Wanita Yang Kau Abaikan

Wanita Yang Kau Abaikan
Episode 11


__ADS_3

Pagi hari ini Aina kembali mengunjungi rumah sakit untuk menjenguk Bu Mariam.


Langkah Aina terhenti saat melihat Shaka keluar dari rumah utama tanpa menyapa dirinya.


"Non, mau pergi sekarang?" tanya pak sopir.


"Iya Pak," kemudian Aina masuk kedalam mobil dan diantar oleh pak sopir.


"Pak, orang itu mau kemana ya?"


"Siapa non, tuan Shaka? dia juga mau menjenguk nyonya." Aina pun mengerti dengan mengangguk.


Setelah sampai rumah sakit, Aina bertemu dengan Adam dan Erina. Mereka jalan berdua dengan mesra dihadapannya. Setelah menikah lagi, Adam tak pernah mengunjungi istrinya bahkan ia melupakan kewajibannya.


"Mbak Aina!" sapanya.


"Hem," Aina tak menjawab apapun, ia hanya tersenyum pada Erina begitu juga pada suaminya. Ia sangat miris pada dirinya sendiri harus menyaksikan kemesraan suami dan madunya. Sekarang ia sadar ternyata selama ini ia bukanlah wanita yang diinginkan oleh suaminya bahkan ia baru menyadari bahwa Adam tak pernah mencintainya.


'Semoga kau bahagia Mas, kedepannya aku tak akan mengganggu hidupmu.' lirihnya dalam hati. Ia tak tahan melihat perhatiannya pada Erina. Lalu ia segera pergi meninggalkan sepasang suami istri yang baru menikah.


"Mbak kamu mau kemana?"


"Aku mau menjenguk Ibu."


"Oh iya mbak, nanti aku nyusul ya." katanya dengan manja menggelantung pada tangan Adam.


'Rasanya aku seperti orang asing, apa aku sudah tak dianggap lagi oleh Mas Adam?' pikirnya dalam hati.


Shaka baru saja sampai dirumah sakit. sebelum datang kesana, Shaka mampir dulu ke perusahaan Mariam untuk bertemu Adam. namun ia tak melihatnya disana.


"Adam!" panggilnya. Seketika Adam melirik kearah suara yang memanggilnya, ia terkejut dengan kedatangan Shaka yang tiba-tiba berada dirumah sakit.

__ADS_1


"Paman Shaka!" kemudian ia menghampiri Shaka lalu memeluknya. Sudah lama mereka tidak bertemu.


"Paman Shaka apa kabar." walaupun usia Shaka lebih mudah 2 tahun dari Adam, ia tetap memanggilnya paman untuk menghormatinya.


"Ck, kau masih memanggilku paman. Aku tak suka dengan panggilan itu." ucapnya dengan melipatkan tangan di dada.


"Sangat tidak sopan kalau aku memanggil nama mu. Tapi baiklah aku akan memanggilmu Shaka."


"Nah, itu panggilan yang pantas untukku." mereka berdua saling bertukar cerita sebelum menjenguk Bu Mariam.


"Dia siapa?" tanya Shaka mengalihkan pandangannya pada seorang wanita yang berada dibelakang Adam.


"Ah iya, perkenalkan dia Erina, istriku." seketika Shaka mengerutkan keningnya lantaran ia bingung dengan dua wanita yang menjadi istri Adam. 'Apa mungkin wanita yang berada dirumah kakakku hanya mengaku sebagai istrinya?' Shaka bertanya-tanya dalam hatinya.


"Ah istrimu, kau tidak mengundangku Adam."


"Maaf! aku belum merayakan pesta pernikahanku. Mungkin nanti aku akan mengundangmu."


"Tentu saja itu harus, kau tak menganggap ku jika tak memberitahuku." Adam tersenyum malu, sudah dua kali menikah namun ia tidak pernah memberitahunya.


"Mari aku antar, aku juga akan menjenguk Ibu." kata Adam.


Aina menangis terharu disamping Bu Mariam, ia tak menyangka akhirnya Bu Mariam telah sadar dari koma.


"Ibu, akhirnya Ibu sadar. Terima kasih sudah bertahan Bu." ucapnya dengan menggenggam tangan Ibu mertuanya.


"Aina," ucapnya dengan suara lemah.


"Ya Bu, ada apa? ibu mau minum?" ucapnya, Bu Mariam menggelengkan kepalanya.


"Apa kamu baik-baik saja?"

__ADS_1


"Aina baik-baik saja Bu, jangan khawatirkan Aina." Bu Mariam menarik nafasnya dalam-dalam untuk melanjutkan ucapannya.


"Aina," ucapnya diam seketika. "Kau boleh menyerah jika sudah tak kuat." ucapnya dengan nafas tersengal-sengal. Aina tak terlalu mendengar jelas ucapan Ibu mertua.


Bi Asti mulai menjelaskannya pada Aina.


"Nyonya bilang jika non Aina sudah tak tahan dengan kehidupan rumah tangga. Nona bisa menyerah, nyonya Mariam tidak mempermasalahkannya asal nona bahagia." jelasnya, lalu Asti menatap Bu Mariam untuk memberi persetujuannya. Bu Mariam pun mengangguk atas jawabannya.


Mata Aina mulai berkaca-kaca. Ia memang sudah tidak tahan lagi dengan sikap suaminya. Namun, bagaimana pun ia masih mencintai suaminya. Ia masih berharap Adam akan kembali padanya.


"Aku masih mencintai Mas Adam Bu, aku akan menjalaninya walaupun badai menerpa di kehidupan rumah tanggaku. Ibu tak perlu khawatir padaku, Ibu pasti tahu kan bahwa aku ini wanita terkuat." ucapnya dengan tersenyum.


"Jika memang aku tak kuat lagi dengan kehidupanku yang sekarang, maka aku pasti akan menyerah Bu. Aku hanya bisa menjalaninya sesuai takdir." sambungnya lagi. Sudut mata Bu Mariam meneteskan air mata, ia tak kuat mendengar penjelasan Aina. Namun ia tetap menghargainya.


"Ibu tak perlu khawatir ya," Bu Mariam mengangguk menanggapinya.


"Nyonya mau menjalankan pengobatan di Amerika non, maaf bibi baru memberitahukan soal ini pada nona. Mungkin Nyonya berbicara seperti itu pada nona karena nyonya mau menjalankan pengobatan yang membutuhkan waktu lama." Aina mengangguk mengerti lalu ia menggenggam tangannya.


"Bu semangat ya, Ibu tak perlu mengkhawatirkan Aina. Pokoknya Ibu fokus saja pada pengobatan Ibu agar cepat sehat kembali dan kita bisa berkumpul bersama lagi."


"Terima kasih Aina," ucapnya dengan suara lemah."


Tak lama kemudian Adam, Shaka, dan Erina datang menjenguknya. Tatapan Bu mariam tajam pada Erina, ia tak menyukai wanita yang sedang berada didekat anaknya.


"Pergi kamu dari sini!" ujarnya dengan suara lemah namun tatapannya yang membuat Erina takut.


"Ibu, tolong jangan seperti ini."


"Pergi." Adam terpaksa menyuruh Erina keluar agar tak mengganggu kesehatan Ibunya. Sedangkan Shaka menatap Aina dengan berbagai pertanyaan dalam pikirannya.


'Jadi siapa wanita itu? kenapa dia sangat dekat dengan kakakku." ucapnya bertanya-tanya dalam hati.

__ADS_1


Asti juga menjelaskan kesehatannya pada Adam dan juga Shaka, mereka semua setuju untuk membawa Bu Mariam ke Amerika. Begitu juga dengan Shaka yang akan tinggal bersama Adam untuk mengelola perusahaan Bu Mariam.


"Kakak, semangat ya. Aku akan tinggal disini demi kemajuan perusahaan kakak. Kakak fokus saja pada kesehatan kakak." ucap Shaka menyemangatinya. Sebenarnya Shaka bukan adik kandung Mariam, namun Mariam tetap menganggapnya adik bahkan Shaka sudah menjadi kepercayaannya.


__ADS_2