
Setelah Peter pergi, Alicia bergegas menghampiri sahabatnya yaitu Alice usai mengirim pesan terlebih dahulu. Mereka pun berjanjian di belakang kapal tepatnya di ujung.
Alicia mencoba untuk berjalan meski sedikit perlahan, tetapi karena sudah terisi nutrisi sehingga dia pun bisa berjalan. sebenarnya Alicia tengah mencari keberadaan Jacob, tetapi sama sekali dia belum melihat dari semalam entah di mana keberadaan asisten sekaligus selingkuhannya.
Sehingga Alicia memutuskan untuk bertemu dengan kembarannya, begitu sampai di titik lokasi. Dia pun mendapat pelukan hangat dari Alice, kembarannya itu begitu terlalu bar membuat keceriaannya menukar ke Alicia.
"Ya Tuhan Alicia, kamu serius dapat kalung ini! Gak nyangka si monster itu romantis juga!" ucap Alice yang takjub melihat kembarannya memakai kalung yang dia incar. "Eh kita duduk dulu, kamu mau cerita apa?"
Alicia pun meneteskan air matanya sembari bercerita tentang masalah yang semestinya tidak dia ceritakan pada siapapun, tapi entah mengapa rasanya dia begitu percaya pada sahabat yang begitu mirip dengan dia.
"Astaga, serius?" tanya Alice yang dianggukan oleh Alicia. "Dasar buaya burik! Laki-laki seperti dia, mesti kamu kasih pelajaran biar kapok!"
Tidak lama kemudian, Nicholas pun datang membawa dua bungkus eskrim. "Beb, kita jadi kan—"
Tiba-tiba saja, Nicholas terdiam saat melihat kekasihnya kembali menjadi dua. Dia melihat yang mana kekasihnya dengan melirik secara bergantian.
"Ehhmm... Beb, hmmm." Nicholas nampak ragu yang manakah kekasihnya, sampai perlahan dia menelan salivanya berulang kali.
"Ayoo, yang mana!" ujar Alicia tertawa melihat Nicholas bingung sendiri.
"Ha, ini!" Nicholas menarik tangan Alice membuat Alice pun merajuk seperti anak kecil dan memukul dada bidangnya.
"Kamu begitu aja susah ihh," kesal Alice. "Mestinya Kamu jangan ngomong, Alicia!"
"Eh jangan marah!" Nicholas langsung mengecup pipi Alice. "Aku hanya bercanda."
Alicia tertawa melihat pasangan tersebut begitu romantis dan serasi, pasalnya memang Alicia masih berpenampilan seperti Alice dengan rambut Curly dan berwarna biru di ujung rambut hanya saja berbeda penampilan.
Namun, namanya juga Nicholas, otaknya hanya terisi oleh Alice. Semuanya terisi oleh sang kekasih. Sehingga dia masih belum terbiasa dengan seseorang yang begitu mirip dengan kekasihnya.
Ponsel Alicia pun berdering, tertera nama ibu mertua yang sedang menghubunginya. Dia pun berpamitan untuk menjawab panggilannya itu dan mendapatkan persetujuan dari kedua pasangan yang saling berpelukan.
Pada saat langkah kaki Alicia menjauh tanpa sengaja dia menabrak tubuh seorang wanita paruh baya yang tengah memanggil nama Alice, ponsel Alicia pun beserta tasnya jatuh saat bahunya bertabrakan dengan Ibundanya Alice.
"Astaga! Kamu tidak apa-apa?" tanya wanita paruh baya itu yang melihat ke arah Alicia tengah berjongkok mengambil ponselnya terjatuh.
"Ah, iya Tante gak apa-apa!" ucap Alicia saat ingin bangun Ternyata wanita itu sudah menghampiri Alice.
"Alice, Sayang!" panggil penuh perhatian.
__ADS_1
"Mommy?" sahut Alice
Alicia pun melihat ke belakang sepintas, lantas kembali berbicara pada sang ibu mertua. Kini posisi Alicia berada di samping bagian badan kapal pesiar menatap indahnya lautan lepas sembari berbicara melepas rindu pada ibunda Grey.
Percakapan itu mengarah pada keberadaan Alicia berada dan dengan jujur wanita yang menjadi istri dari anaknya mengatakan bahwa dia bersama Grey berada di kapal pesiar.
"Ceritanya panjang, Ma. Nanti Alicia sambung lagi ya!" ucap Alicia sebelum dia menutup sambungan telepon.
***
Sementara itu di posisi Grey, usai berbicara kepada Flo mengenai protes wanita itu, dia menanyakan soal keberadaan sang istri pada Peter.
"Nyoya sedang menerima telepon dari Nyonya besar Tuan!" ucap Peter.
"Oh, ok!" sahut Grey. "Terus bagaimana tentang pria yang disuruh Papa untuk menjadi asisten Alicia?"
"Maksud Tuan ... Jacob?" tanya Peter sekali lagi untuk memastikan ucapan Grey.
"Tidak usah kau sebut namanya, bodoh!" kesal Grey yang menatap tajam karena asistennya.
"Maaf Tuan, mengenai Jacob ... dia adalah teman kampus kuliah Nyonya Alicia dulu, dan perihal mengenai hubungan Jacob dan Nyonya mereka tidak menjalin hubungan di belakang Tuan! Nyonya masih setia dengan Tuan, walaupun Jacob—"
"Walaupun apa?" tanya Grey yang masih setia mendengar informasi dari Peter.
"Apa?" Grey sangat terkejut dengan informasi yang dia dapat dari Peter.
Sejujurnya Peter mengetahui rahasia Jacob dan Alicia yang saat ini tengah menjalani kasih atau hubungan gelap, tapi sementara waktu dia terpaksa harus berdusta demi hubungan antara Grey dan Alicia.
Peter hanya berpesan pada Grey harus menjaga Alicia jika dia benar-benar mencintainya, maka jika Grey tidak mencintai Alicia, Peter hanya memberikan saran pada bosnya untuk melepas Alicia.
"NO!" Grey dengan refleks mengatakan tidak akan melepaskan Alicia. "Bagaimana mungkin aku melepaskan dia, sedangkan dia baru saja menembakku! Iya, dia ... mengatakan cinta padaku, Peter!"
Dalam kamar itu Grey gembira bukan main, saat memberitahu pada Peter bahwa Alicia mengatakan cinta apa adanya.
"Benarkah Nyonya Alicia mengatakan cinta pada Tuan?" tanya Peter sekali lagi.
Ada sedikit rasa tidak suka pada diri Grey saat Peter menanyakan seperti itu, seakan dia tidak pantas dicintai oleh Alicia.
"Bukan begitu, maksud saya, apakah Tuan sudah membalas perasaan Nyonya Alicia?" tanya Peter yang hanya mendapatkan gelengan dari Grey.
__ADS_1
"Haruskah saya membalas ucapannya?" tanya Grey dengan polos yang membuat Peter menghela napas dengan kasar. "Why? Apakah perasaan cinta itu harus diungkapkan? seharusnya kan tindakan Aku selama ini sudah membuatnya cukup mengerti bahwa aku sangat mencintainya?"
Peter memijat kening yang terasa pusing menghadapi Tuannya seperti Grey, dia mencoba memberi saran pada bosnya itu agar segera membalas ucapan perasaan Alicia.
"Oh, ayolah Peter ... kau tahu sendiri betapa gelinya aku mengatakan kata itu, aku rasa dia juga tidak mempermasalahkan aku membalas ucapannya atau tidak, karena yang kulihat dia juga senang bahkan mengerti bahwa aku sangat mencintainya!" tutur Grey yang sok tahu.
"Tuan, jika Anda memang benar mencintai Nyonya Alicia, tidak ingin nanya Alicia direbut oleh Jacob maka lakukanlah apa yang aku katakan!" tegas Peter.
"apa kau memerintahkanku sekarang?" Grey menatap kesal ke arah Peter.
"Iya," sahut Peter dengan tegas.
"Baik lah," jawab Grey dengan yakin kemudian berpikir. "Kita latihan dulu!"
Grey melemaskan lidahnya membasahi bibirnya menggunakan lidah, kemudian dia mencoba membuka suaranya. "I ...."
"I ...." ucap Peter yang menginstruksikan ucapan Grey.
"Love," sambung Grey.
"Love," timpal Peter yang memberikan semangat.
Grey pun memajukan bibirnya untuk mengucapkan kata you tetapi sungguh sulit untuk dia, membuat Peter pun merasa kesal dengan bosnya.
"Apa susahnya sih bilang kata i love you too!" bentak Peter yang tidak tahan dengan sikap bosnya.
"Kau mau marahiku?" Grey menatap sinis ke arah Peter yang berani membentaknya.
"Kenapa?" bentak Peter kesal. "Cuman bilang I love you too sungguh sulit sekali mulutmu berucap, jika Alicia memilih Jacob aku lebih setuju daripada mendukungmu!"
Grey sungguh tidak percaya dengan asisten pribadinya yang semakin hari semakin ke sana, dia pun berdacak pinggang kemudian kembali membentak Peter.
"Kau kira mudah, mengatakan Alicia Aku sungguh mencintaimu! I love you too, Alicia!" ucap Grey sembari marah-marah di depan Peter.
Peter pun langsung tercengang saat Grey berhasil mengatakan kata-kata keramat yang keluar dari mulut pria itu, membuat Grey pun langsung tersadar dan memeluk Peter.
"Aaaakkkk ... aku bisa Peter! Aku bisa mengatakan, I love you tooooooooo ...."
Grey yang sangking girangnya langsung mencium pipi Peter, membuat asisten pribadinya itu langsung mendorong tubuh dan mengelap pipinya.
__ADS_1
"Cuuihh." Grey tersadar lalu berkata, "Siapkan makan malam yang spesial untuk malam ini, sebelum menepi ke dermaga! Liat aksiku mengungkapkan perasaan, Peter!"
"Siap Bos!"