
Aina mulai menyiapkan makanannya di meja makan, ia juga tidak lupa membuatkan makanan suaminya dengan dibantu oleh bi Asti.
Shaka menghampiri meja makan karena perutnya sudah lapar.
"Wah sepertinya ini enak sekali." ucap Shaka yang baru saja datang.
"Silahkan makan kak, aku memasak banyak."
"Ini semua buatan mu?"
"Iya," ucapnya sambil tersenyum.
"Wah pintar sekali, aku ingin mencari istri yang seperti ini." ucapnya, bi Asti tersenyum menanggapi Shaka. Entah kenapa bi Asti sangat setuju jika Aina bersama Shaka. Tapi semua ini tidak mungkin.
"Non bibi ke belakang dulu ya."
"Iya bi."
Kemudian Shaka duduk menghadap Aina, lalu ia menatap dan bertanya.
"Sebenarnya kau ini siapa? katanya kau istri Adam. Tapi kenapa Adam punya istri yang lain? aku juga melihat mu sangat dekat dengan kakakku." Aina tak menjawabnya, ia hanya tersenyum pada Shaka.
"Kau bohong ya, kau hanya mengaku istri Adam saja?" tanyanya.
"Menurutmu bagaimana?" tanya Aina.
"Aku tidak tahu, aku hanya bingung saja. Kau mengaku sebagai istrinya tapi Adam tak pernah berbicara tentangmu." seketika Aina diam, rasanya ia sangat sakit hati jika memang suaminya tak menganggap dirinya sebagai istri.
"Benarkah begitu?" tanya Aina.
"Ya, dia hanya memperkenalkan Erina padaku."
Tak lama kemudian Adam turun bersama Erina dengan bergandengan mesra bahkan mereka saling tertawa bahagia. Aina yang menatapnya dari bawah melihat kemesraan mereka berdua.
"Hai kalian sudah menunggu lama?"
"Tidak! baru saja." jawab Shaka.
Erina menatap Aina dengan tersenyum.
"Mbak yang masak semua ini?"
"Iya,"
"Wah, ini semua makanan kesukaanku, aku ingin dimasakkan sama mbak Aina setiap hari." Aina menggenggam sendoknya dengan perasaan kesal.
"Kau tak bisa masak? harusnya jadi seorang istri itu harus pintar masak." sindirnya.
"Hem suamiku gak mau menjadikan ku seperti babu, iya kan sayang." ucapannya dengan manja pada lengan suaminya.
"Iya." sedangkan Shaka hanya fokus pada makanannya.
"Ya, seorang istri memang tak boleh masak seperti aku. Aku hanya seorang babu." ucapnya dengan nada bergetar. Adam menatap Aina, ia merasa bersalah padanya. Bahkan ia melupakan bahwa Aina istrinya juga.
__ADS_1
"Maksudku bukan begitu, kau memang pintar masak Aina. Aku tak menganggap mu sebagai babu. Kau juga istriku." ucapnya. Seketika Shaka berhenti mengunyah lalu ia menatap Adam dan Aina.
"Ya, istri seperti babu bahkan aku seperti seorang janda. Tidur pun tanpa suami."
"Aina! kau jangan cari masalah. Kita sedang sarapan." ucapnya dengan nada tegas.
Aina segera berdiri dari duduknya, lalu ia pergi meninggalkan makanannya yang masih banyak.
"Aina!" teriak Adam, Aina tak mempedulikannya ia tetap melanjutkan langkahnya menuju lantai atas.
"Argh sial." geramnya.
"Sudah Mas, biarkan saja. Dia sedang butuh menyendiri."
Shaka mulai berbicara pada Adam, ia penasaran sejak kemarin.
"Sebenarnya Aina siapa?" tanyanya.
"Dia istri pertamaku."
"Kau memiliki dua istri?" Adam mengangguk sebagai jawabannya.
"Pantas saja dia marah padamu Adam. Kau terlalu dekat dengan istri kedua sedangkan Aina kau abaikan. Harusnya kau adil. Jika tidak bisa adil lebih baik ceraikan saja, kasihan dia."
"Kau tak perlu ikut campur urusanku Shaka, kau belum menikah dan kau tak akan mengerti."
"Ck, walaupun belum menikah tapi aku sudah dewasa."
"Mas kau mau kemana?" tanya Erina.
"Aku mau menemui Aina dulu, kau tunggu disini." Erina kesal, ia mulai mengacak-acak makanannya. Sedangkan Shaka sudah lebih dulu meninggalkan meja makan.
"Aina! buka pintunya."
"Aina!" teriaknya dari luar pintu.
"Kalau kau tak mau membuka pintu untukku, maka aku akan mendobraknya."
Aina segera membukakan pintunya dengan mata yang sembab. Adam menyadari bahwa Aina telah menangis.
"Ada apa Mas? mau apa kesini?"
"Kau kenapa hah?"
"Aku tak apa-apa, aku baik-baik saja."
"Kau bohong Aina!"
"Sudahlah, aku capek ingin tidur." Aina segera menutup pintunya kembali namun Adam menghalanginya. Ia menarik tangan Aina kedalam lalu ia mendorong tubuh Aina keatas tempat tidur.
"Seperti inikah yang kau inginkan!" Adam mulai membukakan kancing bajunya satu persatu.
"Mau apa kau!"
__ADS_1
"Diam!" Adam merobek paksa baju Aina, lalu ia mencengkram tangannya.
"Lepas Mas, aku tidak mau." tolaknya, ia tidak ingin melakukan hubungan dengan paksaan.
"Lepaskan aku Mas."
"Diam! aku bilang diam." Adam mulai menyentuh bibirnya dengan paksa bahkan ia menyakiti istrinya dengan gigitan.
"Sakit Mas," Adam tak mempedulikannya, ia tetap melakukannya dengan kasar sehingga Aina merasa kesakitan. Aina menangis pun Adam tak peduli, ia tetap melakukannya dengan paksa.
"Sakit Mas."
Sudah lama Adam tak melakukan hubungan dengan Aina, ia merasa ada yang aneh pada dirinya. Rasa yang nikmat pada dirinya ia mulai merasakan lagi setelah lama tak merasakannya. Sedangkan Aina merasa kesakitan di bagian bawahnya. Setelah puas Adam melepaskannya lalu ia mengecup kening istrinya.
"Terima kasih." hanya kata itulah yang terucap dari bibirnya lalu ia pergi meninggalkan Aina begitu saja. Sedangkan Aina menangis, ia merasa dirinya tak suci padahal Adam masih suaminya. Bayangan suaminya bersama Erina masih terngiang-ngiang dipikirannya. Ia merasa menyesal telah melakukannya dengan Adam. Namun, ia juga merasa berdosa jika menolaknya.
"Mas kau sudah dari mana?"
"Dari kamar Aina! ada apa?" Erina penuh selidik melihat suaminya yang tak biasa.
"Apa kau melakukan sesuatu dengannya?"
"Memangnya kenapa?"
"Aku tak suka Mas, kau tak boleh melakukan dengan dia." kesalnya.
"Aina juga istriku. Apa kau lupa?"
Tetap saja Erina tak suka jika suaminya berhubungan dengan Aina, ia tak ingin berbagi suami. Namun, ia juga tak pernah berpikir bahwa dirinya yang sudah jadi duri dalam rumah tangga Adam.
"Kamu tak boleh egois Erina, bagaimana pun Aina tetaplah istriku."
"Percuma Mas berhubungan dengan dia. Dia tak akan pernah bisa hamil." ujarnya, lalu Erina pergi meninggalkan Adam yang masih berdiri disana. Semakin hari sikap Erina semakin terlihat pembangkang. Akan tetapi Adam tak menyadari itu.
Aina mulai bangkit dari tidurnya lalu ia segera membersihkan tubuhnya. Setelah itu ia membereskan tempat tidurnya dan membawa baju yang telah robek oleh ulah suaminya menuju tempat sampah.
"Nona?"
"Ya ada apa bi?"
"Tadi bibi nyariin nona tapi tak ada."
"Ah maaf bi, aku ketiduran. Memangnya ada apa?"
"Tidak apa-apa non, bibi permisi dulu ya." ucapnya, lalu Aina mengangguk sebagai jawaban.
Dari jauh Shaka menatap Aina, ia tak tahu kenapa Aina ingin dimadu. Bahkan ia bertanya-tanya dalam pikirannya. 'Aina wanita cantik, lalu apa kurangnya? kenapa Adam mau menikah lagi sedangkan istri pertamanya saja sangat cantik dan natural.'
Aina sadar dengan tatapan Shaka padanya, ia segera membalikkan badannya begitu juga dengan Shaka ia pura-pura sedang melihat atap.
'Ah sial kenapa aku bisa ketahuan.' ujarnya. Shaka segera pergi dari sana menuju kamarnya.
Happy reading🌷
__ADS_1