Wanita Tawanan Tuan Grey

Wanita Tawanan Tuan Grey
Rasa Cemburu Jacob


__ADS_3

Pukul tujuh pagi, Alicia sudah menyiapkan makanan sekaligus merapihkan barang yang akan dibawa oleh Grey untuk pergi selama tiga hari. Semua sudah dimasukan ke dalam koper dengan rapih.


"Selama aku pergi, tidak boleh ada yang masuk ke dalam apartemen. Tidak boleh pergi tanpa seizinku, mengerti?" ancam Grey saat Alicia memasangkan dasi padanya.


Alicia hanya terdiam tidak menjawab ucapan Grey, dia terus melayani sang suami dengan memakaikan jas pada tubuh kekar di depan matanya. Setelah mereka baru saja makan bersama.


Setelah selesai memakaikan, Alicia melangkahkan kakinya satu langkah tetapi, tangannya dicegah. Grey memberikan tatapan tajam ke arahnya membuat dia mengerti bahwa sang suami menunggu ucapannya.


"Siapa aku yang tidak menuruti perintah majikannya?" ucap Alicia dengan wajah datar serta suara pelannya.


Grey langsung terkekeh mendengarnya lantas menarik Alicia agar lebih dekat, dia pun melihat bercak merah di leher Alicia akibat ulahnya kemarin. Lantas mengecup bibir ranum itu secara perlahan.


Kecupan yang membuat Alicia selalu kebayang bagaimana panasnya pergulatan bibir sang suami dengan wanita lain, sampai dia pun berusaha untuk menghindar. Namun, Grey masih terus menahan dan menguncinya.


Sehingga Alicia pun tidak bisa berkutik sama sekali, hanya bisa pasrah mendapat serangan dari suaminya yang semakin lama semakin panas, walaupun dia tidak membalasnya.


"Balas atau aku melakukannya sekarang?" ancam Grey pada Alicia.


Alicia pun membalas setiap kecupan Grey bahkan dia berpikir untuk bisa melakukannya pada sang suami dengan memancing gairah agar Grey tidak berangkat, tangannya menyentuh titik-titik sensitif pada Grey membuat sang empu pun menunjukkan wajah yang sudah bisa tertebak.


Namun, tiba-tiba saja Grey menghentikan permainan secara sepihak di saat Alicia juga sudah ikut terbakar oleh gejolak hasrat yang dia buat.


Grey tersenyum ketika sang istri sudah bisa membuatnya senang, dia mengecup kening putih mulus itu lalu berkata, "Bersabarlah menungguku pulang! Kita akan pergi bulan madu ketempat yang kau mau. Aku menyukainya!"


Usai mengedipkan satu mata Grey langsung menjauh dari Alicia, mengambil jam tangannya untuk dia kenakan tetapi tiba-tiba saja tubuhnya mendapatkan pelukan dari belakang.


"Boleh aku ikut?" tanya Alicia yang memohon. "Aku janji tidak akan merepotkanmu di sana atau membuatmu malu!" ucap Alicia yang ingin terus mencoba kembali sebelum api yang dia nyalakan semakin besar.


Grey menghela napasnya secara pelan, belum sempat dia menjawab ucapan Alicia ponselnya sudah berdering lebih dulu. Tertera nama Flora yang menghubunginya, dia pun langsung mengangkat telepon itu dan melepaskan tangan Alicia dari tubuhnya.


Grey sedikit menjauh dari Alicia, kemudian berbicara pada Flora yang Alicia sendiri juga mengetahui bahwa telepon itu dari wanita simpanan Grey.


Alicia pun menelan saliva dengan susah, sepertinya memang dia tidak ada gunanya berjuang sendiri, toh pada akhirnya dia juga yang mengalah meski Grey juga tertarik dengannya.


"Ayo, Alicia jangan bodoh! Walaupun Grey suka denganmu tetap saja kamu harus membagi hati kamu dengan wanita itu, karena yang ada di hati Grey bukan kamu, melainkan wanita yang bernama Flow," ucap Alicia dalam hatinya.


Setelah berbicara melalui telepon genggam Grey langsung berpamitan kepada Alicia, dia mengecup kening sang istri lalu keluar dari dalam apartemennya.

__ADS_1


Sementara Alicia, belum lama Grey pergi dia mendapatkan telepon dari Alice. Dia harus bergegas memenuhi janji pada wanita yang mirip dengannya, tanpa banyak pikiran lagi Alicia langsung menjalankan sesuai dengan kesepakatan bersama Alice.


"Apakah sudah siap?" tanya Jacob ketika barang-barang Alicia sudah dia masukan ke dalam bagasi mobil.


Alicia tidak menjawab pertanyaan Jacob karena saking terkejut dan melihat mobil Ferrari yang bertengger di depan matanya, sungguh menakjubkan bagi dirinya yang bingung melihat sosok Jacob, siapa sebenarnya dia?


"Al, are you oke?" tanya Jacob yang membuyarkan lamunan Alicia.


"Yes, siap!" jawab Alicia yang memasang wajah senyumnya.


"Ok, kalau begitu waktunya berangkat Tuan Putri Alicia!" Jacob membuka pintu untuk Alicia lalu memasangkan sabuk pengaman. "Ok, kita let's go!"


Jacob melajukan mobil menuju tempat tujuan, selama perjalanan Alicia membebaskan pikiran mengenai tentang Grey, membiarkan sang suami dengan wanita lain sedangkan dia juga berhak bahagia bersama pria yang mencintai dirinya.


"Al, apa ingin merasakan bebas dalam penatmu?" tanya Jacob saat mobil mereka kini memasuki area pinggir laut.


"Maksudnya?" tanya Alicia masih bingung dengan ucapan Jacob.


Apalagi ketika Jacob malah tertawa sembari memencet tombol, membuat Alicia tambah bingung. Namun, beberapa detik kemudian dia melihat atap mobil terbuka lebar membuat dia takjub melihatnya.


"J?" Alicia sungguh norak dalam hal baru saat melihat dengan mata kepala sendiri mobil itu bertransformer membentuk mobil yang sangat keren dengan atap terbuka.


"Aaakkkkkkk!" teriak Alicia ketika sudah berdiri dan merentangkan tangannya menikmati semilir angin pesisir pantai.


Jacob pun tertawa melihatnya, segurat senyuman kebahagiaan terlihat jelas di raut wajah Alicia, membuat dia senang. Dia berharap secepatnya Grey menceraikan Alicia hingga dia bisa merebut Alicia dengan mudah.


Angin semilir pun menyambut ramah kulit putih mulus Alicia, sampai syal yang menyangkut di lehernya untuk menutupi bercak merah terlepas terbawa angin.


Alicia pun mencoba menggapai tetapi tetap saja lepas, saat tubuhnya melihat ke arah belakang ke mana perginya syal milik dia yang terbawa angin.


"Alicia, biarkan saja!" ucap Jacob yang menahan tangan Alicia agar tidak mengambil syal yang terlepas.


Sontak Alicia menutupi lehernya dengan tangan ketika dia duduk kembali, seketika dia berubah menjadi diam karena takut Jacob melihat tanda kepemilikan yang Grey buat.


Sebelumnya Alicia sudah mengoleskan foundation untuk menutupi tanda itu saat pergi berkencan dengan Jacob, tetapi saat ini dia hanya mengakalinya dengan menutupi menggunakan syal.


Jacob yang menyadari sikap aneh Alicia, langsung mengehentikan mobilnya di pinggir, kemudian membuka tangan Alicia secara perlahan. Melihat tanda kemerahan di leher putih mulus itu.

__ADS_1


Melihat wanita yang dia cintai hanya terdiam, Jacob memasang senyumnya lalu berkata, "Jangan ditutupi, meski aku cemburu melihatnya tapi aku tidak akan marah! Jadi kamu tidak perlu takut, ok?"


"Kecuali, kalau aku yang buatnya? Kira-kira, apakah kamu akan menyembunyikan tandanya?" Jacob mendekat ke arah Alicia kemudian mengecup leher dengan sedikit hisapan membuat dia meringis kesakitan.


"Akkk, J!" bentak Alicia yang langsung mendorong tubuh pria itu. "So–sorry!"


Ada sedikit sakit di relung hati Jacob saat Alicia menolaknya, tapi dia menepis pikiran buruk karena Alicia meminta maaf atas penolakan untuk dia.


Bergegas Alicia membalikan kaca spion atas untuk melihat lehernya, ternyata sama sekali tidak ada bekas tanda dari Jacob, yang ada tanda merah yang dibuat oleh Grey semakin besar.


"Apa kamu tidak senang?" tanya Jacob yang kini kembali menjalankan mobilnya.


"J, aku tidak mau membahasnya," ucap Alicia yang kembali dengan mode diam.


"Kalau begitu jangan buat aku cemburu lagi Alicia! Kalau dia meminta haknya, tolong tolak demi aku, kalaupun tidak bisa menolaknya, jangan pernah tunjukkan padaku, atau gak aku pun akan sama melakukannya seperti dia melakukannya padamu!" ucap Jacob dengan sedikit mengeraskan suara sembari mencengkram setirnya dengan kencang.


Mobil pun melaju sampai ke tempat tujuan, di mana kini Alicia sudah berganti penampilan seperti Alice datang memasuki kapal pesiar yang super mewah bersama Jacob yang menyamar sebagai asisten barunya.


Mereka di sambut hangat oleh kedua sepasang kekasih yang menjadi orang tua Alice saat memasuki ruangan dalam kamar kapal pesiar, Alicia terkejut bukan main saat pertama kali melihat raut wajah ibunya. Tubuhnya mematung ketika mendapatkan pelukan hangat dari wanita paruh baya itu.


"Welcome anak Mommy, akhirnya datang juga! Bagiamana, capek ya? Sini kita duduk dulu!" ajak wanita yang menjadi ibu kandung Alice.


Alicia hanya tersenyum membalas pelukan hangat dari wanita itu dan mengikuti ke mana dia akan duduk, sedangkan Jacob menunggu diluar.


"Ya ampun Alice, Daddy pikir kamu itu gak jadi ikut! Hampir Daddy membatalkannya," ucap Pria yang menjadi ayah sambung Alice. "Kamu sudah makan? Oh iya hampir lupa, katanya kapal akan dipending beberapa jam karena ada sesuatu kendala!"


"What? Bagaimana bisa?" kesal Delmora—Ibunya Alice


"Ya, Daddy tidak tahu alasannya kenapa, tadi kalau tidak salah ada beberapa pembisnis yang memiliki kendala dalam perjalanannya, mungkin sekitar sepuluh menit lagi!" jawabnya.


Sementara di posisi lain, Grey merasa kesal ketika mobilnya menabrak tiang listrik hanya gara-gara pendanaannya terhalang oleh sebuah kain panjang bercorak bunga.


"Brengsek! Cuma gara-gara ini syal kita datang terlambat!" Grey meremas syal yang menyangkut di kaca mobilnya. "Bagaimana?"


"Saya sudah memberitahu pada pihak yang bersangkutan, bahwa mereka memberi kita waktu selama sepuluh menit untuk sampai di kapal pesiar!" ujar Peter yang turun tangan mengatasi masalah yang di alami Grey.


"Grey, bagaimana? Udah bisa jalan mobilnya?" tanya Flora yang masih berada di dalam mobil.

__ADS_1


Grey yang mendengar teriakan dari Flora melirik ke arah Peter, kemudian menyuruh untuk bergegas jalan kembali menuju kapal pesiar.


To be continued...


__ADS_2