Wanita Yang Kau Abaikan

Wanita Yang Kau Abaikan
Episode 22


__ADS_3

Tak lama kemudian Adam pulang kerumahnya karena ia khawatir dengan keadaan Erina yang tiba-tiba saja kram.


Ia memarkirkan mobilnya dihalaman utama lalu ia masuk kedalam dengan sedikit berlari.


"Erina! dimana Erina bi?" tanyanya pada bi Asti.


"Non Erina ada di kamarnya sedang istirahat tuan." Adam segera melangkahkan kakinya menuju lantai atas lalu ia membuka pintu kamarnya.


"Erina! sayang kau tak apa-apa." Erina tersenyum bahagia dengan kedatangan suaminya yang tiba-tiba.


"Perutku sedikit kram Mas,"


"Kenapa bisa seperti itu? apa kamu makan sesuatu sehingga perutmu jadi kram." Erina pun menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.


"Aku menjaga pola makanku Mas," ucapnya. "Tadi aku sedang berbicara dengan Aina, tapi tiba-tiba perutku kram." Adam mengepalkan tangannya mendengar jawaban dari Erina.


"Jadi ini gara-gara dia!" tegasnya, lalu ia pergi dari kamarnya untuk menemui Aina.


"Mas tunggu! kau mau kemana? aku belum selesai bicara." panggilnya.


"Aku mau menemui Aina, ini gara-gara dia. Berani sekali dia mau mencelakai anak kita." ucapnya dengan nada meninggi.


"Tapi ini bukan gara-gara Aina Mas, dia tak salah." Adam tak mendengarkan ucapan istrinya, ia segera pergi untuk menemui Aina.


Sedangkan Erina tersenyum licik, awalnya ia tak menyalahkan Aina namun karena suaminya yang salah paham dan belum mendengarkan penjelasannya. Akan tetapi Erina tersenyum senang. 'Ini bukan salahku, aku tak salah. Mas Adam saja yang salah paham dengan ucapanku. Tapi tak apa-apa, bagus juga kalau Mas Adam marah pada Aina.' ucapnya dalam hati.


"Aina! dimana kamu?" Adam mencari Aina ke kamarnya namun ia tak menemukan Aina disana. Bahkan ia mencarinya ke kamar mandi dan ia pun tak menemukannya.


"Dimana Aina? berani sekali dia ingin mencelakai anakku setelah ia berani mendekati saudaraku." geramnya dengan rahang mengeras. Kemudian Adam menuruni tangga menuju lantai satu untuk mencari Aina.


"Aina dimana bi?"


"Ada di taman belakang tuan, apa tuan mau ku panggilkan."


"Tidak perlu." ucapnya singkat. Adam segera menuju taman belakang dengan sedikit berlari. Ia melihat Aina yang sedang memandang bunga mawar dihadapannya.


"Aina!" seketika Aina teronjak kaget dengan teriakan mantan suaminya.


"Mas Adam, ada apa?" dalam menghampiri Aina dengan sedikit berlari.


Plakkk... Tiba-tiba Adam menampar Aina.

__ADS_1


"Mas Adam? kenapa kau menamparku!"


"Kau sudah membuat Erina kesakitan!" Aina bingung dengan ucapan Adam, padahal tadi Erina krak perut bukan karena dirinya. Ia tak merasa membuat Erina merasakan sakit.


"Kenapa menyalahkan aku? aku tak tahu apa-apa tentang kandungan Erina. Dia tiba-tiba merasakan kram."


"Bohong kamu! kau yang ingin menghilangkan nyawa anakku kan? berani sekali kau berbuat seperti itu hah." Aina menggelengkan kepalanya dengan cepat, ia tak pernah berniat untuk melakukan hal buruk pada Erina.


"Kau salah paham Mas, aku tak pernah berniat untuk mencelakai Erina dan juga calon anakmu itu."


"Ck, sampai kapan pun kau tak akan pernah jujur Aina. Kau wanita jahat yang sudah merusak kebahagiaan orang lain." ucapnya sampai menusuk hati Aina, Aina tak menyangka Adam akan menyalahkan dirinya padahal Aina sendiri tidak tahu kenapa Erina tiba-tiba merasakan kram di perutnya.


"Aku bukan wanita jahat Mas, aku tak pernah berniat untuk mencelakai Erina." ucapnya dengan suara bergetar tak tahan menahan sakit di dadanya.


"Walaupun kau yang sudah menyakiti hatiku, aku tak pernah dendam padamu dan juga istrimu itu. Kenapa kau selalu menyalahkan ku Mas, sedangkan kau tak pernah bersalah pada perasaanku." sambungnya lagi.


Adam bukannya menjawab pertanyaan Aina, ia malah menarik tangannya dengan paksa.


"Sini kamu!"


"Lepas Mas," Adam tak peduli dengan permohonan Aina, ia tetap menarik tangannya menuju kamar.


"Lepaskan aku Mas, atau aku akan berteriak." ancamnya tak membuat Adam takut.


Brukkk... Adam mendorong tubuh Aina ke atas tempat tidur dengan kasar.


"Apa yang kau lakukan Mas? jangan berani menyentuhku."


"Ck, kau terlalu berharap. Siapa yang akan menyentuh mu? aku tak sudi dengan tubuh murahan mu itu." Aina tak mengerti dengan ucapan Adam yang berkata murahan. Entah kenapa sekarang Adam sering menyebutnya wanita murahan setelah bercerai dengan Aina.


"Aku bukan wanita murahan Mas! aku bukan wanita malam yang melayani pria. Kau tak berhak memanggilku seperti itu."


"Ck, tetap saja kau murahan yang berani mendekati saudaraku." Adam tak ingin banyak bicara lagi pada Aina, ia segera melepaskan ikat pinggangnya dengan kasar. Aina sudah ketakutan ia mengira Adam akan melakukan hubungan dengan paksa. Namun ternyata Adam melayangkan ikat pinggangnya pada punggung Aina.


"Ah," Aina meringis merasakan sakit di punggungnya. Akan tetapi ini lebih baik dari pada ia dipaksa berhubungan.


Srekkk... Srekkk


"Sakit Mas," ringisnya. Sudah yang ke tiga kali Adam melayangkan ikat pinggangnya. Membuat punggung Aina memar dan sedikit berdarah.


"Wanita murahan kau pantas mendapatkan ini."

__ADS_1


Srekkk...


"Ah sakit Mas, tolong jangan lakukan lagi." ucapnya dengan meminta ampunan pada Adam.


Brakkk... "Sialan kau Adam!" teriak Shaka yang baru saja mendobrak pintu kamar Aina, ia diberi tahu oleh bi Asti lewat ponselnya. Dan ia segera pulang karena mengkhawatirkannya walaupun pekerjaan ia masih banyak, ia tetap meninggalkan pekerjaan demi Aina.


Bug... Bug... Bug...


Shaka memukulnya dengan penuh amarah, ia tak terima melihat Aina yang diperlakukan seperti hewan.


"Sialan kau berani berlaku kasar pada wanita." kata Shaka dengan emosi yang menggebu.


"Ck, rupanya kau sudah terkena pesona wanita murahan itu. Harusnya kau tak melakukan ini padaku Shaka. Kau saudaraku, harusnya kau tahu bahwa dia wanita yang ingin mencelakai istriku. Kenapa kau membelanya hah!" teriak Adam tak kalah emosi pada Shaka.


Shaka menatap Aina meminta penjelasan. Ia melihat Aina menggelengkan kepalanya, ia yakin Aina tak bersalah. Entah kenapa hatinya sangat yakin bahwa Aina tak bersalah.


"Kau yang sudah terperangkap pada wanita licik seperti istrimu Adam. Aku yakin Aina tak bersalah." tegasnya.


"Ck, ternyata kau sudah buta karena cinta." ucapnya dengan menatap sinis.


Tiba-tiba Erina datang dengan wajah khawatirnya menghampiri Adam.


"Mas, ada apa ini?" ucapnya pura-pura tidak tahu.


Aina segera bangkit walaupun punggungnya terasa sakit. Ia ingin meminta penjelasan pada Erina kenapa ia menuduh dirinya sehingga Adam berlaku kasar.


"Apa maksudmu menuduhku Erina? aku tak melakukan apapun padamu."


Erina segera menjawab pertanyaan Aina. "Kenapa kau bertanya padaku Aina, kau yang melakukan ini semua padaku. Sehingga perutku merasakan sakit." ucapnya berbohong.


Adam menatap Shaka dengan tajam. "Apa kau mendengar apa yang dikatakan istriku?" tegasnya.


Shaka menarik nafasnya dengan kasar lalu ia kembali menatap Adam. "Baiklah aku akan percaya padamu dan juga istrimu. Tapi aku ingin melihat cctv yang ada dirumah ini dulu, baru aku akan percaya pada kalian berdua." ucapnya dengan nada santai. Aina menatap Shaka dengan wajah sendunya, ia sangat berterima kasih pada Shaka yang sudah mempercayainya. Sedangkan Erina ketar ketir sendiri, ia takut Adam akan marah setelah tahu kebenarannya.


"Kenapa harus cek cctv Mas," ucap Erina.


"Kenapa? apa kau takut bahwa dirimu berbohong." kata Shaka dengan tatapan sinisnya.


'Bagaimana ini? kenapa harus ada pria itu dirumah ini. Sial, aku pasti ketahuan.' ucapnya dalam hati dengan kekhawatirannya.


Bersambung.

__ADS_1


Hai kak, jangan lupa like, komen, serta suscribe ya.


__ADS_2