
"Dasar, bodoh!" umpat Pablo di kala tahu bahwa wanita yang terkena tembakan, bukan targetnya si Nicholas. "Jalan!"
Mobil pun berjalan usai Pablo kembali memerintahkan asistennya untuk membunuh si penembak bayaran jarak jauh, meskipun begitu setidaknya Jacob tidak akan lagi mengincar wanita dari keluarga Hans.
Sementara di posisi Grey, pria yang memiliki janggut tipis dengan rahang kokohnya, begitu panik saat melihat sang istri langsung pingsan di hadapannya, bergegas dia membawa pergi ke rumah sakit terdekat bersama asistennya.
Begitu juga dengan Alice yang di bawa oleh ambulan, Nicholas terus menangis di samping sang kekasih yang sudah diberikan pertolongan pertama. Tangannya tidak pernah melepaskan genggamannya.
Sesampainya di rumah sakit, Alice langsung dibawa menuju ke Instalasi Emergensi. Suara roda berjalan pada bangkar menjadi ciri khas tersendiri ketika di dorong begitu cepat.
Nicholas terus mengikuti hingga salah satu staf medis langsung menyuruh dia untuk menunggu di ruang tunggu, sedangkan pasien langsung ditangani untuk diperiksa.
Di dalam ruangan tunggu, tubuh Nicholas bergetar hebat saat kedua bola matanya melihat tangannya sendiri berlumuran darah.
Padahal sudah menjadi makanan sehari-hari Nicolas saat berurusan dengan darah, mengingat notabenenya sebagai penerus Mafia. Namun, ini pertama kalinya dia bergetar hebat saat melihat darah.
Ya, darah wanita yang dia cintai, air matanya terus menangis deru napasnya tidak teratur. Dia pun meremas rambutnya sendiri saat pikiran jeleknya melintas di kepala.
"Rico, ya Rico!" ucap Nicholas yang mengingat asistennya sekaligus kaki tangan sang ayah. dia pun langsung menghubungi Rico dan meminta agar mencari tahu siapa di balik penembakan kekasihnya.
"Baik, Bos!" ucap Rico.
Nicholas pun mengeluarkan tanduknya lalu berkata pada dirinya sendiri. "Siapapun yang sudah berani bermain denganku, maka tidak akan pernah merasakan tenang selama hidupnya."
Sementara di posisi Grey, dia tengah menunggu hasil pemeriksaan senang istri. Sedaritadi Peter melihat bosnya itu terus mondar mandir dengan perasaan cemas.
"Al," gumam Grey yang menjambak rambutnya seperti Nicholas.
Kedua pria itu saling menunggu pujaan hatinya dengan perasaan khawatir yang begitu tinggi, sedangkan kedua wanita yang mereka cintai tengah diperiksa oleh sang dokter.
Masing-masing dokter yang menangani kedua pasien tersebut, memerintahkan asistennya agar menyampaikan kepada kedua pria yang sedang menunggu untuk mengurus surat administrasi.
Kedua pria yang menunggu di ruangan berbeda pun, pergi untuk mengurus administrasi. Nicholas lebih dulu berada di ruang administrasi, Grey menyuruh Peter untuk mengurus administrasi Alicia.
"Kita harus ambil tindakan operasi cepat untuk pengangkatan peluru pada pasien," ucap dokter kepada asistennya saat mereka berada di ruangan intensif Alice berada.
__ADS_1
Sang suster yang mengerti ucapan dari dokter langsung memberikan kabar pada temannya untuk menyampaikan kepada keluarga pasien untuk menandatangani surat persetujuan, suster itu menyerahkan berkas pada temannya.
"Baik," ucap suster B, dia menerima berkas data Alice.
Sang suster pun langsung mendekat ke arah ruang tunggu, dia membaca nama pasien seraya membuka pintu. "Keluarga pasien Nona Alice?"
Sorot mata sang suster tidak melihat keberadaan Nicholas dia pun mencoba untuk mencarinya, langkah kakinya bergegas seraya berucap, "Keluarga pasien Nona Al—"
"Iya, saya Sus!" Grey langsung berlari mendekat ke arah suster tersebut, usai menelpon mengabari kedua orang tuanya karena di dalam ruangan tersebut tidak mendapatkan sinyal yang cukup bagus.
"Bapak keluarga pasien?" tanya sang suster.
"Iya, Sus!" jawab Grey yang tambah panik.
"Ikut saya sebentar!" ujar si suster.
Grey langsung mengikuti langkah kaki ke mana suster itu membawanya, hingga sampai di ruangan bertemu dengan dokter.
Dokter itu menjelaskan kepada Grey, bahwa saat ini pasien kekurangan darah dan harus segera mendapatkan golongan darah yang sama, karena stok di rumah sakit tidak mencukupi apalagi golongan dari Alice sangat langka, dokter tersebut juga menjelaskan harus segera melakukan tindak operasi pengangkatan peluru pada bagian punggung Alice.
Grey terus mengeluarkan emosinya, jantung yang berpacu lebih cepat saat mendengar ucapan dari sang dokter. Dia terus berpikir menggunakan logikanya, bagaimana bisa Alicia terkena tembakan.
Sementara di sisi lain, Nicholas yang baru selesai menyelesaikan administrasinya mendengar bahwa sang istri tidak mengalami apapun, membuat dia langsung naik pitam marah dengan emosinya.
"Bagaimana bisa baik-baik saja! Pacar saya tertembak di depan mata saya! Dokter tidak melihat darah di tubuh saya, HAH! Darah sebanyak ini masih bilang baik-baik saja?" bentak Nicholas yang tidak mempercayai ucapan sang dokter.
Sang dokter yang merasa ada kejanggalan langsung menatap asisten masing-masing dengan sinis, dia juga berkata nama pasien untuk memastikan sekali lagi dan ternyata tertukar.
Dokter tersebut langsung memeriksa kembali data pasien dan terbukti saat itu juga baik Nicholas dan juga Grey saling bertemu, mereka mengetahui kondisi pasangan masing-masing.
Dokter yang mengurus masing-masing pasien juga langsung mengucapkan permintaan maaf sebesar-besarnya, atas kelalaian yang diperbuat oleh asisten mereka.
Setelah selesai berbincang mengenai kondisi Alicia, Grey yang mendengar sang istri baik-baik saja ada perasaan lega, tapi masih cemas karena Alicia juga mengeluarkan darah meskipun hanya setetes.
Sementara Nicholas langsung frustasi di tempat, mendengar bahwa golongan darah kekasihnya sangatlah langka. Apalagi ketika dia juga mengetahui bahwa stok di rumah sakit ternyata sudah habis.
__ADS_1
"Saya tidak mau tahu, cepet selamatkan calon istri saya! Jika tidak, saya pastikan rumah sakit ini akan tutup atas kecerobohan dalam salah menyampaikan informasi!" ancam Nicholas yang begitu marah.
Tidak lama kemudian, kedua orang tua Alice datang. Di mana wanita yang sudah melahirkan Alice bernama lengkap, Elizabeth Dinda Victoria, langsung terkejut mendengar kabar anaknya.
"Alice!" Dinda memegang jantungnya karena merasakan sakit, sedangkan Hans langsung memukul Nicholas melampiaskan rasa emosinya.
"Dasar tidak becus!" Hans terus memukulnya tepat di depan Grey, membuat pengusaha itu langsung menghentikan keributan tersebut.
Dinda yang masih terus berfikir bagaimana dia bisa mendapatkan golongan darah tersebut, matanya melihat ke arah Grey yang tengah memisahkan suaminya dari Nicholas.
"Alicia, ya ... Alicia memiliki darah yang sama!" gumam Dinda, dia pun mendekat ke arah Grey lalu berkata, "Di mana Alicia?"
Grey terkejut bukan main saat Dinda bertanya padanya mengenai keberadaan Alicia, tentu saja dia sangat tahu betul maksud dari pertanyaan istri dari Hans. Hingga senyum tersungging pun tercipta.
"Kenapa tanya keberadaan istri saya?" tanya Grey.
"Saya ingin bertemu dengannya!" ucap Dinda.
"Cih, saya tidak akan memberitahu keberadaan istri saya!" sahut Grey dengan dingin karena tahu pasti Dinda akan meminta darah Alicia untuk Alice. Dia tidak akan memberikannya sedikitpun untuk membantu Dinda karena tahu perlakuan ibu kandung Alicia.
"Kamu! KATAKAN DI MANA ALICIA!" bentak Dinda pada Grey.
Hans dan juga Nicholas melihat Dinda yang tengah berbicara pada Grey, kedua pria itu masih belum mengetahui apa maksud dari Dinda yang menanyakan keberadaan Alicia.
Sampai Hans pun bertanya sendiri pada sang istri, Lantas Nicholas juga mendengar bahwa ternyata Alicia dan Alice adalah anak kembarnya.
"Cepat, katakan pada saya, di mana kamu menyembunyikannya istri kamu!" ucap Dinda dengan menangis.
"Saya tahu!" ucap Nichola yang membuat Grey langsung menahannya.
"Sampai kapanpun saya tidak akan pernah mengizinkan Alicia untuk menyumbangkan darahnya pada Alice!" tegas Grey yang langsung mendapatkan pukulan dari Nicholas.
"Apa hak Lo, dasar manusia kejam!" umpat Nicholas.
"Cih, kejam? Lo tanya sendiri sama wanita tua ini, kejaman siapa sama seorang ibu yang tega meninggalkan anaknnya yang tengah sakit dan tidak pernah menganggapnya ada! Dan sekarang, tiba-tiba datang meminta Alicia menyumbangkan darah untuk anak kesayangan! Sampai kapanpun saya tidak akan pernah mengizinkannya!" ujar Grey yang langsung pergi dari sana.
__ADS_1