Wanita Tawanan Tuan Grey

Wanita Tawanan Tuan Grey
Kerja Sama Dengan Musuh


__ADS_3

Hari semakin malam ketika jam terus bergulir, Alice yang ingin mengajak sahabatnya untuk menemui sang Ibu malam itu harus kandas, saat dia tidak bisa menghubungi Alicia.


"Mana teman kamu? Apakah dia sudah datang? Di mana?" tanya Dinda—ibundanya Alice. Kini mereka tengah menunggu pesanan makan malam mereka di restoran yang sudah di sewa oleh Grey. Namun, sayanganya dibatalkan oleh pria itu akibat insiden siang hari.


Ya, Alice sudah menceritakan kepada ibundanya bahwa dia memiliki teman yang sangat mirip dengan dia, sangking semangatnya dia bercerita sampai tidak mengenal waktu. Membuat sang Ibu pun tersenyum melihat cara dia yang bercerita dengan penuh bahagia.


Dinda pun menawarkan untuk mengajak teman Putri tercintanya bertemu dengan sahabat anaknya, karena ingin tahu siapa sosok wanita yang menjadi teman Alice hingga anaknya bisa menceritakan sampai sedetail itu.


"Gak tahu, dari tadi siang Al hubungin tapi gak bisa-bisa!" Alice memasang wajahnya penuh dengan kekecewaan, karena dia udah berusaha untuk menemuinya di ruangan privasi Grey tetapi tidak juga diberikan kesempatan untuk bertemu dengan Alicia.


"Mungkin dia sedang sibuk, kata kamu dia kan seorang istri dari Tuan Grey? Otomatis pasti menemani suaminya untuk bertemu dengan colega pembisnis, memangnya kamu ... yang masih pacaran tidak jelas sama anak mafi—"


"Mih!" tegur Alice tidak suka, meskipun dia tahu kedua orangtuanya masih belum menerima Nicholas, tapi setidaknya sekarang tidak terlalu parah seperti dulu-dulu yang secara terang-terangan melarang hubungan mereka.


"Iya, ya sudah. Besok pagi kan kita akan sampai di pelabuhan, Mami sama Papi mau langsung ke LN selama seminggu, setelah dari LN, Mami harap kabar baik dari kamu kalau keluarga pacar kamu mau menemui Mami sama Papi, kalau tidak ... Mami akan mengenalkan kamu sama seseorang setelah pulang dari LN nanti!" tutur Dinda.


"Kok, cepet banget? Keluarganya Nicholas baru bisa akhir bulan ini kan, Mi?" keluh Alice yang terkejut mendengar dari ucapan ibunya.


"Ya, kalau gitu terpaksa pulang nanti, Papi kenalin kamu sama calon suami kamu pilihan Papi!" ujar Hans—ayah tiri Alice.


"Kok Papi sama Mami gitu si?" rengek Alice.


"Gitu gimana? Papi sama Mami kan sudah ngizinin kamu buat sama pacar kamu siapa tuh namanya Niko, Niko,Niko itu!" ujar Hans yang mengerutkan keningnya.


"Namanya Nicholas, Pih!" ujar Alice dengan malas.


"Iya, itu! Udah kasih kesempatan buat kalian ngejalanin kasih, ya kalau dia nggak mau serius sama kamu? Masa kamu mau terus-terusan pacaran sama dia?" tanya Hans penuh intimidasi.

__ADS_1


Alice hanya terdiam, benar apa kata orangtuanya. Namun, Nicholas sudah pernah mengatakan pada dia bahwa orang tuanya masih di kota Nuro untuk perjalanan bisnis dan akan kembali akihr bulan.


Pada saat itu pula pesanan makanan mereka pun datang, Alice bersama dengan kedua orang tuanya pun menikmati makan malam mereka di restoran tersebut.


Sementara di sisi lain, Nicholas yang masih saja tidak menyukai Grey sampai kapanpun, kini berada di ruangan pribadi orang tersebut.


"Lima ratus juta! Kalau lo kasih tahu informasi orang ini," ujar Grey yang menunjukan foto Jacob.


Nicholas hanya tersenyum sinis ke arah Grey, dia melihat foto Jacob di atas meja tanpa mengambilnya. "Hubungan kita tidak seakrab itu, sobat! Jangan hanya karena kita memiliki wanita yang sama, lantas membuat permasalahan kita selesai."


Sorot mata Nicholas begitu saja melihat ke arah Grey, meskipun hubungannya bersama pria yang sudah menjadi musuh bubuyutan sampai saat ini belum juga membaik, tapi Nicholas masih memandang Alicia dan tidak membencinya.


"Cih, lo yakin tidak mau menerima tawaran gue? Sejujurnya gue pun gak mau berurusan sama lo, tapi ... karena gue kira orang ini akan menjadi musuh Lo, gue rasa kita diperahu yang sama." Grey menaikkan satu alisnya.


"Hahahah, perahu yang sama? Tuan Grey kadang humoris juga, maksudnya musuh saingan cinta Lo?" Nicholas menebak tetap sasaran membuat Grey mati kutu. "Itu urusan lo, bukan gue!"


Nicholas masih berucap santai sembari tertawa mengejek Grey, dia tahu betul bahwa orang tersebut yang menjadi pengawal Alicia saat istri dari Grey itu menyamar menjadi kekasihnya.


"Maksud lo, apa?" tanya Nicholas yang sangat mudah terpancing oleh Grey.


"Ah, gak! Sudahlah, gue tenang sekarang, bukan Al-gue, ternyata!" ledek Grey dengan santai dan mengambil foto Jacob.


Namun, Nicholas menahan foto tersebut agar tidak diambil oleh Grey. "1 M."


"Hahahaha, 1 M? Buat tahu info orang yang mau merebut wanita lo?" Grey tertawa seraya terus mengejek Nicholas, meski sebenarnya dalam hati dia berkata, "Gila, mahal banget!"


"Terus kalau misalkan orang ini merebut wanita gua, apa hubungannya sama lo?" tanya Nicholas yang belum paham ke mana rencana Grey.

__ADS_1


Grey mengatakan kalau Jacob masuk ke dalam keluarga dengan menyamar sebagai pengawal, dia curiga maksud dari Jacob yang menyamar dan masuk keluarganya.


Mencoba memanipulasi karangan cerita agar Nicholas mau bekerja sama dengan dia. "Ya gue si, gak apa-apa kalau dia mata-mata di keluarga gue, yang penting bukan ngerebut wanita gue!"


"Oke, deal 500 juta," ucap Nicholas dengan cepat.


"Sayangannya gue dah gak tertarik, toh harta masih bisa dicari, kalau orang yang disa—"


"Ok, gak usah bayar!" ujar Nicholas dengan kesal.


"Deal!" Grey langsung membalikkan tubuhnya kembali menghadap ke arah Nicholas seraya mengeluarkan tangannya dengan senang.


Kesepakatan pun terjadi, di mana ini kali pertama untuk mereka bekerja sama satu sama lain, Grey membutuhkan informasi Jacob sedangkan Nicholas akan mencari informasi yang diminta Grey karena sudah memberikan informasi mengenai Jacob yang akan menjadi saingannya.


"Satu hal yang mesti lo tahu, dia langsung kabur saat mendengar suara pluit dari Vangster," ujar Grey.


"Vangster? Tuan Pablo?" tanya Nicholas yang mengingat itu adalah musuh terbesar di keluarganya.


Grey hanya mengangguk sebagai jawaban dari Nicholas, membuat ke dua mata mereka pun bertemu saling bertemu.


"Apa Lo yakin Jacob masih hidup?" tanya Nicholas yang masih terus berfikir.


"Gue yakin, karena gak mungkin suara pluit itu berbunyi dari bahasa batin, tapi dari seseorang yang membunyikannya, kalau orang itu ada di kapal ini, tidak mungkin dia kabur melompat ke laut, pasti anggota Vangster berada di dalam air," tutur Grey.


Tidak menutupi kemungkinan, jika Jacob adalah salah satu anggota Vangster, mafia yang diketuai oleh Pablo musuh keluarga Nicholas sesama mafia.


Sejujurnya Grey tidak mau berurusan dengan namanya mafia, tapi jika ini menyangkut masalah Alicia, maka Grey akan menghadapinya langsung.

__ADS_1


"Oke, tapi gue ingetin sekali lagi sama lo, jangan pikir dengan begini urusan kita bisa selesai!" ujar Nicholas.


"Eh, siapa yang sudi kerja sama, sama Lo!" timpal Grey dengan ketus.


__ADS_2