
Kelopak mata dengan bulu lentik perlahan mulai membuka matanya, dia melihat ke arah sekelilingnya di mana indera penciumannya sangat merasakan aroma pada bau obat.
Tiba-tiba saja, Alicia merasakan sakit luar biasa pada dadanya dan pikirannya tertuju pada Alice di mana dia sangat merindukan temannya seraya menangis.
"Alice?" Alicia mencoba bangun dari bangkar yang dibantu oleh Peter. "Peter? Grey mana? Kenapa aku bisa di sini?"
"Tuan Grey sedang mengurus sesuatu, mohon bersabar, lebih baik Nyonya jangan banyak gerak agar cepat pulih dan boleh pulang!" ujar Peter.
"Ponsel saya mana?" tanya Alicia.
Peter hanya menjawab bahwa ponsel Alicia bersama Grey, tetapi istri dari atasannya itu meminta ponselnya hingga dia pun terpaksa menyerahkan ponselnya.
Alicia yang memiliki perasaan khawatir dan terus memikirkan Alice langsung menghubungi temannya itu, tetapi tidak ada jawaban sama sekali. dia terus mencoba menghubungi hingga terdengar suara seseorang dari seberang telepon.
"Halo, Alice. Ini aku, bagiamana kabar kamu?" tanya Alicia.
"Alicia?" sahut pria dengan suara tangisannya.
"Nicholas? Ada apa?" Alicia langsung terkejut mendengar suara tangisan dari Nicholas, telinganya mendengar keadaan Alice yang kini membutuhkan transfusi darah.
"Please, Al! Bantu Alice," mohon Nicholas pada saat itu juga Alicia melihat Grey sudah masuk lebih dulu oleh dokter.
"Sore Nyonya Grey? Periksa dulu ya!" ucap dokter wanita yang memeriksa kondisi kesehatan Alicia.
Setelah diperiksa oleh sang dokter dan mengatakan bahwa kondisinya sudah baik-baik saja dan diperbolehkan langsung pulang, dokter itu pamit untuk memeriksa pasien lainnya.
"Oke, kalau begitu, kita langsung balik ke kota N!" ujar Grey saat menuntun Alicia.
Akan tetapi, Alicia justru menanyakan perihal keadaan saudara kembarnya kepada sang suami. Ya, dia sudah mengetahui kebenarannya dan ingin memastikan Apakah benar golongan darahnya sama dengan Alice.
Grey yang tidak mau membahas soal saudara kembar istrinya, hanya terdiam dan terus menuntun memapahnya hingga sampai di ruang administrasi.
"Grey!" ucap Alicia yang ingin mendengar perkataan dari suaminya tetapi Grey justru masih terdiam saja. "GREY!"
"NO, ALICIA!" bentak Grey yang emosi.
"Berati benar, kalau Alice adalah saudara kembarku? Iya?" tanya Alicia ketika dia menghentikan langkahnya. "Jawab Grey!"
"Iya! Dia saudara kamu, saudara kembar kamu!" jawab Grey.
Alicia terkejut bukan main, dia dari sang suami tetapi tubuhnya masih dicekal oleh Grey.
__ADS_1
"Antar aku ke tempat Alice!" pinta Alicia.
"Gak! kita pulang ke rumah sekarang!" Grey langsung menarik tangan sang istri tapi justru mendapat pemberontakan.
"Gak! Aku ingin bertemu dengan dia, Grey! Antarkan aku, please... dia butuh aku sekarang Grey!" Alicia menangis seraya terus memberontak ketika sang suami menariknya untuk ikut bersama dia. "Grey!"
"Aku bilang tidak ya tidak Alicia!" Grey langsung menghentikan langkahnya dan melihat ke arah sang istri.
"WHY!" tanya Alicia frustasi saat tangannya terus memegang bagian dada yang terasa sakit, napasnya juga tercekat.
"Aku rasa kamu juga mengerti kenapa aku melarangmu! Sekarang menurut lah, kita pulang!" Grey terus memapah Alicia untuk sampai di depan parkiran.
Namun, pada saat itu Nicholas langsung memanggil nama Alicia, membuat Grey menghentikan langkahnya dan melihat Siapa yang memanggil sang istri.
"Grey gue mohon sama Lo!" Tiba-tiba saja Nicholas mendekat ke arahnya dengan memelas dan menangis. "Please bantu gue! Gue bakalan ngelakuin apapun!"
Nicholas langsung bersimpuh di hadapan Grey, menjatuhkan harga dirinya demi nyawa sang kekasih. Tidak peduli di depan muka umum, yang ada dalam pikirannya saat ini adalah keselamatan Alice.
"Gue tahu, gue selalu menghina status Lo yang hanya anak haram, maafin gue Grey! Lo boleh menghina gue balik, bahkan mukul gue semau lo, benci gue seumur hidup Lo, bahkan bila perlu semua harta kekayaan gue buat bayar satu tetes Alicia!" ucap Nicholas seraya menangis.
Suasana dalam halaman parkir rumah sakit, tidaklah terlalu ramai. Namun, mampu mencuri perhatian ketika orang-orang lewat.
Alicia yang semakin kesulitan untuk bernapas, dia pun mencoba memohon kepada sang suami agar mengizinkannya.
Grey yang tidak tega melihat sang istri memohon seraya mengemis kepadanya, langsung memperbolehkannya, tetapi dengan syarat dan persyaratan itu hanya Alicia yang tahu.
Nicholas yang mendengar Grey menyetujui, dia langsung memeluk tubuh pria itu dengan erat seraya tersenyum meski air mata terus mengalir.
"Terima kasih, gue bakalan balas budi Lo!" ucap Nicholas.
***
Semua orang telah berkumpul di ruangan tunggu operasi usai Alicia menyumbangkan darahnya, dalam ruangan tersebut sangat jelas bahwa Dinda sama sekali tidak mengucapkan rasa terima kasih.
Jangankan hanya bertegur sapa, bahkan Dinda tidak melirik sedikitpun ke arah Alicia. Grey yang melihat rasa kerinduan dari air mata sang istri terhadap sang ibu langsung menghubungi ibundanya.
Dalam percakapan telepon tersebut sangat di tahu pasti bahwa Grey menjadi mangsa amukan oleh Agatha, wanita yang menjadi istri Dominic langsung memanggil Alicia saat mereka melakukan video call.
"Mah," panggil Alicia membuat Dinda bergetar dan melihat ke arahnya.
"Ya ampun, Sayang! Kamu tidak apa-apa kan?" Agatha menangis saat melihat Alicia dengan kondisi pucat.
__ADS_1
"Ya, Alicia baik-baik saja! Mama tidak perlu khawatir," sahut Alicia.
Percakapan Agatha dan Alicia sangat terdengar jelas di telinga Hans Dinda dan juga Nicholas, hingga membuat wanita paruh baya yang menjadi ibu kandung Alicia merasa cemburu.
Ya, cemburu atas kedekatan Alicia dengan sang mertua. hal itu pun membuat Grey memasang senyum sinisnya ke arah Dinda.
"Cih, norak!" Usai mengatakan hal itu Dinda langsung pergi dari ruangan tersebut yang disusul oleh Hans.
Rasa kesedihan Alicia pun terobati, saat agar tak menghiburnya. hingga percakapan mereka pun berakhir.
"Terima kasih," ucap Alicia. Dia menyerahkan ponsel ke arah Grey.
Grey langsung tersenyum dan memeluk sang istri. "Jangan sedih lagi!"
Alicia mengangguk lantas membalas pelukan suaminya, hingga malam telah tiba. Proses operasi pengangkatan peluru yang memerlukan waktu berjam-jam kini telah selesai.
Alice kini dipindah ke ruang ICU terlebih dahulu karena kondisinya yang masih kritis, Alicia yang sudah boleh bertemu saudara kembarnya, langsung mendekat dan memegang tangan itu.
"Hai," ucap Alicia dengan suara gemetar dan air mata yang menetes. "Ini aku, adikmu! Kau sungguh jahat sama aku, pergi tampa pamit ... tapi sekarang kau tambah cantik, tapi masih cantik kan aku!"
Alicia menggenggam tangan saudara kakaknya yang lebih tua beberapa menit sebelum dia, bibirnya tertawa dan tersenyum tetapi matanya menangis mewakili perasaan yang dia rasakan saat ini.
Alicia mengambil kesempatan saat ini untuk menceritakan pertemuan mereka pertama kalinya, mengungkapkan rasa bahagia, hingga bibirnya pun terus tertawa.
"Maaf ya, kalau nanti pas kamu bangun aku gak ada! Sekarang kita impas, kamu ninggalin aku sama Mama di saat aku sakit. Sekarang, aku ya ninggalin kamu di saat kamu sakit!" ujar Alicia tertawa kecil. "Gantian, kamu harus cepet sembuh! Cari aku, buat nebus hutang kamu!"
Alicia mengusap air matanya saat itu juga pundaknya mendapatkan remasan hangat dari sang suami yang menemaninya, dalam ruangan itu hanya diperbolehkan 2 orang yang masuk dan menggunakan pakaian yang sudah disterilkan terlebih dahulu.
"Aku pamit ya! Maaf, tidak bisa menemani kamu sampai bangun nanti, akan ada pangeran kuda putih yang kamu cintai ada di samping kamu," ucap Alicia yang kini berdiri. "Ingat Alice, kamu yang harus mencari aku sebagai penebus hutang kamu, aku menunggu kamu!"
Alicia mencium kening Alice yang masih terbaring kritis, dia melepaskan tangan sang kakak dan perlahan mulai keluar dari ruangan tersebut.
Mata Alicia pun bertemu dengan Dinda yang tidak sengaja berpapasan, Alicia hanya terdiam melihat reaksi apa yang ditunjukkan oleh Dinda.
"Ma," ucap Alicia untuk pertama kalinya. "Alicia pamit ya! Mama jaga kondisi kesehatan Mama, jangan sampai sakit! Salam buat Alice."
"Hmm," sahut Dinda yang langsung masuk ke dalam ruangan Alice. Bergantian dengan Alicia.
"Alicia, thanks!" ucap Nicholas yang dianggukan oleh Alicia.
"Jaga dia baik-baik ya! Jangan khianati dia, meski aku tahu Kak Nicholas tidak akan pernah menyakiti Alice." Alicia tersenyum kepada Nicholas.
__ADS_1
"Ya, pasti! Hati-hati di jalan! Kabari kalau keponakan gue udah nongol!" ucap Nicholas, dia memeluk Grey dan dibalas hangat suami Alicia itu.
Pasangan suami istri itu langsung pergi dari rumah sakit dan langsung terbang menuju kampung halaman mereka. Selama perjalanan Grey selalu menghibur istrinya agar tidak merasakan sedih atas perlakuan Dinda dan berpisahnya dengan saudara kembar.