
Adam membawa Erina untuk bertemu dengan Ibu dan istrinya, disepanjang jalan Erina mengeratkan jari tangannya pada tangan Adam. Ada rasa takut dalam dirinya untuk bertemu dengan istrinya Adam.
Aina melihat mobil Adam yang terparkir dihalaman. Sebelum menemui suaminya, Aina mencuci tangannya dulu lalu ia berjalan ke pintu utama. Namun seketika langkahnya terhenti melihat Adam dengan seorang wanita. Seluruh badan Aina menjadi kaku melihat kenyataan didepan matanya. 'Semoga aku kuat Tuhan.' lirihnya dalam hati. Begitu juga dengan Bu Mariam yang baru saja turun dari lantai atas dengan kursi rodanya yang didorong oleh bi Asti.
Bu Mariam menggenggam tangan Aina dengan lembut. "Semoga kamu kuat Aina." Aina tersenyum menyembunyikan rasa sakit di hatinya, ia tetap tegar dihadapan Ibu mertuanya walaupun hatinya terasa sakit.
Adam melangkah menuju pintu utama dengan menggandeng tangan seorang wanita yang akan dinikahinya. "Ibu, Aina, kalian sudah berada disini." Aina tersenyum menatap suaminya. "Iya Mas, aku menunggumu." ucapnya.
Lalu Adam memperkenalkan Erina pada Ibu dan juga istrinya, seketika Aina menjadi insecure melihat madunya yang masih muda dan cantik. "Dia Erina, wanita yang akan ku nikahi." kata Adam dengan memperkenalkan calon istrinya.
Deg, seketika jantung Aina bagai disambar petir. Padahal sebelumnya ia sudah menyetujui keinginan sang suami, bahkan ia sudah mengikhlaskannya. Namun, pada kenyataannya Aina tak setegar itu untuk menerima madunya. Hatinya sakit seperti ditusuk duri melihat suaminya dengan seorang wanita, apalagi wanita itu masih muda dan cantik.
"Saya Erina," ucapnya dengan nada pelan sambil memainkan jari tangannya. "Saya Aina istri Mas Adam," kata Aina dengan melambaikan tangannya pada Erina. Bu Mariam hanya diam saja, ia tak menyambut kedatangan Erina. Karena dirinya masih belum bisa merestui hubungan anaknya dengan Erina.
'Rupanya istri Mas Adam biasa saja tak seperti yang aku pikirkan. Pantas saja Mas Adam ingin menikahiku. Aku yakin Mas Adam akan lebih mencintaiku daripada istrinya.' Pikirnya dalam hati dengan penuh harapan. Erina memang masih muda dan cantik, akan tetapi Aina lebih terlihat cantik dan manis walaupun usianya jauh lebih tua ia tetap terlihat cantik dengan wajah tanpa polesan.
"Asti tolong antar saya kekamar." pinta Bu Mariam pada Asti pembantunya, Bu Mariam tak menyukai dengan kedatangan calon istrinya Adam. Entah kenapa ia merasakan sakit di dadanya melihat ketegaran menantunya. Adam segera menghentikan langkah bi Asti lalu ia menghampiri Ibunya. "Ibu, ada apa denganmu? kenapa Ibu seperti ini. Bukankah Ibu juga sudah merestui ku." ucapnya. Bu Mariam menatap Adam dengan tatapan yang tak bisa diartikan. "Ibu tak ingin melihat calon istrimu itu, entah kenapa hati Ibu sakit sekali melihatmu membawa perempuan itu kesini." ucapnya dengan tatapan kecewa lalu Bu Mariam pun kembali menyuruh Asti untuk mengantarkannya kekamar.
__ADS_1
Adam mengusap wajahnya kasar, ia tak tahu harus bagaimana untuk mengambil hati Ibunya. "Mas, biarkan Ibumu istirahat saja, aku tak apa-apa." ucap Erina. Aina yang melihat keakraban suami dengan madunya, membuat hatinya sakit melihat kenyataan didepan matanya. Padahal ini baru perkenalan, bagaimana jika nanti mereka sudah sah menjadi suami istri? apakah Aina bisa menerima atau malah hatinya semakin sakit?
"Aina, kau temani Erina dulu. Aku mau menyusul Ibu." Aina pun mengangguk sebagai jawabannya.
"Silahkan diminum dulu juice nya." kata Aina.
"Terima kasih mbak, bolehkah aku bertanya padamu?"
"Ya, silahkan. Apa yang ingin kau tanyakan?"
"Apa benar, mbak menerima saya sebagai madu?" tanyanya, Aina tersenyum getir mendengar ucapan Erina. "Wanita mana yang ingin berbagi suami. Aku terpaksa karena keinginan suamiku. Kau pasti sudah tahu kenapa suamiku ingin menikahi mu." Erina mengangguk dengan jawabannya. "Maafkan saya mbak, sebenarnya saya tak ingin menyakiti hati mbak Aina. Tapi suami mbak memaksa saya untuk menjadi istrinya." ujarnya.
"Karena aku butuh uang dan aku sudah terlanjur mencintai suami mbak Aina." ucapnya tanpa rasa malu dan bersalah. Aina geram dengan jawaban Erina yang memancing emosinya.
Adam kembali keruang tamu menemui Aina dan juga Erina yang sedang mengobrol. Adam penasaran dengan obrolan keduanya, ia melihat Aina dengan wajah kesalnya begitu juga dengan senyuman bibir Erina. 'Ada apa dengan mereka berdua.' pikirnya.
"Mas, bagaimana dengan Ibu?"
__ADS_1
"Ibu baik-baik saja Aina, aku sudah membicarakan semuanya pada Ibu. Aku akan menikahi Erina dua hari lagi." seketika mimik wajah Aina berubah menjadi sendu. "2 hari lagi? apakah secepat itu Mas."
Adam mengusap kasar wajahnya, ia sudah menebak reaksi Aina pasti akan terkejut. "Kau tak bisa membantah keputusanku Aina. Aku akan menikahi Erina 2 hari lagi. Semoga kau mengerti."
"Tapi kenapa secepat ini Mas?"
"Bukankah kau menyetujuiku untuk menikah lagi."
"Ya, aku menyetujui mu Mas. Tapi kenapa secepat ini?" Aina pikir keputusan suaminya tidak secepat ini. Namun ternyata ia salah, harapannya seketika hancur. Sedangkan Erina tersenyum bahagia dengan keputusan calon suaminya. Ia merasa diutamakan oleh Adam.
"Aku akan tetap menikahi Erina. Aku kecewa pada Ibu dan juga kau, kalian terlalu memikirkan pribadi masing-masing. Harusnya kau berpikir Aina, kalau aku tak memiliki keturunan siapa yang akan jadi penerus ku. Aku menikahi Erina juga demi kau dan Ibu." ucapnya dengan nada meninggi. "Kalau kamu memang tak merestui ku, aku tetap akan menikah tanpa restu darimu." tegasnya. Lalu ia menarik tangan Erina untuk segera pergi meninggalkan kediaman Ibunya. Pasalnya Adam kesal pada sang Ibu, ia merayu Ibunya dengan berbagai cara namun tetap saja Bu Mariam tak ingin bertemu dengan calon menantu bahkan Bu Mariam tak merestui pernikahan Adam. Itu karena Bu Mariam sangat menyayangi Aina sebagai menantunya sehingga Adam menjadi kesal pada Aina. "Mas kau mau kemana? tunggu aku." Aina mengejar langkah Adam dan menghentikannya. "Mas kau tak bisa pergi begitu saja. Aku merestui pernikahanmu. Asal jangan secepat ini, kasihan Ibu Mas,"
"Lepaskan tanganmu Aina, jangan pura-pura baik di hadapanku. Kau yang sudah menghasut Ibu sehingga aku tak bisa merayunya." tegasnya dengan memendam amarah.
"Aku tak mengatakan apapun pada Ibu, aku tak tahu kenapa Ibu tak mengizinkan mu. Tapi tolonglah jangan secepat ini Mas, kesehatan Ibu sedang tidak baik." ucapnya dengan memohon pada Adam, akan tetapi Erina malah menguasai hati Adam sehingga Adam lebih memilih pergi dengan Erina.
"Mas, tunggu aku!" teriaknya.
__ADS_1
"Aku kecewa padamu Aina. Aku tak menyangka ternyata kau sangat pintar untuk mendapatkan hati Ibuku." Aina sedih dengan perubahan sikap suaminya yang tiba-tiba, baru saja kemarin ia bahagia dengan perlakuan Adam. Tapi sekarang Adam semakin berubah lebih jauh lagi.