalui telepon genggam, lantas terhuyung saat ingin kembali ke kamar.
Pada saat itu juga Jacob datang untuk memapahnya berdiri dan membantunya untuk duduk di kursi, tetapi dengan beraninya Jacob justru memijat bahu dan kepala Alicia. Apalagi selang beberapa menit pengawal itu menggendongnya pergi dari sana.
Api yang sudah berkobar semakin besar, saat Grey mengetahui bahwa Jacob membawanya ke deck tiga bukan kembali ke dalam kamarnya, membuat didihan dalam emosinya semakin bergejolak hingga dia pun tanpa sadar melukai telapak tangannya akibat remasan sendiri.
"Breng sek!" Grey langsung menuju deck tiga yang diikuti oleh Peter secepat kilat.
Sampai di deck tiga, Grey bergegas cepat menuju kamar yang sudah dia ketahui. Matanya melihat sosok pria yang berbicara pada seorang pelayan kapal pesiar dan membawa makanan.
Tanpa basa-basi lagi Grey langsung memberikan satu pukulan pada Jacob hingga pria itu tersungkur ke bawah dengan piring makanan yang terjatuh, sontak pelayan kapal menjerit ketakutan dan berlari dari sana tapi Peter langsung mengurusnya agar tidak menimbulkan sebuah keributan besar.
"Dia mana?" tanya Grey dengan dingin saat berdiri tepat di samping Jacob yang terjatuh, tidak ada jawaban dari pengawal itu, Grey langsung membuka pintu tapi terkunci. "Buka pintunya!"
__ADS_1
Jacob langsung bangun lalu menghadang Grey di depan pintu. "Dia tidak ingin diganggu! Dia sedang tidur!"
Grey yang mendengar ucapan dari Jacob kembali melirik dan langsung memukulnya tapi secepat mungkin Jacob menangkisnya, membuat kedua bola mata mereka saling bertatapan memancarkan percikan api permusuhan.