Wanita Tawanan Tuan Grey

Wanita Tawanan Tuan Grey
Delmora...?


__ADS_3

Keesokan paginya, Alicia tengah menyiapkan sarapan untuk dia dan juga Grey. Sesuai permintaan sang suami dia membuatkan menu sandwich tuna, serta teh Earl Grey.


"Teh sama orangnya sama-sama Grey!" batin Alicia dengan mengejek sang suami sambil mengaduk teh yang dia buat.


Alicia duduk di depan Grey usai menyerahkan secangkir teh, kemudian makan sarapannya dengan diam seribu bahasa.


Tatapan Grey begitu fokus ke arah Alicia saat tangan kanannya mengambil gelas yang berisi teh lalu kemudian menyeruputnya, teh pertama buatan sang istri langsung membuatnya candu. Dia kembali menyeruput seraya menikmati aroma minyak bergamot.


Bulu mata lentik, kulit putih mulus, bibir tipis seksi dengan warna merah muda merona serta polesan natural membuat Grey terpanah di pagi hari.


Ya, Grey menyesali sudah menyuruh mengenakan topeng, dia menikmati pemandangan di depan matanya. Begitu indah bahkan saat ini, matanya pun terfokus pada mulut yang mengunyah makanan.


Membuat Grey hampir hilang kendali hanya melihat bibirnya saja, leher jenjang yang terekspos pun begitu ketara saat Alicia menelan makanannya membuat dia juga ikut menelan sandwich yang sudah dikunyah.


Alicia yang mendapati dirinya dilihat begitu intens oleh sang suami menjadi risih, berulang kali dia melirik ke arah Grey dan mengelap sudut bibirnya sendiri saat menerka bahwa pria itu menatapnya karena cara makannya yang salah.


"Apakah ada yang salah denganku?" Alicia menaruh sandwich dan mengelap sudut bibirnya.


"No," sahut Grey saat mengunyah makanannya. "Aku ingin memberitahu padamu, kalau esok lusa aku ada pekerjaan di luar kota selama tiga hari."


"Oh, oke!" jawab Alicia dengan santai.


Grey kemudian menenggak habis teh tersebut lalu berpamitan pada Alicia untuk langsung pergi ke kantor, tanpa ada kecupan mesra sekalipun meski mereka sudah melakukan jauh dari sekedar morning kiss.


***


Disebuah perusahaan yang megah, Grey dengan sibuknya terus berkutik pada layar laptopnya. Hingga berkali-kali Peter mengetuk pun tidak didengar olehnya.


Sehingga membuat asisten pribadi dengan karakteristik sangat kaku, langsung masuk begitu saja tanpa permisi. Dia mengetuk meja Grey sembari menyerahkan laporan bulanan.


"Bos, ada telepon dari Tuan Dominic!" Peter juga menaruh ponselnya di depan Grey.


Membuat pria tengah sibuk dengan layar laptopnya teralihkan dengan ponsel yang diberikan oleh Peter, dia menjawab panggilan Dominic lalu segera menjauh dari asisten berkaca mata.


"Kee, apa kamu sudah membicarakan pada Alicia soal bulan madu kalian?" tanya Dominic ketika berbicara melalui telepon genggam.

__ADS_1


"Untuk sekarang Grey sibuk banget, Pa! Grey harus menghadiri acara lelang, esok lusa!" sahut Grey dengan jujur.


"Alic, ikut?" tanya Dominic.


"Nggak!" jawab Grey dengan singkat.


"Kamu gimana sih!" Dominic kecewa dengan jawaban dari anaknya. "Kenapa Alic tidak ikut?"


"Pah, kalau dia ikut, yang ada Grey tidak bisa konsen! Papa tahu sendiri kan, ini begitu penting buat perusahaan kita!" alibi Grey pada sang ayah.


Grey tidak mau bila rekan yang lain tahu sang istri, karena bisa dijadikan tawaran pertukaran istri dalam lelang itu. Oleh sebab itu, dia tidak mau sampai itu terjadi.


"Oke, baiklah kalau begitu! Nanti Papa akan bicarakan oleh dosen Alicia, karena Minggu depan dia sudah mulai harus kuliah sedangkan kamu malah menundanya!" ucap Dominic yang kecewa.


***


Alicia yang sudah siap untuk pergi berbelanja langsung mengabari Jacob, bodyguard-nya selalu siap siaga atau on time kapanpun Alicia butuhkan karena itu adalah pekerjaannya yang diperintahkan oleh Dominic.


"J, kita pergi ke toko kue yang ada di persimpangan jalan F, ya?" ujar Alicia yang ingin masuk di kursi belakang.


"Nggak apa-apa!" Alicia pun masuk ketika Jacob sudah membukakan pintu mobil yang berada di kursi depan.


"Yes!" sahut Jacob dengan senyuman kemenangannya saat dia berhasil membuat alasan agar Alicia mau duduk di samping.


Sebelum menjalankan mobil tersebut, Jacob menyalakan musik romantis untuk menemani sepanjang perjalanan mereka. Tentu saja, lagu-lagu yang diputar oleh dia adalah lagu favorit Alicia.


Sehingga membuat wanita dengan rambut digerai berpakaian kaos serta rok tutu yang selutut itu ikut bernyanyi, membawakan lagu romantis dengan terhanyut.


Tawa mereka menghiasi perjalanan yang cukup singkat, membuat Jacob tanpa sadar terus memandangi wajah Alicia yang tertawa lepas.


"Cantik!" gumam Jacob yang masih di dengar Alicia.


"Hah?" tanya Alicia yang berpura-pura lugu.


"Ah, ya ... Maksudnya, Nyonya cantik kalau tidak sedih, karena sudah menjadi tugas saya untuk membuat Nyonya tertawa." Jacob kembali fokus pada setir pengemudinya.

__ADS_1


"Dominic?" Alicia tersenyum saat mengira semua yang dikatakan Jacob semata-mata hanya perintah dari Dominic.


"Ya, Dominic!" sahut Jacob yang sebenarnya memang sudah tugas dia membuat wanita yang dia cintai tertawa.


Perjalanan mereka tiba di sebuah toko kue, gimana pada saat Alicia baru saja turun dari mobilnya tetapi telinganya mendengar seorang wanita yang berteriak ke arahnya.


"Hei!"panggil Alice saat mereka kembali dipertemukan.


Jacob langsung tercengang melihat kembaran Alicia, apalagi saat keduanya saling berpelukan satu sama lain. Membuat dia sulit sekali untuk mencerna apa yang dia lihat dengan mata kepala sendiri.


Deheman Jacob membuat kedua wanita kembar itu menyadarinya dan melihat ke arah samping Alicia, tanpa malu wanita yang memiliki rambut hitam itu memperkenalkan Jacob sebagai sahabatnya bukan bodyguard.


"Hai," sapa Alice yang melihat penampilan Jacob dengan style casual bukan formal yang pada umumnya dikenakan oleh seorang bodyguard.


Sehingga Alice menebak bahwa itu adalah kekasih Alicia, ternyata selerah wanita yang sama dengan dia begitu tinggi. Seorang pria dengan postur tegap tinggi memiliki wajah yang tampan, membuat Alice juga menganggumi sosok sahabat Alicia.


Mereka pun masuk bersama saat Jacob hanya bersikap dingin, membuat penilaian Alice terhandapnya menurun. Menurut wanita yang memiliki rambut pirang dengan Curly serta polesan make up yang cukup berani di tambah penampilan yang berbernded, lebih jauh ke mana-mana dari tunangannya Nicholas.


Sesampainya di dalam toko, Alicia di sambut hangat oleh mantan rekan kejarnya. Di sana Alicia dan Alice duduk bersama dengan Jacob.


"Oh, iya lupa kemarin kita belum sempat tukar chat, mana ponselmu?" tanya Alice yang memang sedikit lebih bar bar tidak seperti Alicia si pemalu.


Begitu selesai, Alicie memberikannya pada Alicia. "Oh ya, kenalin ... Alice!"


"Alicia!" sahut Alicia yang membalas uluran tangan wanita lebih tua sepuluh menit darinya.


"Alicia? Wow, are you serius?" tanya Alice yang mendapatkan anggukan. "Del ... mora?"


"Ya, Delmora," jawab Alicia kembali saat mengira wanita itu bisa menebak nama kepanjangannya.


"No, no, no, no, no! Maksud aku, Alice Delmora!" ucap Alice yang membenarkan maksud Alicia. "Namaku, Alice Delmora!"


Alicia nampak terpaku dengan ucapan wanita yang mirip dengannya, begitu juga Jacob yang duduk di samping Alicia seakan menelusuri mencari letak titik perbedaan pada raut wajah kembar itu.


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2