
Shaka mengajak Aina berkeliling mall bahkan ia membelikan pakaian bermacam-macam untuk Aina, awalnya Aina menolak. Karena paksaan jadi Aina menerimanya untuk menghargai Shaka.
"Kak pulang yuk, ini udah malam. Kita udah lama disini."
"Baiklah, aku tahu kau sudah lelah. Kalau gitu ayo pulang." ucapnya dengan memegang pundak Aina.
"Terima kasih atas semua ini ya kak, aku belum pernah belanja sebanyak ini. Semoga kebaikan kakak akan dibalas dengan lebih."
"Sama-sama Aina."
Sedangkan Adam sedang mondar mandir didepan kamar Aina, ia menunggu kepulangannya. Erina tidak mengetahui bahwa suaminya sedang mengkhawatirkan Aina karena ia sudah tidur lebih dulu.
'Kemana dia? kenapa belum pulang.' kesalnya dalam hati. Kemudian Adam pergi kelantai bawah untuk mencari bi Asti.
"Bibi!" panggilnya.
"Ya tuan, ada apa?"
"Apakah Aina belum pulang?"
"Belum tuan, mungkin masih dijalan."
"Apa benar ia pergi dengan Shaka."
"Setahu saya benar tuan," ucapnya.
"Baiklah kalau gitu terima kasih, nanti kalau Aina sudah pulang tolong beritahu saya."
"Baik tuan," Adam kembali kekamarnya dengan perasaan yang tak tentu. Baru kali ini ia ditinggal Aina hanya untuk keluar malam. Bagaimana jika Aina tak tinggal disana? mungkin saja Adam akan merasa sangat kehilangan.
Shaka dan Aina baru saja sampai dihalaman rumah.
__ADS_1
"Terima kasih ya kak,"
"Sama-sama Aina, kenapa kamu tak bosan mengucapkan terima kasih padaku."
"Pokoknya terima kasih banyak kak, aku duluan ya." ucapnya. Namun, Shaka menahan tangan Aina.
"Ada apa kak?" ucapnya, Shaka memperhatikan bibir mungil Aina membuat ia ingin merasakannya, namun ia tahan. Ia tak mau terlihat bajingan dimata Aina.
'Sial! mereka sedang apa didalam mobil? kenapa lama sekali.' Adam berkecamuk dengan pikirannya, ia memikirkan hal-hal yang tidak diinginkan.
'Argh kenapa-kenapa akhir-akhir ini hatiku tak karuan.' geramnya.
Aina masuk kedalam dengan membawa kantong yang berisi pakaian dari pemberian Shaka, lalu ia segera melangkah kelantai atas menuju kamarnya. Setelah sampai sana Aina terkejut dengan adanya Adam didepan pintu kamar.
"Mas Adam?"
"Dari mana saja kau, sudah malam baru pulang? kamu merasa bebas karena sudah jadi janda ya." sindirnya.
"Ck, berani kau melawanku, wanita murahan." hatinya sakit dengan kata-kata wanita murahan yang diucapkan oleh Adam.
"Jaga mulut mu Mas, kau jangan menuduhku yang tidak-tidak."
"Hahaha kau bilang aku menuduhmu? bukankah itu kenyataannya. Dulu kau menginginkan ku sehingga kau pintar mengambil hati Ibuku. Sekarang kau merayu Shaka dengan rayuan maut mu itu! ternyata kau wanita kampung yang ingin menikmati harta dari orang kaya." tegasnya membuat hati Aina sakit.
"Jaga mulutmu Mas, aku tak pernah berpikir untuk menikmati hartamu bahkan kartu debit yang kau berikan padaku belum pernah ku pakai sama sekali." tegasnya dengan air mata yang sudah membasahi pipi.
"Kalau kau tak percaya, kau bisa mengeceknya." sambungnya lagi.
"Tetap saja, kau menikmati tinggal dirumah ini dengan fasilitas yang sudah diberikan Ibuku. Aku tak peduli dengan kartu yang sudah ku berikan padamu. Kau tetap saja wanita murahan yang menginginkan harta keluargaku."
"Sebenarnya apa mau mu Mas?"
__ADS_1
"Kau mau tahu keinginanku apa? aku hanya minta jangan pernah kau mendekati Shaka. Kau tak pantas untuknya."
"Baiklah jika itu yang kau mau." kemudian Aina masuk kedalam kamarnya, namun lagi-lagi tangannya ditahan oleh Adam.
"Ada apa Mas? lepaskan tangan mu."
"Jangan harap kau bisa lepas dariku." ancamnya.
"Aku tak mengerti apa maksudmu? kenapa kau semakin mengancam ku. Kita sudah bercerai jadi aku mohon jangan pernah ganggu hidupku lagi."
"Dan ingat satu kali lagi. Jangan mencampuri urusanku. Hidupku terserah aku, aku yang menjalaninya. Bahkan jika aku dekat dengan Shaka, kau tak berhak untuk melarang ku." tegasnya lagi.
Kemudian Aina menutup pintunya dengan keras lalu ia menguncinya.
"Argh sial! beraninya dia melawanku." geramnya dengan mengacak rambut.
Aina menangis dengan menutup mulutnya agar Adam tak mendengar tangisannya. Ia benar-benar sakit hati dengan kata-kata mantan suaminya. 'Tega sekali kamu Mas, kenapa semakin hari kau semakin menyakitiku. Aku kira jika sudah bercerai kau tak akan mencampuri urusanku.'
'Lihat saja! suatu saat aku akan mendapatkan hati Shaka agar kau merasakan hal yang sama sepertiku.' ucapnya dalam hati.
Awalnya Aina tak ingin mengganggu rumah tangga Adam dengan istrinya, walaupun ia yang menjadi korban diantara mereka. Karena ia sadar bukan wanita yang dicintai oleh Adam. Namun setelah Adam mengancamnya membuat Aina ingin balas dendam atas perbuatannya. 'Aku benci kamu Mas Adam! tunggu tanggal mainku, kita lihat saja kau akan menyesal seumur hidupmu.' tegasnya dengan mengeratkan jari tangan.
Kemudian Aina bangkit, ia tak ingin menangis lagi karena mantan suaminya. Ia bukan wanita lemah yang gampang ditindas. Aina bertekad akan membalaskan dendamnya pada mantan suami yang sudah menghinanya.
Aina mulai mengambil ponsel yang berada di saku bajunya, lalu ia mengirimkan pesan pada Shaka.
"Terima kasih untuk hari ini kak, jangan tidur malam-malam ya, kak. jaga kesehatanmu." isi pesan yang dikirim pada Shaka. Seketika mata Shaka langsung melotot, ia mengucek matanya tidak percaya.
'Sejak kapan Aina perhatian padaku? jujur saja hatiku sangat senang bahkan jantungku berdebar hanya karena perhatiannya lewat pesan.' ucapnya dalam hati kemudian ia membalasnya dengan kata-kata manis membuat Aina tersenyum senang.
"Lihat saja Mas Adam, aku akan segera mendapatkan saudaramu. Agar kau tahu rasa sakit yang pernah aku rasakan."
__ADS_1
Hai kak, jangan lupa like, komen, serta subscribe ya ❤️ terima kasih.