
Selama semalaman Grey tidak pulang sama sekali, meskipun Alicia tahu bahwa suaminya pergi menemui seorang wanita yang dia dengar saat percakapan melalui telepon.
Akan tetapi, Alicia mencoba untuk tidak peduli meskipun tindakan yang dilakukan bertolak belakang dengan perasaan yang dia rasakan.
"Ya Tuhan, susah banget buat tidur meremin mata! Sabar Alicia ... sabar!" Alicia melempar bantalnya lalu bangun dari tempat tidur, dia bergegas pergi ke arah dapur mengambil air minum sembari melihat jam dinding yang menunjukkan pukul sebelas malam.
Perut yang keroncongan pun, mengusik dirinya. Alicia memutuskan untuk pergi keluar mencari makanan, sebelum itu dia ingin mengirim chat pada Grey tetapi dia batalkan.
Alicia keluar dari dalam apartemen lalu masuk ke dalam lift, dia memencet tombol dasar dan menunggu pergantian sampai lift berada di dasar lantai.
Begitu pintu lift terbuka Alicia berjalan ke arah luar apartemen, di mana masih banyak orang-orang yang berlalu lalang. Dia pergi ke sebuah mini market yang tidak terlalu jauh dari apartemennya.
Langkah kaki Alicia menuju tempat cemilan makanan dan air minum, dia mengambil beberapa untuk dibawa pulang. Langkahnya sempat berhenti ketika berada di etalase mie, dia tersenyum mengingat siang hari bersama Grey.
"Lupakan Al," tegur Alicia pada dirinya sendiri.
Setelah beberapa beberapa menit, Alicia pun kembali menuju apartemennya. Namun, pada saat jalanan berubah sepi, dia merasa ada yang mengikutinya dari tadi.
Langkah pun dipercepat oleh Alicia, perasaan deguk jantungnya tidak karuan saat dia berniat ingin menelpon Grey tetapi tidak ada respon sama sekali dari sang pemilik nomor.
Alicia berpikir bahwa orang yang membuntutinya adalah mata-mata dari seseorang yang pernah merenggut kehormatannya, karena itu rasa ketakutannya semakin tinggi.
"Ya Tuhan, lindungilah aku!" Alicia masih terus menghubungi Grey tetapi tetap saja nomornya tidak di angkat meski aktif.
Sampai pada tikungan, Alicia dikejutkan oleh orang yang kurang waras dan menghadangnya sembari berteriak. "Haaaaa!"
"Aaakkkhh!" Alicia menjerit ketakutan, tidak peduli kalau barang belanjaan yang dia beli jatuh berantakan ke aspal dia langsung bergegas menjauh dari orang tersebut.
Langkah kaki yang begitu cepat menghindar dari kejaran orang yang tidak dikenal, membuat detak jantung berpacu lebih cepat dari biasanya, keringat pun bermunculan di kening Alicia dengan deru napas yang tersengal.
"No! Please ... no!" ujar Alicia ketika dia masuk ke dalam gang buntu di mana hanya ada tumpukan tong sampah besar dan pagar besi.
"Ahhha ... jangan nangis! Aku punya sesuatu untukmu, mau liat? Aku buka ya," ucap pria itu yang hanya memaki blezer bersiap membuka dan memperlihatkan pada Alicia. "Satu ... dua ...."
"No!" teriak Alicia yang menangis sembari menutup wajahnya.
__ADS_1
"Tiga!" lanjut pria itu berucap, kemudian mendapat bekapan dengan kain yang diikat ke lehernya sembari diseret menjauh dari Alicia.
Selesai menyeret pria yang kurang waras, orang tersebut berjongkok di depan Alicia sembari mengelus rambut panjang itu Samapi suara teriakan pun terdengar jelas.
"Tolong ... to—"
"Ini saya, Nyonya. Jacob!" Jacob langsung membek tuungguap mulut Alicia agar tidak berteriak mengundang kegaduhan. "Buka mata Nyonya!"
Alicia perlahan membuka mata dan melihat ke arah Jacob yang sudah berada di hadapannya, dia meneteskan air mata melampiaskan rasa takutnya.
Jacob pun langsung menarik tubuh Alicia untuk berada di dalam dekapannya. Elusan serta kecupan lembut tidak lupa dia berikan agar Alicia berhenti menangis dan gemetar.
"Tenang, Nyonya! Saya akan selalu ada melindungimu!" ujar Jacob yang mengeratkan pelukannya.
Begitu terasa hawa ketakutan yang meliputi diri Alicia, terlihat wajah pusat pasir menaungi pesona kecantikan wanita yang sudah beristri tersebut. Sebisa mungkin Jacob memberikan rasa nyaman agar wanita tersebut bisa tenang.
"Kita pulang!" ujar Jacob.
Alicia langsung digendong oleh Jacob ala bridal style untuk masuk ke dalam mobil, dia memasangkan sabuk pengaman pada majikannya kemudian melajukan mobilnya ke sebuah apartemen.
"Thanks!" ucap Alicia yang menyandarkan kepala ke kursi sandar. tatapan matanya masih kosong saat air mata masih terus keluar dari bola matanya.
"Nyo—"
Niat hati ingin membangunkan Alicia tetapi Jacob urungkan ketika melihat wajah teduh pada wanita beristri tersebut, hingga dia pun membukakan sabuk pengaman.
Jarak wajah yang begitu dekat membuat degub jantung Jacob bertalu dengan kencang, desiran aneh pun mengalir ke saraf-sarafnya saat hembusan napas Alicia terasa di hidungnya.
Sampai tanpa Jacob sadari, sorotan matanya terfokus pada bibir ranum Alicia. Lambat Laun dia mendekat secara perlahan dengan jarak yang begitu tipis antara bibirnya dan bibir Alicia.
Saliva pun turun begitu sulit, saat bibir itu semakin mendekat. Namun, sebuah notifikasi menyadarkan Jacob sehingga pria yang berstatus bodyguard Alicia itu hanya tersenyum atas hasratnya.
Jacob langsung menggendong Alicia masuk ke dalam apartemen dan merebahkan ke atas tempat tidur di mana dia mengetahui bahwa Alicia tidur terpisah dengan Grey bahkan kata sandi pun Jacob tahu.
Begitu keluar dari pintu apartemen Alicia, langkah kaki Jacob melangkah ke arah samping menghampiri pintu yang bersebelahan dengan apartemen milik Alicia dan juga Grey.
__ADS_1
Jacob masuk ke dalam lalu pergi ke arah kamar mandi membasuh tubuh untuk menetralkan hawa panas dalam dirinya, dia mengerang saat pikirannya terus terfokus pada kehangatan tubuh Alicia.
"Aah, Alicia!" Jacob memejamkan matanya membayangkan wanita itu. "Sabar, J ... enam bulan lagi kau bisa merebutnya dan menjadikannya milikmu!"
Jacob sangat menyukai panggilan nama yang diberikan untuknya dari Alicia, dia tersenyum lalu melanjutkan kembali sesi membersikan seluruh tubuhnya.
***
Pagi hari pun tiba, matahari telah menyambut bumi dengan semangat. Alicia yang terbangun dari tidurnya merasa pusing, mungkin karena kejadian semalam membuat tubuhnya sedikit lelah.
Akan tetapi, kenapa Alicia bisa berada di dalam kamarnya? Apakah Grey sudah pulang? Alicia langsung bergegas pergi ke kamar Grey tapi alangkah kecewanya dia saat mendapati orang yang dia cari tidak ada sana.
"Apa dia tidak pulang? Terus, siapa yang—"
Ucapan alis yang langsung terfokus pada bodyguard-nya, dia menebak bawa Jacob orang yang masuk ke dalam apartemen selain Grey.
"Apa mungkin dia?" tanya Alicia dalam hatinya sendiri.
Alicia bergegas mandi, tubuhnya dia bersihkan secara sempurna membuat lengkungan pada sudut bibirnya tercipta. Alicia menertawai dirinya sendiri ketika pikiran dia mengatakan agar Grey bisa menyentuhnya.
"Alicia! Sadar, jangan berharap bisa disentuh! Mungkin iya, tapi apa kamu tahu konsekuensinya? Dia akan tahu kalau suamimu bukanlah yang pertama dan mungkin hanya sekali bila sampai dia menyentuhmu, setelah itu ... kalian akan bercerai dan dia kembali pada kekasihnya." Alicia masuk terus menertawai dirinya sendiri lalu masuk ke dalam bathub yang terisi penuh oleh busa.
Selesai mandi Alisa pun bersiap untuk memesan sarapan melalui online, tetapi belum juga dia memesan suara bel pintu berdering.
"Siapa? Keenan?" tanya Alicia pada dirinya sendiri. "Ya sebentar!"
Alicia langsung membukakan pintu dan melihat Jacob sudah berdiri di depan pintu sembari menyodorkan kantung makanan, dia melihat raut wajah bodyguard-nya berubah merah, entah apa yang menjadi alasannya tetapi Alicia melihat sorot mata Jacob terahlikan seakan enggan menatapnya.
"Thanks," ucap Alicia yang tidak mengerti.
"Saya permisi dulu!" Jacob menundukkan kepalanya tanpa melihat ke arah Alicia yang ternyata mengenakan dress mini dengan handuk yang melilit di atas kepala.
Alicia dengan polosnya hanya mengangkat bahu semata, dia menutup pintunya kembali lalu mulai menyantap makanan yang dibawakan oleh Jacob.
Di sela-sela Alicia asyik dengan sarapannya tiba-tiba suara notifikasi pada ponselnya pun berdering, terdapat pesan dari Grey yang menyuruhnya untuk membawakan map di atas meja kerjanya di dalam kamar.
__ADS_1
Setelah itu mengirimkan titik lokasi alamat kantor yang akan dituju oleh Alicia, tidak lupa juga Grey mengatakan agar istrinya tersebut memakai masker untuk menutupi wajahnya karena Grey ingin pernikahan yang hanya berjalan enam bulan tanpa mengenal satu sama lain pasca bercerai.
To be continued...