Wanita Yang Kau Abaikan

Wanita Yang Kau Abaikan
Episode 34


__ADS_3

Erina termenung sendirian di ruang rawat, ia belum bisa pulang karena kondisinya belum stabil. Bahkan semalam ia tak ada yang menemani begitu juga dengan Adam sang suami yang tidak datang untuk menjenguknya lagi.


'Sampai kapan aku harus diam disini? rasanya sangat membosankan.' ucap Erina dalam hatinya. Ia tak pernah menyesal atas kegugurannya namun ia takut jika Adam meninggalkan dirinya. Karena selama ini ia bergantung hidup pada Adam. Apalagi ia mendengar Ibu mertuanya telah sembuh dan pulang ke rumah utama.


"Pagi Bu, ini sarapan paginya ya." ujar perawat yang baru saja masuk ke ruang rawat.


"Terima kasih," rasanya sangat sedih sekali, ia harus sarapan sendirian bahkan perutnya masih terasa sakit.


"Sus bisa bantu saya," ucapnya, Erina meminta perawat untuk membantunya duduk. Kemudian perawat pun membantunya dengan senang hati.


"Terima kasih sus,"


"Sama-sama, jika ada yang Ibu butuhkan bisa panggil saya dengan memencet tombol. Saya permisi dulu." ucapnya.


Dikediaman rumah utama. Adam masuk kedalam kamar Aina tanpa mengetuk pintu. Entah apa yang akan ia lakukan?


Seketika Aina terkejut dengan keberadaan Adam yang tiba-tiba.


"Mas Adam! sejak kapan kau disini?" ucapnya dengan nada terkejut.


"Baru saja, aku datang kesini hanya merindukan suasan kamar mu." ucapnya, membuat Aina merinding dengan kata-kata mantan suaminya itu.


"Tapi kita bukan mahram, Mas tak boleh seenaknya masuk ke kamar ku." tegasnya.

__ADS_1


"Kenapa? lagian aku tak bermacam-macam padamu."


"Tetap saja itu tak dibolehkan, apapun alasan mu. Kau tak boleh masuk ke kamarku, apalagi masuk tanpa permisi."


Hahaha Adam tertawa menanggapi ucapan Aina, entah apa yang membuatnya lucu tertawa begitu nyaring.


"Jangan jual mahal padaku, Aina. Aku ingin kita menikah lagi agar aku bisa bebas masuk ke kamar mu." dengan cepat Aina menggelengkan kepalanya.


"Aku tidak akan pernah kembali padamu, Mas. Hati ini sudah tidak ada ruang untuk mu lagi. Pria macam apa kau ini dengan gampangnya mengajak wanita untuk menikah. Kau tahu pernikahan itu tak bisa di mainkan." ucapnya dengan nada tegas.


"Aku tahu, Aina. Aku hanya ingin kembali padamu lagi. Kita mulai dari awal." Aina tersenyum sinis mendengar jawabannya.


"Tidak bisa, Mas. Aku tak akan pernah kembali padamu. Pergilah dari sini!" ucapnya dengan mendorong tubuh Adam untuk segera keluar. Namun Adam malah mencengkram tangan Aina.


"Ya, aku mengusirmu karena kau tak berhak berada disini."


"Ck, kau tahu ini tempat tinggal siapa? harusnya kau sadar diri." Aina terdiam, lalu ia menarik nafasnya dengan kasar dan menatap serius pada kedua bola mata Adam.


"Baiklah, aku akan pergi dari sini agar kau tak bisa mengganggu hidupku lagi!" tegasnya, kemudian Aina meninggalkan Adam yang masih berdiri di dalam kamarnya.


"Arghhh, sial!" kesalnya dengan menendang dinding kamar Aina.


Aina segera pergi ke ruang bawah untuk menemui Bu Mariam, ia bangun kesiangan lantaran semalam ia tak bisa tidur memikirkan Shaka yang akan pulang ke negaranya.

__ADS_1


"Pagi, Bu. Maaf aku baru bangun." Bu Mariam tersenyum menanggapi ucapannya.


"Duduklah, Aina. Kau buka pembantu di rumah ini. Jadi tak apa-apa bangun kesiangan."


"Terima kasih, Bu. Maafkan Aina." Bu Mariam kembali tersenyum.


"Kau selalu meminta maaf pada Ibu, padahal kau tak bersalah. Ibu sangat bangga padamu, Aina."


Tak lama kemudian Shaka datang menghampiri mereka berdua, dengan setelan jass nya.


"Pagi semua,"


"Pagi juga Shaka, silahkan sarapan dulu." ucap Bu Mariam. "Hari ini hari terakhir kamu untuk berangkat ke kantor ya,"


"Iya kak, ini hari terakhirku."


"Kau sangat bersemangat sekali, apa kau sudah merindukan negara mu?"


"Tentu saja kak," ucapnya, padahal Shaka masih ingin tinggal disini bersama Aina. Walaupun hanya untuk melihat wajah cerianya.


'Jadi kak Shaka sudah tak betah tinggal disini.' pikir Aina dalam hatinya.


Shaka menatap Aina, begitu juga dengan Aina yang menatap Shaka. Ada yang ingin mereka katakan dalam hatinya, namun mereka berdua masih memendam perasaannya. Bu Mariam menyadari semua itu, ia tahu Shaka menyukai Aina begitu juga dengan Aina yang menyukai Shaka. Bu Mariam sengaja membawa Shaka ke rumah utama, tujuannya memang untuk mendekatkan mereka berdua. Bu Mariam ingin membayar sakit hati Aina dengan mendatangkan Shaka di sisinya. Karena Adam sebagai anak satu-satunya yang telah menyakiti hati Aina, bahkan Bu Mariam sudah menganggap Aina seperti anaknya sendiri.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2