
Seperti biasa setiap pagi hari Aina kembali memasak untuk sarapan pagi. Namun hari ini Aina heran ia tak melihat Erina di dapur.
"Pagi..." ucap Shaka yang baru saja datang.
"Kak Shaka? tumben pagi-pagi sudah wangi." Shaka tersenyum simpul lantaran Aina memujinya.
"Karena ada kamu, jadi aku semangat untuk bangun pagi." ucapnya.
"Boleh aku bantu?" lanjutnya lagi.
"Boleh kak, bawakan ini ke meja makan ya." Shaka pun mengangguk untuk jawabannya, ia segera membawa sarapan paginya ke meja makan.
Tak lama kemudian Adam datang menghampiri Shaka yang sedang menyiapkan sarapan.
"Tumben pagi-pagi sekali kau sudah bangun?" tanyanya.
"Ya, tentu saja. Kau juga tumben sekali sudah turun?" Shaka malah balik tanya.
"Kau kapan akan pulang keluar negri? Ibuku sudah sembuh dan sebentar lagi akan segera pulang?"
"Memangnya kenapa kalau Ibumu sudah pulang? apa ada hubungannya denganku?"
"Tentu saja, karena tugas mu sudah selesai di rumah ini. Bukankah Ibuku hanya membutuhkanmu untuk sesaat saja?"
"Ya, aku tahu."
Aina yang sedang di dapur ia menguping pembicaraan Shaka dan Adam. Aina senang Ibu mertuanya sudah kembali pulih, namun ia sedih mendengar Shaka yang akan segera pulang ke luar negri.
"Semoga kau secepatnya untuk pulang." kata Adam. Shaka tersenyum sinis menanggapi ucapan Adam. Namun ia tak menjawabnya karena ada Aina yang menghampirinya.
"Makanannya sudah siap. Ayo sarapan." ucap Aina. Shaka dan Adam pun segera duduk saling berhadapan.
"Ah ia, Erina mana?" tanyanya.
__ADS_1
"Dia ada di kamarnya."
"Kenapa tidak turun, apa Erina sedang sakit?"
"Dia baik-baik saja, mungkin belum mau sarapan." kata Adam.
"Kalau gitu aku akan memanggilnya, kasihan dia sedang mengandung. Gak boleh telat makan." ucap Aina, lalu ia berdiri dari tempat duduknya. Namun Adam menghentikan langkah Aina dengan menahan tangannya.
"Tak perlu, biarkan saja dia."
"Kenapa? kau tega sekali membiarkan istrimu."
"Biar aku saja yang kesana, kau duduk saja disini. Nikmati sarapan mu." ucapnya pada Aina.
Kemudian Adam melangkahkan kaki ke lantai atas untuk menemui Erina. Semalam ia bertengkar hebat dengan Erina sehingga ia tak saling sapa.
Tok tok tok
"Erina! buka pintunya." teriak Adam dari luar kamarnya. Namun tak ada sahutan dari dalam.
"Kalau kau tak mau membuka pintu. Aku akan mendobraknya." kata Adam. Ia kesal karena Erina tak kunjung membukakan pintu untuknya, ia terpaksa harus mendobrak pintu agar bisa masuk kedalam.
Brakkk.
Sekali dobrakan, Adam berhasil membuka pintunya. Namun ia tak melihat Erina di tempat tidur.
"Erina! kau dimana?" lalu Adam mencarinya ke kamar mandi, ia melihat tetesan darah di setiap langkahnya.
"Erina!"
Adam segera menghampiri Erina.
"Erina bangun!"
__ADS_1
"Erina bangun! ada apa dengan mu."
Darah segar mengalir dari kaki Erina, seketika Adam panik melihat darah yang begitu banyak. Ia segara menggendong tubuh Erina dan segera membawanya ke lantai bawah untuk segera dibawa ke rumah sakit.
"Erina bertahanlah."
Shaka dan Aina melihat adam menggendong Erina dengan wajah paniknya.
"Mas adam! kenapa dengan Erina."
"Shaka tolong segera bukakan pintu mobilnya, Erina jatuh di kamar mandi." Aina mendengar jawaban dari Adam ia langsung menutup mulutnya, ia juga ikut panik melihat darah segar yang bercucuran dari kaki Erina.
Shaka segera membuka pintunya, ia yang akan menyetir mobil untuk membawa Erina ke rumah sakit.
"Aku ikut!" ucap Aina. Shaka segera membukakan pintunya.
"Cepat! kenapa kau lama sekali sialan." teriak Adam.
"Tenang, sabar, aku berusaha secepat mungkin untuk segera sampai."
"Kau bilang sabar! bagaimana bisa kau bilang seperti sedangkan istriku sedang sekarat." tegasnya dengan wajah yang penuh menahan amarah.
Setelah menempuh perjalanan 15 menit, akhirnya mereka sampai di rumah sakit. Kemudian Erina segera di larikan menuju IGD.
"Dok tolong selamatkan anak dan istri saya." ucap Adam dengan penuh permohonan.
"Baik pak, saya akan berusaha. Bapak tunggu disini."
"Terima kasih dok." Aina segera menghampiri mantan suaminya, ia ingin tahu apa penyebab Erina mengalami pendarahan.
"Mas, kenapa Erina bisa seperti itu?"
"Aku juga tidak tahu Aina, sepertinya Erina terjatuh di kamar mandi dan tak sadarkan diri."
__ADS_1
"Sabar ya Mas, semoga Erina dan janinnya baik-baik saja." Adam mengangguk sebagai jawabannya. Ia menyesal karena semalam telah bertengkar dengan Erina. Mungkin semua ini karenanya sehingga Erina mengalami pendarahan.