
"Lo bilang, gak usik? Barusan apa, Njeing?" Nicholas yang sudah terbakar oleh amarah yang meletup-letup langsung memberi hukuman pada Grey dengan secara membabi buta. "Terus apa yang Lo lakuin tadi barusan? Hah! Lo yang selalu merebut apa yang gua punya!"
"Nicholas stop!" teriak Alice yang melihat perkelahian tersebut.
"Gua gak pernah ngerebut milik Lo! Tapi semua cewek Lo yang selalu milih gua ketimbang Lo!" Grey mengubah posisinya yang kini menjadi dia yang berada di atas tubuh Nicholas sembari membalas pukulan dengan musuhnya.
"Stoop!" teriak Alice sembari menangis melihat tunangannya dipukuli oleh Grey.
Semua yang menghadiri acara pesta tersebut berkumpul di halaman luar rumah, melihat perkelahian sengit antara kedua musuh. Sehingga pihak keamanan yang bertanggung jawab datang melerai mereka.
Dion sangat kecewa dengan kedua sahabatnya yang berhasil memberikan kejutan luar biasa di ulang tahun perusahaannya, keduanya langsung di bawah ke ruangan privasi milik Dion.
Sesampainya di ruangan tersebut, Dian mengambil napasnya dengan kasar menatap kedua sahabatnya dengan tajam. Seakan-akan ingin menguliti mereka satu persatu, gebrakan meja pun terdengar jelas di telinga Grey dan juga Nicholas hingga membuat kedua pria tersebut terkejut.
"Apakah begini cara kalian menyelesaikan masalah?" bentak Dion yang menatap sinis bagaikan harimau yang sedang lapar. "Kenapa masalah kalian tuh tidak ada kelar-kelarnya? Hah!"
Ya, sedari dulu Dion memang selalu yang menjadi petuah bagi Grey dan juga Nicholas. Hingga sampai saat ini pun Dion masih saja terus mengawasi mereka seperti mengawasi seorang anak kecil.
Permasalahannya pun tetap sama, bahkan Dion pun sempat kesal dengan Grey karena setiap wanita yang disukai oleh Nicholas dan dirinya selalu mengidam-idamkan sahabatnya itu.
"Jadi apa permasalahan kalian berdua?" tanya Dion yang kini intonasi nada suaranya mulai meredah.
Grey hanya terdiam, dia pun memilih untuk pergi dari ruangan tersebut tak peduli bila kedua sahabatnya meneriaki memanggil namanya. Dia benar-benar kecewa atas apa yang baru dia ketahui hari ini, bila ternyata wanita yang dia incar sebagai tawanannya bukanlah tunangan—Nicholas.
"Peter!" panggil Grey ketika dia berjalan menuju mobil dengan tergesa-gesa. "Cari wanita itu!"
Peter yang dipanggil oleh atasannya, langsung mendekat dan mendengar apa yang diperintahkan oleh Grey, tetapi dia masih bingung atas perintah pria tersebut. Pasalnya wanita itu adalah Alice, lalu siapa wanita yang di maksud oleh Grey?
__ADS_1
"Wanita itu? Maksud Bos Nona Alice?" tanya Peter, dia berusaha mengejar langkah kaki Grey. Akan tetapi, Bosnya itu tiba-tiba menghentikan langkahnya saat mendengar pertanyaan yang dia lontarkan.
"Tugas kamu mencari tahu apa hubungannya Alice dengan wanita itu!" ucap Grey saat membalikan tubuhnya melihat ke arah Peter.
"Alice dan wanita itu? Wanita itu siapa, Bos?" tanya Peter yang masih belum mengerti.
"Peter!" Teriak Grey saat dirinya kesal memiliki asisten pribadi seperti Peter.
"Eh, iya Bos, iya Bos!" Peter pun langsung membukakan pintu mobil untuk Grey kemudian dia berlari masuk ke dalam kursi pengemudi.
Mobil pun berjalan meninggalkan area parkir tersebut, selama perjalanan Grey terus memikirkan wanita yang sama persis dengan tunangan Nicholas. Tanda lahir itu masih terngiang dengan jelas diingatan, saat dia menelusuri setiap inci tubuh wanita tersebut sehingga tidak ada satupun yang terlewat.
Bahkan aroma wangi tubuh dari wanita itu dan juga Alice sangat berbeda, meskipun baru dua kali Grey tidur bersamanya tetapi tidak ada satupun kejadian di mana dia melupakan hal tersebut.
"Apa kau tidak salah tangkap saat kuperintahkan beberapa hari lalu, Peter?" tanya Grey yang masih penasaran.
"Oke, sekarang tugas kamu mencari tahu siapa wanita itu yang sebenarnya, dan apa hubungan dia bersama tunangan Nicholas? Saya ingin kamu melacaknya sampai dapat sebelum hari pernikahan saya dimulai!" Pinta Grey.
"Baik Bos!" Peter langsung menambah kecepatan mobilnya.
***
Tidak terasa hari semakin berlalu kini pernikahan Alicia dan Grey tinggal menghitung jari, Alicia yang selalu mendapatkan perawatan di rumah menikmati bak seorang putri raja, membuat saudara tirinya merasa cemburu.
Ya, Pricilia begitu iri melihat Alicia akan menikah dengan seorang pangeran yang bahkan Alicia sendiri tidak tahu bagaimana wajah rupawan pangeran yang akan menikahinya tersebut.
Alicia pun tidak masalah bagi dirinya ketika sampai saat ini juga pria yang akan menikahi dia tak kunjung juga bertemu sampai saat ini, bahkan untuk mengabari melalui pesan singkat ataupun panggilan telepon seluler Grey sama sekali tidak menghubungi Alicia sejak saat itu.
__ADS_1
Keputusan Alicia sudah bulat, dia akan tetap melanjutkan pernikahan ini sampai tiba di hari h-nya, meskipun sudah mendapatkan kabar bahwa pernikahan tersebut bersifat rahasia terutama Grey meminta bahwa pesta pernikahannya bertemakan dengan pernikahan bertopeng.
Di mana pernikahan tersebut akan digelar, ketika para kamu undangan datang menggunakan topeng bahkan pengantinnya pun memakai juga memakai topeng. Terkesan sangat konyol tetapi itulah Grey yang tidak bisa dibantah oleh siapapun ketika dia telah berucap.
Walaupun demikian, Alicia tetap meyakinkan dirinya bila pernikahan tersebut akan menjadi pernikahan yang dia idam-idamkan selama ini sebagai seorang wanita. Hiasan kue yang bertingkat tinggi, gaun yang mewah cantik dan sangat spektakuler.
Membuat Alicia tersenyum membayangkan hal itu terjadi beberapa hari kedepannya, tetapi ketika mengingat sosok calon suaminya yang begitu ketus terhadap dirinya membuat diz membuyarkan harapan yang dia tanam dalam pikiran.
"Ya Tuhan, apakah sudah benar, aku memilih keputusan ini?" Tanya Alicia ketika tinggal dia seorang diri yang berada di dalam kamar itu. "Aku tidak mencintainya bahkan untuk melihat wajahnya sampai saat ini aku belum mendapatkan izin darinya."
Tiba-tiba suara pesan notifikasi dari Grey langsung masuk ke dalam ponsel Alicia, entah mengapa tanpa berpikir panjang terlebih dahulu Alicia langsung mematikan ponsel seraya melempar di atas kasurnya.
"Ck, sekarang aja, telepon! Pasti ada maunya!" Alicia benar-benar tidak menyukai sosok suaminya tersebut.
***
Sementara di posisi lain, Grey terlihat kesal ketikan nomornya mendapatkan penolakan secara tidak hormat dari Alicia menurut dia. Telepon terus menghubungi Alicia tapi pesannya hanya menunjukkan ceklis satu.
"Cih, sombong sekali! Dasar pelacur murahan, paling juga segelmu sudah dijebol oleh orang lain!" ucap Grey yang merasa frustasi kepada dirinya sendiri.
Prasaan Grey saat ini masih uring-uringan, ketika tubuhnya ingin mendapatkan sentuhan kembali dari seorang wanita dan juga rasa penasaran pada calon istrinya. Pikirannya sudah membayangkan bila calon istrinya tersebut memiliki raut wajah buruk rupa.
Grey berharap sebelum pernikahannya dimulai, dia sudah bisa mengetahui siapa wanita yang sudah merenggut keperjakaannya. Dengan begitu dia mempunyai alasan untuk tidak melanjutkan perjodohan itu.
"Alice, Alice, Oh Alice... siapa dirimu yang sebenarnya?" Grey duduk di depan teras sembari menyeruput kopi hangat miliknya.
To be continued....
__ADS_1