
Rindunya yang tak tertahan untuk bertemu kedua orang tua, Aina hari ini juga ia berkunjung ke pemakaman orang tuanya yang tak jauh dari rumah. Ia berjalan kaki dengan membawa sebuah bunga ditangannya.
"Aina!" panggil seseorang yang mengenalnya.
"Aksa," ucap Aina. Aksa terharu bisa bertemu Aina kembali setelah sekian lama ia tak pernah bertemu.
"Aina, apa kabar?"
"Kabarku baik, apa kabar dengan mu?"
"Aku juga baik, sudah lama kita tidak bertemu Aina. Kau mau kemana?"
"Aku mau mengunjungi Ibuku, sudah lama aku tak kesana." kata Aina.
"Kalau begitu bolehkah aku ikut dengan mu." tanpa berpikir Aina pun membolehkannya.
"Terima kasih sudah membolehkan," Aina tersenyum dan mengangguk sebagai jawaban.
"Aina, kenapa setelah menikah kau tak pernah pulang kesini. Sayang sekali rumah orang tuamu terbengkalai walaupun ada yang membersihkan." Entah kenapa kata-kata Aksa membuatnya sedih, karena dulu ia tak pernah diizinkan Adam untuk mengunjungi rumah Ibunya.
"Mungkin nanti aku akan sering kesini, dulu aku sangat sibuk." jawabnya.
"Memangnya kau bekerja? bukankah kau menikah dengan majikanmu?" tanyanya penasaran.
Aina tak menjawab pertanyaan Aksa, ia segera mendekati pusara orang tuanya lalu ia berdoa untuk keduanya. Sedangkan Aksa berdiri dibelakang Aina.
'Ibu, Ayah, Aina rindu kalian. Maaf Aina baru sempat datang kesini. Apa sekarang Ayah dan Ibu senang dengan kedatangan Aina? Maafkan Aina ya, mungkin kedepannya Aina akan sering datang kesini. Aina selalu mendoakan Ibu dan Ayah semoga suatu saat kita akan bertemu di surga.' doanya dalam hati, tak terasa air mata Aina kini menetes kembali.
"Aina, sabar ya." kata Aksa dengan mengelus punggung Aina. Aksa adalah pria yang pernah mencintai Aina sewaktu mereka duduk dibangku sekolah. Sampai saat ini Aksa masih berharap pada Aina walaupun Aksa sudah memiliki seorang istri. Ia terpaksa menikah untuk melupakan Aina wanita yang ia cintai, namun nyatanya ia tak bisa melupakan Aina sampai saat ini.
__ADS_1
"Langit sudah mendung, sepertinya kita harus pulang." ajak Aksa.
"Aku masih ingin disini Aksa, kau pulanglah." kata Aina.
Namun Aksa tak mau meninggalkan Aina sendirian, entah kenapa ia tidak tega melihat Aina sendiri.
"Aina, kalau begitu aku pulang dulu ya. Aku mau ambil motor." Aina pun mengangguk sebagai jawaban.
Aksa pergi meninggalkan Aina untuk mengambil motornya, karena jaraknya yang tak jauh dari rumah akhirnya Aksa sudah sampai lagi ditempat pemakaman.
"Aina ayo pulang, bentar lagi hujan." ucap Aksa dengan khawatir, lalu Aina mengangguk sebagai jawaban ia ikut pulang bersama Aksa walaupun hatinya masih merindukan kedua orang tua.
"Terima kasih ya Aksa."
"Sama-sama,"
"Dia yang sudah menggoda suami saya bapak-bapak." ucap seorang wanita yang sedang menahan amarahnya.
"Apa maksudmu Airin! dia Aina sahabatku, aku tak sengaja bertemu dengannya di tempat pemakaman umum."
"Bohong kamu Mas, aku melihatmu disana sedang asyik mengobrol dengan dia. Harusnya kamu sadar sudah memiliki istri dan anak." ucapnya, Aina tak menyangka ternyata Aksa sudah memiliki seorang istri dan juga anak. Ia merasa bersalah pada wanita itu namun ia juga tidak tahu dengan status Aksa, kalau saja ia tahu mungkin Aina tak ingin dekat dengan Aksa walaupun hanya sebatas mengobrol.
"Maaf mbak saya tidak tahu Aksa sudah menikah, saya kira Aksa belum menikah." ucapnya.
"Bohong kamu pelakor! mana ada maling mau ngaku." teriaknya. Kemudian Aksa menenangkan sang istri untuk tidak marah dan menyalahkan Aina, karena Aina memang tidak bersalah. Aksa sangat malu dengan ke salah pahaman istrinya."
Aina merasakan sakit pada hatinya setelah wanita itu mengatakan pelakor, selama ini ia sangat membenci dengan nama pelakor. Akan tetapi ia harus menerima kata-kata yang selama ini ia benci.
...****************...
__ADS_1
Malam hari ini Adam tak bisa tidur memikirkan Aina yang entah kemana perginya. Ia sangat takut kehilangan wanita yang telah ia ceraikan. Bahkan ia baru menyadari bahwa ia sangat mencintai wanita yang telah menemaninya selama 5 tahun.
Adam segera mengambil kunci mobilnya, ia berniat akan menemui Shaka. Ia berpikir kalau Aina sedang bersama Shaka.
"Mas kau mau kemana?" tanya Erina yang baru saja bangun dari tidurnya, ia merasa Adam tak ada di sampingnya.
"Aku akan menemui Shaka."
"Tapi untuk apa kau menemui dia, ini sudah pukul 12 malam Mas." ucapnya.
"Aku harus bertemu dengannya, Aina pasti sedang bersama dia."
"Untuk apa Mas memikirkan Aina, biarkan saja dia bersama Shaka. Untuk apa Mas peduli lagi pada dia." ucap Erina dengan nada meninggi.
"Aku harus pergi! maafkan aku Erina. Aku akan kembali lagi nanti." kemudian Adam meninggalkan Erina, ia tak peduli dengan permohonan Erina. Bahkan Erina menahan kaki Adam dengan bersujud, ia tidak ikhlas jika Adam harus mencari Aina. Ia cemburu dengan perilaku Adam yang manis berharap pada mantan istrinya.
"Lepaskan tangan mu Erina."
"Tidak Mas, kau tak boleh pergi."
Adam sangat kesal dengan sikap Erina, lalu ia menendangnya dengan kasar.
"Mas, jangan pergi." teriaknya "Argghhh." Erina frustasi dengan sikap Adam, ia mengacak-acak rambutnya seperti orang gila.
Adam menyalakan mobilnya lalu ia menyetir dengan kecepatan tinggi untuk pergi menuju hotel yang Shaka tinggali.
'Aina jika kau bersama Shaka, aku tak akan memaafkan mu.' ucapnya dalam hati dengan mengepalkan tangannya pada setir mobil.
Bersambung.
__ADS_1