
Adam melangkah menuju kamar Aina, lalu ia masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
Brakkk.
Aina yang sedang membereskan pakaian kaget dengan suara dobrakan pintu.
"Mas Adam."
Plakkk.
Tiba-tiba saja Adam menamparnya tanpa berbicara apapun. Aina memegang pipi mulusnya yang terasa panas.
"Apa maksudmu Mas?"
Adam menatapnya dengan tajam.
"Kau jangan cari perhatian, Aina. Kau sengaja mendekati Shaka!"
"Aku tak mengerti apa maksudmu Mas?"
"Seperti inikah sikapmu dibelakang ku? apa selama ini kau sering menggoda pria lain?" ucapnya tanpa memikirkan perasaan Aina.
"Apa maksudmu Mas, selama ini aku hanya diam dirumah dan tak pernah pergi kemanapun tanpa izin mu."
"Lalu kenapa kau menggoda Shaka hah! setelah dulu kau menggodaku. Sekarang kau ingin menggoda Shaka. Apa hartaku tak cukup!" Aina menggelengkan kepalanya, ia tak mengerti dengan pikiran suaminya yang tiba-tiba saja menuduh pada dirinya.
"Jawab!" tegasnya dengan rahang mengeras serta mata memerah. Adam sangat marah melihat kedekatan Aina dan Shaka.
"Aku tak tahu kenapa Mas seperti ini? aku juga tak tahu dimana letak kesalahanku. Aku hanya berteman dengan kak Shaka bahkan dia sudah ku anggap saudaraku. Lalu apa salahnya jika aku hanya mengobrol dengan dia."
"Kau malah bertanya padaku! harusnya kau berpikir. Seorang istri tak pantas berbicara dengan pria lain selain suaminya."
Aina menarik nafasnya kasar lalu ia menatap manik mata suaminya.
"Lalu bagaimana denganmu Mas? kau menikah lagi tanpa memberitahuku, itu sama saja kau selingkuh. Tak pernah menghargai perasaanku dan kau tak pantas memperlakukan aku seperti itu." Aina mulai mengeluarkan perasaan yang ia pendam selama ini. Ia tak tahu kenapa tiba-tiba ia berbicara seperti itu pada suaminya. Mungkin karena sakit hatinya yang sudah terlalu dalam.
Plakkk Adam kembali menampar pipi Aina.
"Berani kau melawanku!" tegasnya dengan nada meninggi.
Aina merasakan perih di kedua pipinya, ia menangis menahan sakit hati melihat perlakuan Adam padanya. Selama ini Adam tak pernah berlaku kasar, baru kali ini Adam menamparnya tanpa sebab.
"Kau tinggal disini itu karena Ibuku, kau juga bisa menikah denganku itu kerena Ibuku. Harusnya aku tak menikahi wanita pembangkang seperti dirimu, Aina." Aina tersenyum getir dengan ucapan suaminya.
"Kalau begitu apa sebaiknya kita bercerai saja? agar hidupku tidak bergantung pada Ibumu lagi." tegasnya. Seketika Adam terdiam dengan apa yang diucapkan Aina. Ia memang marah pada Aina namun setelah Aina mengucapkan kata cerai, hatinya merasa tidak rela. Apa mungkin Adam sudah mencintai Aina, namun ia tak menyadarinya?
"Kenapa diam saja Mas, aku hanya beban dirumah ini. Aku tidak ada gunanya untukmu bahkan aku bukan wanita yang kau cintai. Untuk apa kau masih mempertahankan hubungan ini, kalau begitu ceraikan saja aku!" ucapan Aina sampai menusuk hati Adam, Adam terdiam menatap wajah istrinya yang selama ini telah menemaninya selama 5 tahun. Namun, ia tak pernah mencintai Aina.
__ADS_1
Adam pergi begitu saja tanpa menjawab pertanyaan Aina.
"Mas kau sudah dari mana? kenapa wajahmu kusut sekali." Erina pura-pura tidak tahu padahal ia mendengar pertengkaran Adam dan Aina.
"Aku sudah menemui Aina," ucapnya.
"Oh sudah menemui Aina Mas? aku kira kau kemana. Sekarang udah siang, apa Mas libur kekantor?"
"Tidak, aku mau berangkat sekarang. Tolong jaga dirimu baik-baik disini."
"Iya Mas, cup." Erina mengecup bibir suaminya dengan lembut.
"Terima kasih sayang,"
"Hati-hati dijalan ya Mas." Adam mengangguk tersenyum atas jawabannya.
Setelah kepergian Adam, lalu Erina masuk kedalam dan menemui Aina dikamarnya. Ia melihat Aina yang sedang menangis dengan memeluk lututnya. Rasanya ia ingin tertawa bahagia dengan penderitaan Aina.
'Bagus, sebentar lagi Mas Adam pasti akan menceraikannya. Aku harus menagih janji Mas Adam nanti malam. Aku yakin Mas Adam akan memilihku.' ucapnya dalam hati.
...****************...
"Selamat pagi bos, tumben kau datang kesiangan?" kata Jack yang baru saja masuk keruangan Adam.
"Aku seorang bos di perusahaanku. Terserah aku mau datang kapan, ini perusahaanku dan aku bebas menjalaninya." kata Adam tegas. Jack tersenyum dengan Adam yang mulai kesal padanya.
Brakkk.
"Beraninya Kau!"
"Kenapa marah bos, aku kan hanya becanda."
"Pergi kau dari sini! aku sedang tak ingin berurusan denganmu." usirnya, kemudian Jack segera keluar dari ruangan bosnya lalu ia pergi ke ruang kerja.
"Selamat pagi tuan Shaka." ucapnya disaat ia bertemu dengan Shaka yang baru saja sampai dikantornya.
"Pagi Jack, apa kabar?"
"Kabar saya baik, bagaimana dengan anda?"
"Seperti yang kau lihat." ucapnya, dengan mengangkat kedua pundaknya.
"Bagaimana perusahaanmu yang berada diluar negri?"
"Baik-baik saja, sekarang saya akan mengelola perusahaan disini. Oh iya, dimana ruang kerja Adam?"
"Tinggal lurus saja,"
__ADS_1
"Terima kasih Jack, kalau gitu saya mau bertemu Adam dulu." ucapnya, Jack mengangguk sebagai jawaban. Kemudian Shaka melangkahkan kaki menuju ruang kerja Adam.
Tanpa mengetuk pintu, Shaka masuk kedalam ruang kerja Adam. Ia melihat Adam yang sedang memegang kepalanya dengan menatap layar yang ada didepan.
"Selamat pagi."
"Kau! sejak kapan disini?"
"Baru saja, apa kau tak mendengar aku membukakan pintu ruangan mu. Kau terlalu memikirkan sesuatu sehingga kau tak fokus."
"Mana berkas yang aku minta?" sambungnya lagi. Adam memberikan berkasnya pada Shaka. Biasanya Bu Mariam yang akan mengecek data perusahaan, akan tetapi sekarang Shaka lah yang akan mengeceknya sebagai kepercayaan Mariam.
"Baik, terima kasih." Shaka kembali melangkah menuju pintu keluar, namun langkahnya terhenti lalu ia berbalik badan menghadap pada Adam.
"Ada apa lagi?" tanya Adam.
"Aku hanya mau bilang, kau hebat memiliki istri dua." katanya, lalu ia pergi meninggalka ruang kerja Adam dengan membawa berkas yang telah Adam berikan.
Ponsel Adam berdering menandakan pesan masuk pada ponselnya. Lalu ia melihat dan membaca pesan dari Erina.
"Mas, semangat ya. Aku mau beri kamu kejutan." begitulah isi pesan dari Erina. Adam penasaran, ia pun segera membalasnya.
"Apa itu? beri tahu aku sekarang."
"Sabar dong Mas, pokoknya ini hadiah untukmu."
"Apa itu?"
Erina mengirimkan foto sebuah tespack yang sedang dipegangnya.
"Aku hamil Mas," Isi pesan yang baru saja Erina kirim. Mata Adam langsung berbinar melihat apa yang telah Erina kirimkan padanya. Seketika ia langsung menghubungi Aina lewat telponnya.
"Hallo sayang,"
"Ya Mas, aku tahu kau pasti menghubungiku. Kau senang kan?"
"Iya sayang, kau serius sedang mengandung benihku?"
"Tentu saja Mas, aku sedang mengandung benihmu. Nanti kita periksa kedokter agar Mas tahu."
"Baiklah, Mas sangat terharu. Akhirnya kau mengandung Erina. Terima kasih." ucapnya dengan air mata bahagia, tak terasa Adam meneteskan air matanya. Ia sangat bahagia dengan kabar kehamilan istri muda, bahkan masalah yang ia hadapi dengan Aina seketika hilang begitu saja.
Awalnya ia berpikir bagaimana menyelesaikan masalah dengan Aina, karena Aina yang menyuruhnya untuk menceraikan namun Adam tak bisa memutuskan itu lantaran ia tak mau kehilangan. Akan tetapi setelah ia mendapat kabar bahwa istri mudanya telah mengandung, dengan gampangnya ia melupakan permasalahannya dengan Aina.
"Tapi aku mau menagih janji padamu Mas? kau pilih aku atau istri pertama mu itu?"
"Tentu saja kamu sayang," ucapnya dengan lantang, tanpa berpikir Adam mengucapkannya pada Erina bahwa ia lebih memilih Erina yang sedang mengandung anaknya, seketika Erina bahagia dengan ucapan suaminya dan rencana yang ia susun akan segera berhasil.
__ADS_1