
Tidak kunjung ada pergerakan dari Jacob, Alicia membuka mata dan melihat kekasih gelapnya saat ini tengah tertawa puas mengerjainya.
"Apa kamu menunggu untuk kucium?" tanya Jacob dengan jujur sembari tertawa.
Alicia pun tidak percaya dengan apa yang Jacob katakan, dia sama sekali tidak bermaksud atau berharap Jacob bisa menciumnya, justru dia memejamkan mata karena dia begitu takut dengan jarak yang begitu dekat. Namun, Alicia hanya tertawa canggung dan membiarkan Jacob dengan pemikirannya.
"Sudahlah, aku sudah katakan, kita akan pelan-pelan secara bertahap." Jacob mengacak rambut Alicia dengan gemas.
Sampai pada akhirnya mereka berjalan menuju mobil, Jacob membukakan pintu mobil dengan gaya style yang membungkukkan tubuhnya dan itu membuat Alicia tersenyum canggung.
"Thanks," sahut Alicia yang masuk ke dalam mobil.
Jacob pun berlari mengitari mobil depan kemudian masuk memakai sabuk pengaman, tetapi Alicia yang sedari tadi kesulitan memakainya, dibantu juga oleh Jacob hingga jarak di antara mereka begitu dekat.
Kedua mata mereka saling tatap-menatap dan kali ini Alicia tidak memejamkan mata, karena tahu Jacob tidak akan menyentuhnya tanpa diberikan izin lebih dulu olehnya.
Senyum pun terukir di wajah Jacob, dia kembali duduk ke tempat asalnya dan menjalankan mobil ke mana hari ini mereka akan pergi wahana tempat permainan.
Selama perjalanan Jacob menunjukkan ekspresi bahagianya, begitu hangat tidak seperti menjadi saat menjadi bodyguard yang menunjukkan sikap dingin.
Selama perjalan Alicia menunjukkan sikap canggung, tidak akrab seperti saat dia menganggap Jacob sebagai kakaknya sendiri. Hanya saja dalam hatinya masih berkecamuk antara benarkah apa yang sudah dia ambil untuk menjalani hubungan secara diam-diam bersama Jacob?
Entah kenapa meski Alicia sudah mengambil keputusan untuk menerima tawaran dari Jacob dan saat ini bersama laki-laki itu. Namun, hati dan pikirannya masih tertuju oleh Grey.
"Hati? Cih, sadar Alicia ... toh dia saja pasti sedang asik bermesraan dengan wanita itu di kantor, jadi buat apa peduli?" batin Alicia berkata untuk meyakinkan bahwa keputusan yang dia pilih adalah benar.
Sesampainya di tempat wahana permainan, Alicia begitu terkenal karena ini baru pertama kalinya bagi dia datang ke tempat seperti itu. dari dulu sampai detik ini kesibukannya hanya mencari uang demi membantu sang ayah.
"Ayo!" ajak Jacob yang menarik tangan Alicia.
Alicia tersenyum kemudian dia mengikuti kemana langkah Jacob pergi, hari ini dia ingin membebaskan perasaan sedihnya mencoba menikmati alur yang ingin dia buat dengan goresan kebahagiaan, walaupun dia mengukir bersama orang yang mencintainya karena sudah terlalu lelah dirinya mencintai dalam suatu hubungan.
Kali ini, Alicia ingin merasakan bagaimana rasanya dicintai saat menjalani hubungan, terlihat jelas kalau Jacob benar-benar mencintainya, bahkan dia melihat bagaimana Jacob memperlakukannya begitu tulus.
__ADS_1
"J, kamu yakin ingin naik ini?" tanya Alicia ketika mereka sudah berdiri tepat di wahana tornado.
"Ahmmm ... mungkin kita naik yang di sana dulu aja kali ya?" Jacob menunjuk ke arah tururangga-rangga lalu menarik tangan Alicia.
Mereka pun menikmati wahana itu dengan tawa yang terlihat jelas di wajah mereka masing-masing, sesekali Jacob mengabadikan momen tersebut.
Puas menaiki wahana tersebut, mereka pun bergantian menaiki wahana lainnya sampai kini mereka berdiri tepat di wahana halilintar. Tanpa ada rasa canggung lagi, kini Alicia benar-benar melebarkan senyumannya dengan menarik Jacob lebih dulu untuk segera naik.
"J, buka mata kamu!" ujar Alicia yang tertawa.
"Al," panggil Jacob yang sebenarnya sedikit takut. Namun, dia memberikan diri demi orang yang dia cintanya.
"Apa kamu takut, J?" Alicia menggenggam tangan Jacob dengan erat agar pria itu tidak takut.
Jacob membuka matanya saat kereta mulai berjalan secara perlahan, sampai dititik tertinggi kereta berhenti. Lelaki dengan paras yang tidak kalah tampan dengan Grey mencengkram kuat-kuat tangan Alicia lalu dia pun berteriak bersama dengan yang lainnya.
"Wwwooooww ... aaaakkkhhh!" Serempak semua ikut menikmati sensasi yang menegangkan.
Teriakan demi teriakan begitu nyaring membelah suasana yang cerah kala itu, desiran angin kencang akibat pergerakan cepat menambah kesan yang luar biasa dan ketika kereta mulai melambat, itu menandakan bahwa permainan telah selesai.
"Minumlah dulu!" Alicia menyodorkan minuman ke arah Jacob setelah dia membuka penutup botol.
Jacob melihat pemberian dari Alicia dan melihat Alicia minum dengan botol yang berbeda, usai Alicia menenggak minumannya dia langsung mengambil milik Alicia lalu menenggak tetap di mana wanita itu minum.
Alicia tercengang untuk beberapa detik, itu menandakan bahwa mereka berciuman dengan secara tidak langsung. Deg, jantung Alicia begitu berdetak saat melihat jakun Jacob yang naik turun saat menelan air minum.
Namun, ternyata yang ada dipikiran Alicia adalah Grey yang tengah menenggak minuman itu, bergegas dia menggelengkan kepala untuk membuyarkan penglihatannya dan melihat Jacob yang ada di sampingnya.
"Thanks!" Jacob mengambil tutup botol dari tangan Alicia lalu menutupnya.
"J, itukan sudah aku minum," ucap Alicia yang memberitahu kepada Jacob.
"Apakah aku tidak boleh minum satu botol dengan kekasihku?" tanya Jacob yang menaikkan satu alisnya dengan bibir yang tersenyum. "Biar irit air minum!"
__ADS_1
Alicia langsung tertawa ketika Jacob membisikan di telinganya, kemudian menarik tangan Alicia untuk dibawa ke sebuah tempat untuk melihat atraksi ikan paus.
Alicia begitu senang melihat atraksi tersebut sampai tawanya pun terus mengembang di wajah cantik nan ayu itu, sampai Jacob pun yang melihatnya ikut senang.
Puas melihat atraksi ikan paus dan foto bersama, mereka keluar dari aula tersebut. Kini mereka berjalan menuju tempat makan, di sana Alicia memesan semua makanan kesukaan tanpa malu di depan Jacob.
"J, aku ke toilet dulu sebentar!" ucap Alicia yang meninggalkan pria itu usai mendapatkan izin.
Tidak lama kemudian, suara ponsel Alicia berbunyi. Jacob pun meraih ponsel yang ada di atas meja dia membaca pesan dari Grey yang menanyakan keberadaannya berada di mana karena suami dari wanita yang sedang berkencan dengannya ingin mengajak makan siang bersama.
Berusaha Jacob menghapus pesan tersebut, beruntungnya lagi Alicia tidak pernah mengunci ponsel menggunakan kata sandi. sehingga Jacob bisa melihat-lihat isi ponsel Alicia.
Usai puas mengutak-atik ponsel Alicia, Jacob meletakkannya kembali seperti semula. Sampai makanan pun, tiba bersama dengan kedatangan Alicia.
"Terima kasih," ucap Jacob pada waiters tersebut.
Jacob memotong-motong beberapa bagian daging steak yang kemudian dia tukar ke piring Alicia, agar mempermudah makan wanita itu.
Tentu saja sikap Jacob dengan perhatian kecil seperti itu membuat Alicia senang, tidak lupa juga tangan juga pun mengelap sisa saus pada bibirnya.
Sampai suara deringan ponsel pun berbunyi, Alicia melihat Grey menghubunginya. Sorot matanya melirik ke arah Jacob sebagai tanda meminta izin mengangkat telepon dari sang suami.
"Hallo?" sapa Alicia lebih dulu, kemudian telinganya mendengar apa yang dikatakan oleh Grey.
Bahwa Grey sudah menyuruh Alicia datang menemani makan siang dengan pria itu, tetapi dengan berani dia menolaknya, itu pertama kalinya Alicia berbohong pada Grey bahwasanya dia tengah menikmati makan siang bersama dengan Jacob.
Alicia dan Jacob pun melanjutkan makan siang mereka, sampai akhirnya selesai makan siang mereka memutuskan untuk pulang karena permintaan Alicia.
Selama perjalanan menuju apartemen Alicia tertidur pulas, Jacob berencana membangunkan Alicia tetapi melihat wajah cantik tersebut sedang terdiam, dia hanya bisa mengelus pipinya.
Entah hasrat dari mana sehingga Jacob mempunyai keberanian untuk mengambil kesempatan, dia mendekatkan dirinya lebih dekat pada Alicia.
"Maaf, Al ... aku tidak bisa menahannya!" Jacob langsung mengecup bibir Alicia dengan perlahan, sampai begitu lembut dan terasa manis dia rasakan tapi tidak dengan Alicia.
__ADS_1
Jacob terus memainkan bibir Alicia sepusanya sampai wanita itu sedikit terusik baru dia melepaskan pangutannya, dia terkekeh dengan ulahnya sendiri yang begitu pecundang. Namun, dia menikmatinya.
To be continued...