Wanita Yang Kau Abaikan

Wanita Yang Kau Abaikan
Episode 16


__ADS_3

Adam segera membereskan pekerjaannya, ia akan pulang siang untuk menemui Erina.


"Tumben jam segini sudah selesai bos, memangnya mau kemana?"


"Aku akan pulang, ada yang ingin aku bahagiakan."


"Sepertinya ada sesuatu. Kau terlihat sedang bahagia."


"Ya, Erina sedang mengandung anakku. Mulai hari ini aku akan pulang lebih awal. Jadi tolong selesaikan pekerjaanku ya." ucapnya kemudian Adam menenteng tas lalu pergi meninggalkan ruangannya.


"Jack!" panggil Shaka yang baru saja masuk keruang kerja Adam.


"Em ya, tuan Shaka. Ada apa?"


"Kenapa Adam pulang siang hari? apa pekerjaannya sudah selesai."


"Aku tidak tahu, biasanya ia selalu pulang malam."


Shaka semakin penasaran dengan Adam, ia pun mengobrol bersama Jack diruang kerja Adam.


"Saya ingin tahu kenapa Adam menikah lagi? apa kamu bisa memberitahu padaku." kata Shaka pada Jack.


"Dia menikah lagi karena menginginkan seorang anak dari istri pertamanya, namun setelah usia pernikahan ke 5 tahun. Istrinya tak kunjung hamil, jadi ia memutuskan untuk menikahi perempuan lain demi keturunannya." Shaka mengangguk mengerti dengan apa yang dikatakan Jack.


"Apa Aina mandul? kenapa lama sekali untuk mengandung?"


"Aku juga tidak tahu, tapi yang aku dengar mereka berdua baik-baik saja. Bahkan Aina normal-normal saja."


"Ah begitu," ucapnya.


"Lalu kenapa tuan menanyakan soal itu? apa ada sesuatu?"


"Tidak! aku hanya ingin tahu saja." ucapnya.


Disepanjang jalan Adam tersenyum bahagia, bahkan ia membayangkan seorang anak yang digendong olehnya.


'Aku sudah tak sabar menunggu kehadiran anakku.' gumamnya.


sesampainya dirumah, Adam segera masuk kedalam. Ia melewati Aina begitu saja tanpa menyapanya.


"Sayang, kamu dimana?"


"Aku disini Mas," ucapnya, Erina sedang menatap hasil USG.


"Sayang kau sedang apa? ini apa sayang."


"Aku sudah dari dokter Mas, dan ini hasilnya. Kau bisa lihat gambarnya Mas."


"Kenapa kamu pergi sendirian Erina?"


"Maaf Mas, karena aku tak mau mengganggu mu. Lain kali aku akan mengajakmu untuk melihat bayi kita.


Adam mengecup keningnya berkali-kali. Ia juga mengecup perut Erina yang masih rata.

__ADS_1


"Anak ayah, baik-baik disana ya." ucapnya pada perut Erina.


Adam sangat memanjakan Erina setelah tahu istrinya hamil, bahkan apapun yang Erina inginkan ia selalu menurutinya.


"Kalau gitu Mas mau ajak kamu jalan-jalan, apa kamu mau?"


"Tentu saja aku mau Mas, terima kasih ya."


"Ya sudah ayo!" ajaknya dengan memeluk pinggangnya mesra mereka berdua turun kelantai bawah.


"Mas itu mbak Aina mau diajak gak?" ucap Erina dengan nada tinggi agar Aina mendengarnya.


"Tidak usah sayang, Mas mau mengajakmu saja."


"Kasihan mbak Aina dong Mas," Aina menatap keduanya, ia tahu bahwa Erina sengaja untuk membuatnya iri.


Adam mulai menghampiri Aina.


"Aina maaf aku tidak bisa pergi bersama, lain kali aku akan mengajakmu."


"Tak apa-apa Mas, hati-hati dijalan."


"Terima kasih sudah mengerti. Sekarang Erina sedang mengandung anakku, dia juga akan menjadi anakmu." Aina sangat bahagia mendengarnya namun ia juga sangat sedih kenapa Tuhan tak menitipkan malaikat kecil padanya.


"Selamat ya Erina, semoga kandunganmu sehat selalu sampai lahiran."


"Terima kasih mbak, aku gak nyangka bisa cepat ini memberikan Mas Adam keturunan." Aina tersenyum menanggapi ucapannya.


Adam dan Erina mengunjungi mall untuk berbelanja kebutuhan mereka, bahkan Adam sudah menawarkan pakaian bayi untuk dibeli.


"Mas, jangan beli sekarang. Kandunganku masih muda loh."


"Memangnya kenapa sayang? kan gak apa-apa."


"Tidak boleh Mas, kalau kata orang tua namanya pamali. Nanti saja kalau kandunganku sudah masuk 7 bulan Mas,"


"Baiklah, kalau gitu kau mau apa?"


"Terserah Mas saja, aku gak berani minta." Adam tersenyum dengan sikap Erina yang tak pernah menuntut apapun darinya membuat ia semakin mencintai Erina, padahal Aina pun sama ia tak pernah menuntut apapun pada Adam bahkan selama usia pernikahan 5 tahun ia tak pernah meminta sesuatu pada Adam.


"Kalau gitu kita ke toko Mas ya, aku mau membelikan mu kalung."


"Boleh Mas," ucapnya dengan girang, ia langsung mengecup bibir suaminya didepan umum tanpa rasa malu. Sedangkan dari kejauhan ada yang memperhatikannya.


'Bisa-bisanya Adam hanya memperlakukan istri mudanya, kasihan sekali Aina. Dia terlalu bodoh jadi istri pertama.' ucap Shaka dalam hatinya. Kemudian Shaka meninggalkan mall untuk segera pulang kerumah.


Diperjalanan Shaka membelikan sesuatu untuk Aina, entah kenapa ia ingin membahagiakan Aina setelah melihat perlakuan Adam.


Shaka memanggil Aina dengan sedikit berlari menuju ruang utama.


"Aina!"


Aina yang sedang di dapur bersama bi Asti, ia langsung menghampiri ke arah suara.

__ADS_1


"Kak Shaka! ada apa?"


"Ini aku bawakan sesuatu untukmu, dimakan ya."


"Apa ini?"


"Kau lihat saja sendiri, aku mau ganti baju kerja dulu."


"Iya kak." Aina segera membawa pemberian dari Shaka menuju dapur lalu ia membukanya.


"Apa itu non?" tanya bi Asti penasaran.


"Ini dari kak Shaka bi, bakso sama martabak. Ini kan makanan kesukaanku. Kok tumben ya dia beli ini buat aku."


"Wah, diterima aja non namanya juga rezeki."


"Iya bi,"


Tak lama kemudian Shaka menghampiri Aina dan juga bi Asti.


"Gimana, apa kamu suka?"


"Aku suka kak, ini makanan kesukaanku. Terima kasih ya,"


"Beneran kau suka dengan makanan itu? padahal aku hanya beli dipinggir jalan karena sangat ramai jadi aku penasaran untuk membelinya." kata Shaka, Aina tersenyum dengan mengeluarkan air matanya.


"Terima kasih ya kak, makanan ini mengingatkan ku pada orang tuaku. Dulu aku sering makan bakso dan martabak bersama Ayah dan Ibuku, dan makanan ini makan terfavorit." Shaka merasa kasihan melihat Aina, ia meminta maaf karena ia telah membuat Aina mengingat kembali masa lalunya.


"Maafkan aku Aina, aku tak tahu kalau makanan ini bisa membuatmu mengingat kedua orang tuamu."


"Tak apa-apa kak, malahan aku sangat berterima kasih. Sudah lama aku menginginkan ini. Kalau gitu ayo kita cicipi bersama." ajaknya pada Shaka dan juga bi Asti. Namun, bi Asti menolaknya ia beralasan sudah kenyang padahal bi Asti tak ingin mengganggu jadi ia pamit untuk kebelakang.


"Aku baru mau mencicipi makanan ini pertama kali, semoga cocok di lidahku." kata Shaka. Ia mencicipi bakso yang diberikan oleh Aina.


"Gimana? enak gak?"


"Em ini enak, aku suka dengan makanan ini." Aina tersenyum melihat Shaka makan bakso dengan lahap. Baru kali ini Aina makan berdua bersama seorang pria walaupun pria itu bukanlah suaminya. Karena Adam tak pernah mau untuk mencicipi makanan yang ada dipinggir jalan.


"Ah ini nikmat sekali, lain kali aku ingin membeli ini lagi."


"Aku gak nyangka kak Shaka menyukai makanan pinggir jalan." kata Aina.


"Entahlah, aku juga baru mencicipinya tapi ini sangat cocok dengan lidahku. Lain kali aku ingin mengajakmu makan dipinggir jalan, apa kamu mau?"


"Aku mau kak, tapi harus izin suamiku dulu." ucapnya, seketika Aina terdiam melihat suami dan madunya yang saling bergandengan dengan mesra. Erina memperlihatkan kalung dan cincin yang telah dibelikan oleh Adam agar membuat Aina merasa iri.


"Bagus sekali ya Mas, terima kasih sudah membelikan ku ini." ucapnya.


"Sama-sama sayang, kau suka?"


"Iya Mas,"


Shaka menatap Aina dengan rasa kasihan, kalau saja Adam bukan saudaranya mungkin ia sudah menghabisinya. Shaka sangat geram dengan perlakuan Adam yang membedakan istri pertama dan istri mudanya. 'Lihat saja aku akan membuatmu menyesal Adam. Aku tak suka melihatmu sering mempermainkan Aina.' ucapnya dalam hati dengan mengepalkan jari tangannya.

__ADS_1


__ADS_2