
Seperti biasanya Alicia datang ke toko lebih pagi dari para karyawan lainnya, di saat dia masuk shift pertama. Melakukan tugas penuh dengan semangat menyiapkan adonan yang akan dia buat hari ini, meskipun rencananya dia akan resign tapi tidak semudah bisa keluar dari pekerjaan yang digeluti saat ini.
Alicia berniat akan menyerahkan surat pengunduran diri selepas pekerjaannya selesai, semua demi perintah dari Dominic yang menyarankan agar dia berhenti bekerja. Seandainya dia bisa memilih apapun dalam kehidupannya pasti Alicia akan memilih untuk hidup sesuai yang dia mau.
Namun kenyataannya, semua takdir yang menimpa dirinya membuat dia harus pasrah akan apa yang dia jalani seraya terus berdoa agar suatu saat kebahagiaan akan datang menghampiri hidupnya.
"Al, semua udah beres kan? Kue tart jangan lupa dipajang sama cheese cake!" ucap Kamila pada Alicia lantas melihat ke arah Fiona. "Fi kamu jaga depan biar di sini Alic yang handle!"
"Siap, Bos!" ucap serempak Alicia dan juga Fiona.
Alicia pun bergegas menghandle bagian adonan kue sedangkan Fiona melayani customer yang berada di depan. Toko pun dibuka sejak dua puluh menit lalu dan semua pengunjung hari ini melonjak drastis sampai tiba pada siang hari semua semakin meningkat.
"Easy Fla satu, Tiramisu satu, dua lapis Surabaya!" teriak Fiona pada Alicia.
"Easy Fla satu, Tiramisu satu, dua lapis Surabaya, silahkan!" ucap Alicia yang mengulang perkataan rekan bisnisnya ketika mengeluarkan pesanannya.
"Terima kasih, selamat datang kembali!" ucap Viona yang menyerahkan pesanan tersebut kepada pelanggan.
Pada saat yang bersamaan, datanglah seorang wanita dengan penampilan modis memasuki toko tersebut dengan memakai masker serta tas ber-branded. Salah satu penjaga toko tersebut menyambutnya dengan hangat sembari melilhat betapa modisnya penampilan yang dikenankan oleh wanita berambut pirang.
"Mbak, cheese cake nya masih ada?" tanya Alice tanpa membuka maskernya saat berbicara pada pelayan toko yang berdiri menyambut pelanggan.
"Masih, Kak," jawab pelayan tersebut lantas memanggil sahabatnya untuk melayani pelanggan itu. "Mel, cheese cake!"
"Siap," sahutnya penuh dengan antusias.
Melly pun memberikan pelayanan sebaik mungkin pada wanita itu, dia menunjukkan cheese cake beraneka ragam model yang dipajang dalam etalase.
"Saya, mau ini deh, Mbak satu!" ucap Alice.
"Cheese cake aja Kak? Apakah ada yang lain?" tanya Melly yang mengambil kue pesanan Alice.
"Tambah Tiramisu deh, satu, Mbak!" ucap Alice pada pelayan toko tersebut.
Melly pun membawa pesanan alis yang kemudian diserahkan pada Fiona. Pelayan itu menyuruh Alice untuk bersabar menunggu ketika antrian masih padat merayap.
Sementara Fiona bergerak dengan cepat membungkus pesanan dipinta oleh Alice, saya semua pelanggan telah selesai dilayani dengan cepat, kemudian menotalkan jumlahnya sebelum menyerahkannya pada wanita berambut pirang.
"Tunggu sebentar ya, Kak!" ucap Fiona ketika dia kehabisan dengan uang kembalian. Sehingga dia meminta pada Alicia untuk menukar uang recehan.
"Oh, ada nih! Di saku depan, ambil sendiri!" ujar Alicia saat dia membawakan kue-kue di atas meja kasir. Namun sayangnya, Alice sedang melihat kue yang berada di etalase sebelah kiri.
"Nggak apa-apa, mana?" Fiona mengambil uang dari dalam saku Alicia dan langsung menyerahkan pada Alice sembari berkata, "Terima kasih, sudah mau membeli di toko kami."
__ADS_1
Alice dengan senyum manisnya walaupun tertutup dengan masker dia mengucapkan kata terima kasih kepada pelayan kasir yang menyerahkan pesanan kuenya, lalu keluar dari toko itu dan menunggu jemputan dari Nicholas.
"Al, semua sudah kamu buat?" tanya Kamila pada Alicia saat sang pemilik nama berada di bawah kasir menata kue-kue yang baru saja dia letakkan di dalam etalase.
"Sudah, Bos! Saya boleh langsung istirahat kan?" tanya Alicia, dia pun bangun dari jongkoknya kemudian membuka celemek yang dikenakan saat dia mendapatkan izin dari bosnya.
"Fi, aku ke atas dulu ya! Kamu kalau mau istirahat, duluan aja!" ujar Alicia yang terburu-buru menyusul Kamila ke arah ruangan pribadi bosnya.
"Kenapa, tuh anak?" Tanya Melly pada Fiona.
"Mane ketehe!" Fiona mengangkat bahu menandakan bahwa dia tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh Alicia.
Alicia mengetuk pintu ketika sudah berada di atas ruangan pribadi Kamila, dia mengambil nafas dalam-dalam untuk menetralkan rasa gugupnya serta mengeluarkan surat yang sudah dia buat semalaman.
"Masuk!" teriak Kamila.
"Permisi Bos." Alicia maju secara perlahan dengan lebaran jantung yang begitu gugup.
"Ada apa Al?" tanya Kamila yang menaruh kacamatanya, melihat Alicia yang menyerahkan surat ke arahnya. "Apa ini?"
"Sa–saya, ingin mengundurkan diri, Bos!" Alicia begitu gugup meski hanya mengungkapkan beberapa kata.
"Kamu, mau resign? Kenapa?" Kamila membuka surat tersebut dari tangan Alicia.
Alicia menanti jawaban dari Kamila, saat wanita yang hampir memasuki usia lanjut tersebut membaca surat pengunduran dirinya. Ada sedikit guratan kecewa yang terpancar dari wajah bosnya itu, tetapi Kamila langsung mendongakkan kepalanya dan melihat ke arah dia.
"Terima kasih, Bos! Kalau gitu saya permisi dulu," ucap Alicia yang kemudian langsung keluar dari ruangan tersebut.
Pada saat Alicia membuka pintu ternyata, semua teman-temannya mendengarkan pembicaraan Alicia dan juga Kamila. Hingga membuat ketiga temannya tersebut terkejut melihat wanita berambut panjang hitam menatap ke arah mereka.
"Heheh, Alicia ka–kamu ... keluar dari perkejaan?" tanya Melly tidak yakin dengan apa yang dia dengar.
Alicia tersenyum sembari mengganggu tidak bisa memberikan dengan ucapan yang terlontar dari mulutnya, Fiona, Melly dan Santi merasa sedih ketika teman satu shift mereka keluar.
"Lo ada masalah sama Bu Kamila? Atau sama ular keket itu?" tanya Santi saat mereka perlahan menurun di tangga.
"Kok lo nggak cerita sih sama kita-kita lebih dulu?" Fiona langsung merajuk.
"Iya, nih! Ah, nggak seru Al ... Kalau nggak ada lo!" ujar Melly.
"Sorry, ya ... Gue belum cerita apapun ke kalian yang jelas sebenarnya gue juga berat ninggalin kalian! Tapi ... mau bagaimana lagi, gua harus risegn." Alicia masih belum bisa menceritakan kepada teman-teman satu kerjanya tersebut.
"Ya sudah, tapi hari ini masih sampai sore kan?" tanya Susan ketika mereka sudah sampai di bawah dan mendapat anggukan dari Alicia.
__ADS_1
"Ya sudah, yuk kita makan, biar gantian nanti sama Melly sama Santi!" Fiona langsung merangkul tangan Alicia dan bergegas keluar pergi ke arah toko.
Mereka berdua berniat untuk makan di restoran terdekat yang murah dan terjangkau dengan saku keduanya, letaknya yang cukup strategis di pinggir jalan raya dekat persimpangan lampu merah, membuat Alicia dan Fiona hanya membutuhkan menyebrangi jalanan.
Akan tetapi, pada saat Alicia bersama Fiona menyebrang. Sorot matanya melihat ke arah Peter yang duduk di kursi pengemudi yang tengah memperhatikan dirinya berjalan.
"Ya, Tuhan!" ucap Alicia yang terkejut dia langsung bersembunyi di samping Fiona, membuat sahabatnya itu bingung melihat tingkahnya.
"Ada apa sih, Al?" tanya Fiona terkejut tapi Alicia justru menyeret temannya untuk berjalan lebih cepat menyebrangi zebra cross.
"Bos, Alice!" ucap Peter tanpa memalingkan matanya.
"Sudahlah, aku lagi tidak mau membahas dia saat ini! Fokus saja saat ini kita menemui Clien penting." Grey masih fokus pada layar ponselnya.
"Arah jam satu, memakai jeans biru dengan setelan atas kaos putih, dia pergi menuju restoran seafood bersama—”
"Tangkap dia bodoh!" Grey langsung membuka pintu mobilnya tetapi suara klakson dari kendaraan lain sudah lebih dulu berbunyi saat kakinya belum turun ke bawah. "Si al! cepat putar balik, Peter!"
Peter langsung membanting stir mengikuti arahan dari tuannya, dia menepikan mobil saat Alicia berlari masuk ke dalam sebuah lorong gang meninggalkan Fiona.
"Al!" teriak Fiona ketika dirinya ditinggal begitu saja.
Grey langsung mengejar Alicia masuk ke dalam gang tersebut dengan sangat kencang hingga jarak mereka tidak terlalu jauh, sedangkan Alicia berlari terus sesekali melihat ke arah belakang di mana Grey semakin mendekat ke arahnya.
Alicia langsung berbelok untuk menghindari kejaran Grey dan juga Peter, dia kembali keluar dari jalanan berbelok itu menuju ke arah jalanan besar. Akan tetapi, tubuhnya justru bertabrakan dengan seorang wanita yang baru sajak keluar dari toko bunga.
"Aakk!" teriak keduanya, hingga semua barang belanjaan wanita tersebut baik itu bunga dan kue hancur karena terjatuh.
"Kamu kalau jalan itu—"
Alicia langsung menarik wanita tersebut masuk ke dalam toko bunga, sebelum wanita berambut pirang itu melanjutkan ucapannya dan sebelum Grey menemui dirinya.
"Kamu itu tidak ada so—"
"Ssssttt!" Alicia mengisyaratkan agar wanita tersebut untuk diam sejenak sedangkan matanya melihat ke arah kaca, memperhatikan Grey yang berdacak pinggang dengan napas yang tersengal berhenti tepat di depan toko bunga itu.
"Ka–kamu ... ka–kamu, si–siapa?" tanya Alice saat tubuhnya begitu dekat dengan wanita yang berhasil menariknya masuk ke dalam toko bunga, sedangkan wajah mereka begitu dekat.
Alicia langsung membekap mulut Alice yang bersuara, agar wanita itu tidak menimbulkan pancingan pada Grey yang masih berdiri tepat di toko yang mereka bersembunyi bersama Peter.
Alice pun mengangguk dengan gugup sembari masih terus memperhatikan wajah wanita yang sama persis dengan dirinya, tanpa terasa kini kedua bola mata mereka saling bertemu.
Alicia membuka mulutnya lebar-lebar seraya membulatkan kedua bola matanya, saat pandangannya melihat ke arah depan wanita yang berdiri tepat di hadapan dia. Begitu mirip dengannya, bahkan kini lebaran jantung yang mereka rasakan satu sama lain seakan saling sahut-menyut.
__ADS_1
"Ka–kamu?" tanya Alicia.
To be continued...