Wanita Yang Kau Abaikan

Wanita Yang Kau Abaikan
Episode 25


__ADS_3

Adam mencarinya ke dapur namun ia juga tak menemuinya, lalu ia bertanya pada pak security.


"Apa kau melihat Aina?"


"Tadi saya melihatnya, tapi tak tahu dia pergi kemana."


"Ah sial! kenapa kau tak bertanya padanya. Kau tahu aku sedang mencarinya." kesal Adam, ia marah pada security yang tak tahu keberadaan Aina.


'Ah mungkin saja ia pergi merayu Shaka?' pikirnya dalam hati. Kemudian ia mengambil ponselnya dalam saku lalu ia mencari nomor Shaka dan segera menelponnya.


"Hallo, ada apa?" tanya Shaka dalam telpon.


"Dimana Aina?"


"Lah kenapa kau bertanya padaku, aku tidak tahu." jawabnya.


"Kau bohong, kau sedang bersama Aina kan?"


"Ck, aku masih dikantor. Tanya saja pada Jack kalau kau tak percaya padaku."

__ADS_1


Adam mematikan ponselnya begitu saja membuat Shaka tertawa. Shaka berniat tidak akan memberitahu kepulangan Aina agar ia merasakan rasanya kehilangan wanita yang pernah mencintainya.


'Kalau gitu lebih baik aku pulang saja, agar Adam tak mencurigai ku.' pikir Shaka dalam hatinya.


Tak lama kemudian Adam menghubungi Jack, ia juga masih tak mengetahui keberadaan Aina dimana? Adam semakin frustasi di buatnya, baru kali ini ia merasa seperti kehilangan separuh hatinya.


"Aina, kau dimana." lirihnya.


Erina mencari Adam diseluruh ruangan, namun ia tak menemukannya. Ia heran kenapa suaminya tak menempati janji.


'Katanya Mas Adam pergi sebentar, tapi kok gak balik lagi.' gerutunya.


"Mas, kau sudah dari mana?" tanyanya.


"Ah sudah dari depan." jawabnya singkat.


"Kau kenapa Mas, kau tak seperti biasanya?"


"Ah aku tidak apa-apa, aku hanya sedang ada masalah dalam pekerjaanku." Erina pun mengangguk mengerti dengan ucapan Adam.

__ADS_1


"Ya sudah, Mas istirahat dulu. Aku mau buatkan kopi untukmu." dengan cepat Adam menarik tangan Erina.


"Tidak perlu, aku sedang tidak ingin minum kopi. Aku hanya ingin istirahat saja." ucapnya.


"Ya sudah Mas, kalau gitu aku mau masak dulu ya." Adam mengangguk mengiyakan ucapan Erina.


Setelah menempuh waktu sekitar 4 jam, Erina baru sampai dikampung halamannya. Ia melihat rumah peninggalan orang tuanya dengan rasa sedih dan membayangkan kenangan disana. Bahkan rumah itu sangat terlihat bersih karena Bu Mariam yang menyuruh orang untuk merawatnya bahkan ia juga yang menggaji orang suruhannya.


"Sudah satu tahun aku baru datang kesini lagi, ternyata Ibu mertuaku sangat baik dan menempati janjinya. Rumah peninggalan orang tuaku sangat terawat. Terima kasih Ibu." ucapnya dalam hati dengan meneteskan air mata yang sudah ia tahan sejak tadi.


"Ibu, Ayah, Aina rindu kalian. Sekarang Aina sudah tak punya siapa-siapa lagi. Maafkan Aina tak bisa menjaga amanat kalian, Aina tak bisa menjadi istri yang baik. Aina gagal dalam membangun rumah tangga, maafkan Aina." lirihnya.


Kemudian ia masuk kedalam rumahnya dengan jalan perlahan. Kenangan lama orang tuanya ia ingat kembali, dulu ia gadis yang paling disayang bahkan ia tak pernah merasakan hidup susah walaupun sederhana. Ia sangat menikmati suasana kampung yang asri. Namun setelah orang tuanya meninggal karena kecelakaan, kini hidupnya berubah. Ia harus berjuang sendirian untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, bahkan ia bersyukur telah bertemu dengan Ibu Mariam yang telah memperlakukannya seperti anak kandung. Namun setelah menikah, hidupnya kembali berubah. Ia seperti wanita yang tak punya tujuan hidup, bahkan sang suami tak pernah mencintai dirinya sehingga hubungan rumah tangga mereka hancur karena orang ketiga.


Aina mengusap air mata yang membanjiri pipinya, ia tak ingin menangis terlalu dalam lagi.


"Aku tak boleh menangis, aku harus ikhlas dengan takdir yang ku jalani sekarang." ucapnya dengan menyemangati dirinya sendiri.


Bersambung.

__ADS_1


Hai kak jangan lupa like, komen, serta suscribe ya.


__ADS_2