
Grey melempar tatapan sinis ke arah Nicholas, begitu juga dengan pria berambut pirang bagian atas tengah yang menjadi rivalnya sejak lama, sedangkan Alice yang tidak terlalu kenal dengan dia hanya bersikap biasa saja karena memang keduanya sangat jarang sekali bertemu.
Alice hanya mengetahui bila Nicholas sangat tidak menyukai Grey, hanya sebatas itu dan ini kali pertama mereka bisa berdekatan satu sama lain. Raut wajah tunangannya pun terlihat jelas menatap pria yang memiliki karakter rahang yang tegas, hidung mancung dan memiliki cambang tipis menyatu dengan jenggot dengan tatapan tidak suka.
Dion pun memanggil beberapa pelayan untuk mengambilkan mereka minuman, sedangkan dia berpamit untuk pergi sebentar ke arah panggung bersama sang istri ketika salah satu guru yang membawakan acara tersebut menyuruhnya untuk segera memulai acara.
"Saya tinggal dulu sebentar, Tuan, Tuan dan Nona! Saya berharap tidak akan terjadi kejutan besar di ulang tahun perusahaan saya!" sindir Dion pada kedua sahabatnya.
Kedua temannya hanya bisa tersenyum ke arah Dion dan mempersilahkan sahabatnya itu untuk melanjutkan puncak acara. Di mana setiap susunan acara dimulai, baik itu Grey maupun juga Nicholas keduanya masih dengan aura yang dingin mencekam tetapi tidak menimbulkan efek kegaduhan.
Berbagai acara pun telah dilalui hingga sampai dipuncak acara yaitu pemotongan kue tart, Dion beserta sang istri begitu terlihat mesra saat memotong kue dengan enam tingkat. Membuat semua bersorak dengan suara tepukan tangan yang meriah.
"Wooww!" teriak Alice ketika dia juga ikutan memberikan tepukan meriah kepada kedua pasangan suami istri tersebut.
Grey terus memperhatikan bagaimana wanita itu sedikit berbeda dengan tingkahnya, sedikit berani tidak ada sorot mata yang ketakutan saat bertatapan dengannya dan terlihat asing di matanya, jauh berbeda ketika melihat wanita yang sudah dia renggut kehormatannya, rasa takut dan juga sikap lugunya membuat Grey tertantang untuk terus memilikinya.
Ya, wanita yang ada di hadapan Grey saat ini sangat jauh berbeda bertolak belakang dengan wanita yang dia kenal dalam sehari, dia melihat wanita berambut pirang tersebut seperti seseorang yang tidak pernah bertemu sama sekali dengannya. Entah kenapa perasaannya mengatakan seperti itu, dia pun ingin memastikan sesuatu dengan bantuan asisten pribadinya.
Peter langsung menjalankan tugasnya sesuai perintah dari Grey, dia pun bangun dari tempat duduknya tinggalkan meja bundar besar, saat semua orang masih sibuk dengan arah pandang ke arah Dion dan juga sang istri.
__ADS_1
"Sayang, aku mau deh nanti di acara pernikahan kita ulang tahunnya 22 tingkat, kan pas sama ulang tahunku!" pinta Alice pada Nicholas, meski suara wanita itu terdengar pelan oleh telinga Grey di keramaian orang-orang yang masih bersorak ria. Namun, berhasil membuat Grey tidak senang.
"Of course, tentu saja! Apa yang tidak untukmu Sayang!" sahut Nicholas pada Alice, dia memegang dagu wanita tersebut lalu mengecupnya sekilas di depan Grey. Membuat hati pria yang berada di depan mereka terbakar oleh api cemburu.
"Breng sek! Liat apa yang aku lakukan padamu Alice! Aku akan membuat kau susah untuk berdiri walaupun bergerak sekalipun di tempat tidur!" Grey meremas gelas berisi anggur yang dia goyangkan dengan kasar, hingga tercipta percikan anggur mengenai taplak meja berwarna putih.
"Sayang, tunggu sebentar ya!" Nicholas menjawab telepon lalu meninggalkan Alice berdua dengan Grey ketika dia terpaksa harus mengangkat sambungan telepon dari clien penting.
Melihat Peter sudah menjalankan aksinya, kini bagi Grey menjalankan tugasnya untuk mengetes wanita yang ada di depannya. Agar kecurigaannya benar bahwa dia tidak salah menilai seseorang.
"Ehem, apa kabar Nona Alice?" tanya Grey berbasa-basi. Namun, dirinya tidak digubris sama sekali, sampai dia pun memberikan umpatan pada wanita tersebut dalam batinnya, "Si al!"
Tidak mau pantang menyerah, Grey langsung menegurnya sekali lagi. "Aku dengar, kalian akan melangsungkan pernikahan tahu depan? Apakah benar? Kalau benar ... sungguh kasian yang ingin menjadi suamimu!"
Awalnya Alice sama sekali tidak ingin menjawab apapun yang ditanyakan oleh Grey karena dia yakin Nicholas pasti sangat tidak senang bila dia berkontak dengan seseorang yang tidak disukai oleh tunangannya.
"Maksud saya, saya tidak bisa menjamin bila kamu terus melangsungkan pernikahan dengan orang seperti Nicholas! Karena dia sama sekali bukan tipikal orang yang suka dengan barang bekas!" Pancing Grey dengan raut wajah sama sekali tidak menunjukkan ekspresi apapun.
"Kurang aja!" Alice langsung melempar anggur tepat di wajah Grey dengan sorot mata yang penuh dengan emosi. Wanita itu menggebrak meja mendekat ke arah laki-laki itu sembari berkata, "Asal kamu tahu, dialah orang yang pertama dan sampai saat ini yang tahu seluk-beluk keluar dalam! Jadi jangan pernah asal bicara kalau tidak tahu urusan orang!"
__ADS_1
Deg, pancingan tepat sasaran. Kini Grey tahu bahwa wanita yang ada di depan matanya bukanlah wanita yang sama persis dengan wanita yang dia tiduri, sorot mata Alice sangat berani meski terdapat kesamaan dengan wanita yang selalu menunduk saat beradu tatapan dengan matanya.
Kecurigaan Grey terbukti sudah, bahwa wanita itu bukan orang yang dia cari. Akan tetapi, dia ingin membuktikannya sekali lagi, kali ini tangannya nekat membuka baju Alice bagian lengan yang diturunkan secara paksa karena model baju yang dipakai Alice adalah model baju yang memperlihatkan bahu.
"Baji ngan!" Alice menampar pipi Grey dengan kencang dan menjambak rambut itu yang kemudian ditariknya dengan sangat kencang, hingga menimbulkan suara kegaduhan pada meja urut nomor delapan.
Grey langsung terkejut ketika wanita itu tidak memiliki tanda lahir sama sekali di bagian dada sebelah kiri, karena dia tahu betul bila wanita yang dia tiduri itu memiliki tanda lahir seperti burung di bagian dadanya sebelah kiri.
"Aaakkhh, sakit! Pe–peter!" Grey mencoba melepaskan cengkraman rambut dari tangan Alice tetapi tidak bisa karena cengkraman itu begitu kuat Saya akan menggunakan tenaga dalam.
Tentu saja semua orang pun langsung melihat ke arah kegaduhan yang diciptakan oleh Alice dan juga Grey, membuat Nicholas langsung menghampiri mereka berdua dan bertanya kepada tunangannya tersebut.
Nicholas langsung menarik baju Grey untuk dibawa ke sebuah halaman luas di mana hanya ada mereka berdua yang ditemani oleh lampu-lampu penerang taman sekitar paviliun milik Dion.
Di sana Nicholas langsung menghajar habis-habisan ke arah Grey melepaskan hawa nafsu dan amarahnya, tidak bisa dipercaya bila Grey nekat berbuat asusila terhadap kekasihnya.
"Apa yang sudah lo lakuin, anak haram? Hah!" Ucap Nicholas dengan sangat kecewa, lalu berteriak.
Grey tidak terima dengan ucapan Nicholas baik dari dulu maupun sekarang dia langsung menghajar Nicholas membabi buta, sampai sebuah peringatan dari keamanan pihak acara, memperingati mereka berdua, tetapi keduanya masih terus memberikan pukulan terhadap satu sama lain
__ADS_1
"Bangsat! Gua nggak pernah mengusik kehidupan lo, Anjing!" Ucap Grey yang begitu sarkas. "Lo selalu mengambil apapun yang gua punya! Kenapa Lo? Sirik?"
To be continued....