
Seorang wanita cantik yang terbaring lemah di atas tempat tidur mulai membuka matanya secara perlahan, dia menggerakkan kepalanya dengan sangat pelan seraya mengangkat tangan yang terinfus oleh selang.
Setelah matanya terbuka, ingatan dalam memori tertuju pada adegan di mana Jacob ditembak oleh Grey. Ya, Alicia langsung terbangun seraya berucap, "J!"
Pandangan pertama kali yang dilihat oleh Alicia adalah sang suami, di mana pria itu tengah duduk di kursi sofa tepat berada di depannya seraya menatapnya dengan sinis.
"Pembunuh, dasar monster, psikopat!" Alicia melempar bantal dan selimut ke arah Grey dengan luapan emosi yang menjadi-jadi. "Aku benci sama kamu, aaakhh!"
Grey terdiam tidak menanggapi ucapan makian seraya menghindar dari serangan amukan Alicia saat langkah kakinya mendekat ke arah sang istri, dia masih menyimpan rasa emosi cemburu besar atas rasa sakit yang dia dapat ketika mengetahui bahwa sang istri telah menghianati dirinya.
"Mau apa kamu! Ah? Mau membunuhku, juga?" tanya Alicia dengan ketus.
Grey langsung mencengkram kuat rahang Alicia saat wajahnya menahan emosi. "Kau buatku marah Alicia! Aku akan membunuhmu atas pengkhianatan yang kau lakukan dibelakangku, tapi nanti setelah kau melahirkan anak-anakku!"
Alicia menepis tangan Grey dari wajahnya kemudian dia berkata, "Jangan harap aku mau memiliki anak dari seorang pembunuh sepertimu!"
Alicia mencabut selang infusannya kemudian mencoba untuk turun dari atas tempat tidur, tetapi Grey yang marah mendengar ucapan dirinya langsung menarik tubuhnya hingga kembali terjerembab di atas kasur empuk itu.
"Kau!" bentak Grey yang kini berada di atas Alicia dengan tangan yang mencekal kedua tangan Alicia. "Kenapa? Apakah dia lebih tampan dariku? Lebih kaya dariku? Lebih segala-galanya dariku? Sampai kau begitu mencintainya? HAH!"
"Setidaknya dia memiliki hati yang baik, tidak sepertimu!" ujar Alicia menatap Grey tanpa takut.
"Hahahah, hati baik? Apakah selama ini aku kurang memperlakukanmu dengan baik? Sampai kau menjadi wanita murahan yang berselingkuh dengan pengawalannya sendiri?" tanya Grey yang tertawa menyeramkan dengan luapan emosi.
"Memang kenapa dengan seorang pengawal? Jangan terlalu egois jadi orang, Tuan Grey! Pernikahan kita karena paksaan, kamu sendiri yang tidak mencintaiku dan mempunyai kekasih hatimu yang kau cintai, jadi ... apa aku salah, memiliki hubungan dengan pria yang mencintaiku?" tanya Alicia dengan mata yang berkaca-kaca.
"Cih! Mencintaimu? Apa kau yakin Alicia? Kau dan temanmu itu mirip, siapa tahu yang dia cintai adalah Alice sedangkan kamu hanyalah pelampiasan cinta di saat Alice sudah memiliki kekasih, dasar bodoh!" sindir Grey dengan senang.
__ADS_1
"Ya, aku memang bodoh, karena itu ceraikan aku, kamu pasti tidak mau kan, anakmu lahir dari perempuan bodoh sepertiku? Jadi lepaskan aku! Sekarang hubungan kita sudah berakhir Tuan Grey!" Tatap Alicia dengan dingin lantas mendorong dengan kencang.
Namun, tubuh Grey sangat kuat membuat dia sulit untuk menyingkirkan suaminya dari atas tubuhnya di saat kondisinya yang masih lemah.
"Cerai? Sampai kapanpun aku tidak akan menceraikanmu, Alicia! Kau akan tetap menjadi milikku!" Grey langsung mencium bibir Alicia secara paksa meski istrinya terus menghindar, sampai tangan kekar satunya lagi menahan rahang sang istri agar tidak bergerak.
Tangan kekar satunya lagi menahan dan mencengkeram kuat pergelangan tangan Alicia, sedangkan bibirnya terus menyesap bibir merah merona yang menjadi candunya.
Ciuman itu pun berlanjut menelusuri setiap inci tubuh dari Alicia, meski telinganya mendengar cacian dan makian dari sang istri. Akan tetapi, Grey tetap menjelajahi dengan bibirnya sesuka hati.
"Sejauh mana hubungan kalian dibelakangku, hah!" bentak Grey yang membuka paksa baju Alicia dan kembali mencumbunya. "Apakah kalian pernah melakukan ini? Atau seperti ini?"
Grey semakin menggila dengan luapan emosi saat membayangkan Alicia bercinta dengan pria lain, membuat dia lepas kendali dan mencumbu sang istri dengan kasar.
"Bajingan kamu, Grey! Aaakh ... sakit!" keluh Alicia ketika Grey begitu kasar bahkan tidak segan-segan mengigitnya hingga berbekas.
"Sakit? Apakah dia tidak pernah melakukannya dengan secara kasar?" tanya Grey saat ini dia turun ke bawah bermain sepuasnya sesuka hati usai membuka seluruh pakaian Alicia.
"Kenapa diam? JAWAB! Apakah dia melakukannya seperti ini padamu?" Grey memporak porandakan seluruh tubuh Alicia saat bibir dan tangannya sesuka hati bermain di bawah sana.
Alicia hanya bisa menggelengkan kepala seraya menutup mulutnya sendiri, agar tidak mengeluarkan suara yang membangkitkan Grey lebih gila lagi.
"Katakanlah dengan jujur apakah kalian juga melakukan hal ini?" tanya Grey saat kembali berada di atas tubuh Alicia dan berhasil menyatuka dirinya.
"Aaammp!" Alicia merasakan sakit luar biasa meski Grey sudah memberikan pemanasan yang memaksa, dia menggelengkan kepala sebagai jawabannya.
"Benarkah?" tanya Grey yang mulai menggerakkan pinggulnya, matanya melihat anggukan dari Alicia sebagai tanda jawaban bahwa dia benar-benar jujur tidak melakukan seperti itu dengan Jacob, membuat Grey tersenyum tipis. "Aku akan percaya dengan kamu setelah kau menciumku!"
__ADS_1
Alicia masih menangis merasakan perih di bawah sana, dia mengalungkan tangan di leher Grey lalu menyesap bibir tebal itu dengan lembut, membuat sang empu sedikit bernapas lega.
"Aku berharap kau tidak membohongiku, Al!" bisik Grey yang membalas ciuman Alicia.
"Aku mohon padamu Grey, tolong lembutlah sedikit!" pinta Alicia memohon yang berbicara di telinga Grey saat dia masih merasakan perih yang teramat dalam.
Grey tidak menggubris ucapan Alicia, dia bahkan sesuka hati mengubah posisi tanpa berdiskusi terlebih dahulu. Tamparan kuat pada bokongnya menjadi cambukan penambah hasratnya sendiri.
Alicia mencengkram kuat sprei dengan raut wajah yang menahan rasa sakit, air matanya terus keluar sebagai saksi betapa sadisnya Grey menyerang tubuhnya tanpa ampun.
"Grey, ampun! Sakit ...." keluh Alicia yang memohon tapi suaminya asyik dengan dunianya tanpa rasa ampun.
Alicia benar-benar pasrah saat berada di kendali suaminya tersebut, tubuhnya bergetar hebat bersamaan tempat tidur yang berderit.
Suara Grey yang terus merancau memuja saat dia merasakan apa yang dia rasa, membuatnya semakin melambung tinggi.
"I want to go out, Honey! Sebut namaku, Al!" pinta Grey yang semakin mempercepat gerakannya. "Alicia!"
"Keenan!" ucap Alicia bersamaan sebuah hentakan dalam di bawah sana.
Sehingga terdengar suara lolongan panjang yang keluar dari mulut Grey di telinga Alicia, lantas merasakan meremas kencang di bagian dadanya ketika dia menyebut nama sang suami.
Grey mematung beberapa detik usai mengeluarkan kecebong premium miliknya, deru napasnya masih tidak beraturan, dia memandang tubuh polos Alicia yang membelakangi dirinya.
Grey tersenyum puas, ketika tubuhnya benar-benar merasakan lelah dan tumbang di atas punggung Alicia. Tangannya merapihkan rambut yang menutupi pipi mulus itu dan melihat sang istri sudah memejamkan matanya.
Tubuh kekar itu pun menggeser posisinya di samping sang istri saat tangan Grey menarikan agar Alicia masuk ke dalam pelukannya.
__ADS_1
Grey mengecup kening sang istri seraya berkata, "I love you, Al! I love you."
Alicia yang sudah memejamkan mata, langsung membuka matanya kembali saat mendengar ucapan dari Grey, dia melihat suaminya yang kini memejamkan matanya.