
Seperti biasa pagi hari Aina menyiapkan sarapan paginya, namun ia dilarang oleh Erina karena Erina yang akan membuatkan sarapan untuk suaminya.
"Aina, biar aku saja yang masak." pintanya.
"Erina, kau masak saja untuk suamimu. Aku akan masak untukku dan kak Shaka." Erina pun mengangguk.
"Ah benar juga apa katamu," Erina segera mengambil pisau untuk memotong sayuran. Sedangkan Aina sudah selesai dengan masakannya, lalu ia menyiapkannya ke meja makan.
"Pagi cantik," sapanya.
"Eh kak Shaka sudah rapih, tumben sekali?"
"Ya beginilah kalau satu rumah dengan wanita pujaan ku, harus rapih." godanya, Aina tersenyum simpul dengan kata-kata Shaka.
Sedangkan Adam baru saja turun dari tangga, ia tak suka menatap Aina yang terlalu akrab dengan saudaranya. Adam duduk dihadapan Aina dengan tatapan tajamnya.
"Mas, jangan makan masakan itu lagi. Itu buatan Aina untuk Shaka." kata Erina.
"Lalu aku harus makan apa?"
"Aku sudah menyiapkannya untuk mu Mas, tunggu sebentar ya!" Erina pun kembali ke dapur lalu ia membawa sarapan untuk Adam.
"Ah jadi ini masakan Aina spesial buat aku?" tanya Shaka penasaran.
"Iya, Aina yang bilang sendiri kalau dia mau bikin buat kamu. Tadinya aku yang akan masak pagi ini, tapi Aina kekeh ingin memasakkan untukmu." jelas Erina. Shaka tersenyum menatap Aina ternyata ia sangat dispesialkan oleh seorang janda cantik.
Aina sangat malu dengan kejujuran Erina, ia tak menyangka Erina akan menjelaskannya pada Shaka. 'Bikin malu saja,' lirihnya dalam hati.
"Terima kasih ya," ucapnya.
"Sama-sama kak," sedangkan Adam menatap tak suka pada Aina dan juga Shaka ia merasa gerah dengan melonggarkan dasinya.
"Silahkan makan Mas, cicipi masakan istrimu ini." kata Erina.
"Baik sayang," Adam perlahan memasukkan makanannya, seketika ia diam dengan rasa makanan yang Erina buat.
__ADS_1
"Gimana Mas? enak gak?" Adam hanya mengangguk sebagai jawabannya, jujur saja ia lebih menyukai masakan Aina yang menurutnya pas dengan lidah. Masakan Erina bukan tidak enak, tapi Adam lebih menyukai masakan sang mantan karena mungkin sudah lama ia selalu makan masakan Aina selama 5 tahun lamanya.
"Enak kan Mas?" tanyanya lagi karena tidak puas dengan jawaban Adam.
"Iya sayang, ini enak."
"Terima kasih Mas," padahal Adam sangat ngiler dengan makanan di depannya, ia ingin mencicipi masakan mantan istri namun ia malu dan ingin menghargai Erina sebagai istrinya.
Setelah selesai sarapan Shaka pamit pada Aina, dan Aina pun mengantarnya sampai depan pintu gerbang. Sehingga membuat Adam iri dengan mereka berdua.
"Ck, murahan! belum nikah tapi kelakuannya sudah seperti suami istri." sindir Adam pada Aina, Aina tak peduli dengan tuduhan Adam. Ia sudah tahu bahwa Adam tak suka dirinya dekat dengan Shaka.
"Biarkan saja, yang penting aku tidak menikahi dua pria." sindirnya lagi membuat Adam geram dengan kata-kata Aina.
Adam terpaksa melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, ia sangat marah dengan keberanian Aina. Awalnya ia ingin turun dari mobil untuk memperingati Aina namun ia melihat Erina yang sedang memantaunya dari jauh.
'Awas saja kau Aina, lihat saja aku akan membuatmu menderita.' Entah kenapa setelah perceraian ia semakin membencinya, padahal dulu ia tak pernah membenci Aina walaupun ia tidak mencintainya. Namun sekarang ia sangat membencinya karena Aina yang membuat hatinya selalu cemburu.
"Aina!" panggilnya.
"Ya, ada apa?"
"Berani sekali kamu dekati Mas Adam lagi hah! jangan pernah mencari perhatian pada suamiku."
"Apa maksud mu Erina? aku tak mengerti."
"Jangan pura-pura bodoh kau Aina, aku tahu kau ingin menghancurkan keluargaku kan." Aina menggeleng tak mengerti dengan sikap Erina yang tiba-tiba marah padanya.
"Lepaskan tanganku! aku tak pernah menggoda suami mu. Kau saja yang terlalu ketakutan." Entah kenapa air mata Erina lolos begitu saja, ia menangis memohon pada Aina untuk menjauhi suaminya.
"Jangan pernah mendekati Mas Adam lagi, kau tahu aku sedang mengandung. Tolong jauhi Mas Adam." ucapnya dengan air mata yang membasahi pipi, setelah Erina mengandung ia sering sekali sensitif memikirkan hal-hal yang ia takuti.
Aina tersenyum sinis pada Erina, ia tak menyangka ternyata Erina sangat ketakutan pada dirinya.
"Aku mohon Aina, jangan pernah mengambil hati suamiku lagi."
__ADS_1
"Ck, rupanya kau sangat takut jika suami mu kembali padaku? apa dulu kau tak pernah takut menikah dengan suami orang." sindirnya.
"Jangan salahkan aku jika suami mu masih mencintaiku." kata Aina, lalu ia melangkah untuk pergi. Namun Erina malah mengejarnya sehingga ia tak sengaja terpeleset.
"Aw," Erina meringis kesakitan. Begitu juga dengan Aina yang terkejut melihat Erina terjatuh.
"Erina! kau tak apa-apa?"
"Perutku agak sedikit kram," ucapnya.
"Ya sudah, aku bantu ke kamarmu ya." Aina khawatir dengan keadaan Erina, ia takut kenapa-napa pada kandungannya. Kemudian Aina menggandengnya menuju kamar Erina. Ia melihat sekeliling kamar Erina dengan membayangkan mantan suaminya yang sering bercinta dengan Erina.
"Terima kasih Aina,"
"Lain kali hati-hati." ucapnya dengan singkat. Aina segera melangkahkan kakinya menuju keluar.
"Aina, tunggu!"
"Ada apa lagi?"
"Tolong jangan pernah dekati Mas Adam lagi." ucapnya dengan nada memohon pada Aina.
Aina menarik nafasnya dengan kasar, ia sudah lelah mendengar kata-kata permohonan Erina.
"Tenang saja, kau tak perlu khawatir."
"Terima kasih Aina," Aina segera pergi meninggalkan kamar Erina.
Aina merebahkan badannya di atas tempat tidur, kemudian ia menatap ponselnya. Banyak pesan masuk yang menghubungi dirinya terutama Shaka dan Adam.
"Jangan lupa sarapan cantik," isi pesan dari Shaka. Aina segera membalas pesannya dengan kata-kata manis membuat jantung Shaka berdebar melihat balasannya.
Sedangkan Aina penasaran, lalu ia membuka pesan dari Adam. Ia membacanya satu persatu. Dalam isi pesannya terdapat ancaman-ancaman yang dikirim oleh Adam.
"Jangan coba-coba mendekati Shaka! wanita murahan." begitulah isi pesan dari Adam dan masih banyak pesan lagi. Namun Aina tak membalasnya, ia lebih baik diam dan membiarkannya.
__ADS_1
'Pria gila.' pekiknya.
Hai kak jangan lupa, like, serta komennya ya. beri author masukkan untuk cerita ini❤️