
Adam menghentikan aktifitasnya, ia segera memakai bajunya dengan rapih lalu ia membuka pintu apartemennya. "Sayang, tunggu disini. Aku mau membukakan pintu dulu."
"Iya Mas," kata Erina lalu ia pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
"Jack! aku sudah bilang jangan menggangguku. Ada apa kau kesini hah!" ucapnya dengan membukakan pintu untuk Jack.
Jack yang melihat penampilan Adam pagi ini, ia hanya bisa menggelengkan kepalanya. "Kau terlalu menikmati malam pertamamu. Aku sudah menghubungimu berkali-kali. Kenapa kau tak menjawab teleponku bos." kesalnya. "Memangnya ada apa? kau menggangguku saja."
"Ck, Ibumu masuk rumah sakit bodoh! Bahkan istrimu yang menghubungiku." seketika Adam terdiam mencerna kata-kata Jack. "Ibuku masuk rumah sakit? apa maksudmu?"
Tiba-tiba Erina menghampiri suaminya dengan rambut yang masih basah. "Ada apa Mas?"
"Ibu masuk rumah sakit sayang, kita harus segera kesana." ucap Adam dengan wajah paniknya.
"Ya sudah kalau begitu aku mau kembali kekantor. Pekerjaanku masih banyak." kata Jack. Lalu ia pergi meninggalkan apartemen.
Adam segera mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ia sangat takut dengan penyakit Ibunya yang semakin hari semakin memburuk. Bahkan baru kali ini ia mendatangi rumah sakit setelah sekian lama. "Mas, pelan-pelan dong bawa mobilnya. Aku takut."
"Maaf sayang, aku harus cepat sampai. Kau bisa menutup matamu." kata Adam, Erina sangat kesal dengan suaminya. Ia tak suka jika Adam terlalu mementingkan Ibunya.
Setelah menempuh perjalanan 1 jam akhirnya mereka telah sampai dirumah sakit tempat Ibunya dirawat. Adam berjalan dengan tergesa-gesa tanpa mempedulikan Erina yang masih berjalan dibelakangnya.
__ADS_1
'Kenapa gak mati saja si nenek tua itu, kan aku jadi rempong begini.' kesalnya, sepanjang jalan Erina terus saja menggerutu. Erina wanita sederhana dari desa dulunya ia wanita yang lembut dan ramah, bahkan banyak orang yang menyukainya karena sikapnya yang ramah. Namun, setelah bertemu dengan Adam pria yang kaya raya sikapnya seketika berubah menjadi sombong.
Adam melihat Aina yang sedang duduk bersama bi Asti. Lalu ia segera menghampiri Aina. "Aina bagaimana dengan keadaan Ibu." Aina segera menatap pria dihadapannya yang semalam ia rindukan. "Mas Adam! Ibu mengalami koma Mas." ucapnya dengan suara yang lemah. Adam melihat penampilan istrinya yang berantakan bahkan kantung matanya yang terlihat menghitam membuat Adam bertanya-tanya dalam hati. "Ibu mengalami koma?"
"Iya Mas," Adam merasa dirinya telah bersalah telah melawan pada sang Ibu. Mungkin karena kesalahannya membuat Bu Mariam mengalami koma. "Kenapa Ibu bisa begini Aina? Apa kau tidak menjaganya."
Bi Asti yang mendengar pun sangat geram pada tuannya. "Maaf tuan, ini bukan kesalahan non Aina. Semalam nyonya tak bisa tidur karena memikirkan tuan. Kenapa anda tidak pulang kerumah? bahkan saya sudah menghubungi anda." kata bi Asti.
"Maaf bi, semalam saya benar-benar sibuk." Tak lama kemudian Erina datang dengan nafas ngos-ngosan karena mengejar langkah suaminya. "Mas, kenapa langkahmu cepat sekali. Kau malah meninggalkanku lagi." ucapnya dengan manja menggelantung pada tangan suaminya. Aina dan bi Asti menyaksikan kemesraan sepasang suami istri, bahkan Adam tak menghargai Aina yang berada dihadapannya. Sedangkan bi Asti sudah mengetahui tentang pernikahan Adam dan Erina namun ia tak memberitahunya pada Aina.
"Aku minta maaf Erina," ucapnya.
"Mas, kamu ini gimana sih? kau tahu sendiri kan semalam aku kewalahan melayanimu 5 ronde." ucapnya dengan polos. Seketika Aina mencerna kata-kata Erina barusan.
"Mbak gak ngerti atau emang gak tahu? aku dan Mas Adam sudah menikah semalam." ucapnya. Lalu Aina menatap Adam dengan serius, ia meminta penjelasan pada suaminya. "Iya aku sudah menikah dengan Erina." ucapnya. Seketika hati Aina merasakan sakit kembali, tak terasa air matanya menetes begitu saja.
"Tega kamu Mas, pantas saja semalam kau tak pulang kerumah. Jadi ini kenyataannya." ucapnya dengan penuh kekecewaan.
"Maafkan aku Aina, aku tak bisa menunda keinginanku. Aku minta maaf karena tidak memberitahumu dan juga Ibu."
"kamu tega Mas, semalam Ibu tak bisa tidur karena memikirkanmu tapi nyatanya kau malah bersenang-senang dengan istri mudamu itu." ucapnya dengan nada penuh penegasan. "Ibu mengalami koma, semua ini karena keserakahanmu Mas."
__ADS_1
Erina tak terima melihat suaminya yang diam saja tanpa menjawab ucapan Aina. "Mbak, bukankah mbak merestui pernikahan kami. Lalu kenapa sekarang mbak kecewa?"
"Aku sudah bilang, aku merestui hubungan kalian. Tapi tolong jangan secepat ini karena kondisi ibu sedang tidak baik. Apa kamu tak bisa menahannya untuk sebentar saja, Mas." kata Aina dengan bibir bergetar, tangan mengepal, serta air mata yang membasahi pipi mulusnya.
Erina kembali menjawab ucapan Aina. "Mbak, aku mau ngasih tahu sama Mbak ya. Mas Adam menikahiku karena dia sudah tidak tahan dengan hawa nafsunya. Bahkan semalam Mas Adam melakukan berkali-kali. Harusnya mbak mengerti kalau mbak tak bisa memuaskan suami mbak, mbak juga harus bersyukur karena ada aku yang bisa melayani suamimu." ucapnya tanpa rasa malu dihadapan Aina, bahkan bi Asti yang mendengar pun ikut jengkel.
Adam menceritakan semua kekurangan istrinya pada Erina, bahkan urusan ranjang pun Adam telah menceritakannya tanpa menghargai perasaan istri pertamanya.
Aina tak menjawab ocehan madunya, ia hanya diam dengan menatap Adam. Ia merasa dirinya tidak sempurna untuk Adam. Bahkan ia baru tahu Adam tidak terpuaskan olehnya sehingga Adam memilih untuk menikah lagi.
"Sekarang aku mengerti kenapa kamu menikah lagi Mas, semoga pernikahan kalian bahagia." ucapnya dengan tersenyum getir.
Adam tak menjawab apapun, ia diam membisu tanpa mempedulikan ucapan istrinya. Dalam hatinya ia hanya memikirkan keadaan sang Ibu yang sedang mengalami koma. Ia tidak ingin mendengarkan kata-kata dari Aina, karena menurut dirinya Aina tidaklah penting.
Adam dan Erina segera meninggalkan Aina yang masih berdiri dengan tangisannya. Adam berjalan ke ruang rawat Ibunya, ia melihat Bu Mariam dari luar kaca karena ia tak diizinkan untuk masuk dulu. "Mas aku kasihan melihat Ibumu," kata Erina dengan ekspresi menyedihkan. "Iya sayang, doakan Ibuku agar cepat sembuh."
"Iya Mas, semoga Ibu segera sadar dan sembuh."
"Terima kasih sayang,"
"Lalu bagaimana dengan istri pertamamu itu Mas? aku jadi kasihan melihatnya."
__ADS_1
"Biarkan saja, kau jangan bahas dia. Aku tak peduli padanya." Erina mengangguk dengan jawabannya. Ia tersenyum senang karena suaminya yang sudah tidak mempedulikan istri pertamanya.