
Shaka dan Aina sudah sampai diruang utama. Aina yang sudah lama menahan rindu pada Ibu mertuanya itu, ia langsung berlari dan memeluknya dengan erat.
"Aku merindukan Ibu, terima kasih ya Allah atas kesembuhan Ibu." ucapnya dengan doa yang ia panjatkan.
"Ibu juga rindu kamu, Aina. Sekarang Ibu akan tinggal disini lagi menikmati masakanmu." Aina mengangguk terharu, ia sangat bahagia atas kesembuhan dan kepulangan Ibu mertuanya.
"Aina akan memasak apa saja untuk Ibu, terima kasih Ibu sudah berjuang untuk sembuh." Bu mariam tersenyum, kemudian ia memeluk Aina kembali.
"Akhirnya kakak sudah kembali kesini lagi," ujar Shaka lalu ia mendekatinya dan memeluknya.
"Terima kasih sudah menjaga Aina," Shaka mengangguk atas jawabannya. Sedangkan Adam berkerut kening menanggapi kata menjaga?
'Apa selama ini Ibu sengaja mengirim Shaka kesini untuk menjaga Aina?' pikirnya dalam hati.
"Ya sudah kalau gitu kita berkumpul di ruang utama," mereka semua mengikuti langkah Bu Mariam untuk menuju ruang utama.
"Silakan duduk, Ibu ingin berbicara dengan kalian semua." ucapnya.
Aina, Adam, dan juga Shaka menuruti perintah Bu Mariam.
"Apa yang ingin Ibu bicarakan pada kami?" tanya Adam.
Mariam menarik nafasnya dalam, lalu ia menatap Adam dan Aina bergantian.
"Kalian sudah bercerai?" tanyanya, Adam tak menjawab pertanyaan sang Ibu. Ia hanya menunduk.
__ADS_1
"Jawab Ibu, Adam."
"Kamu sudah bercerai Bu," kata Aina, membantu Adam untuk menjawab pertanyaannya. Entah kenapa hati Adam tak rela dengan kata cerai dihadapan Ibunya. Jika waktu bisa di ulang kembali, mungkin Adam ingin mencabut kembali kata-katanya.
"Jadi benar kalian sudah bercerai, Ibu kira waktu itu Adam hanya berbohong. Namun ternyata benar Adam menceraikan mu?"
"Iya Bu, kami sudah bercerai dan sekarang Mas Adam milik mbak Erina." Bu Mariam pun mengangguk atas jawaban Aina.
"Kenapa kau tak menemani istrimu Adam?" Adam yang menunduk pun seketika mengangkat kepalanya lalu menatap sang Ibu.
"Apa maksud Ibu?"
"Jujur saja pada Ibu, Ibu sudah tahu semuanya bahwa istri mu keguguran."
"Tentu saja Ibu tahu, apa kau lupa Ibu ini siapa?" Adam baru mengerti dengan ucapan Ibunya, ia baru sadar bahwa Ibunya pasti mengirim seseorang untuk memata-matai keadaan rumah utama.
"Pergilah, temani istrimu. Kau yang memilih dia untuk dijadikan istri. Kenapa sekarang kau malah meninggalkannya, Adam?"
"Adam kecewa Bu,"
"Walaupun kau kecewa, seharusnya kau tak seperti ini. Kau harus sadar diri apa kesalahan mu sehingga membuat istrimu keguguran. Pergilah temani dia." dengan cepat Adam menggelengkan kepalanya, ia tidak bisa menemui Erina sekarang. Karena ia sangat kecewa pada Erina.
"Mas, pergilah temani istrimu. Kasihan dia." ujar Erina.
"Tidak! Aku tidak akan menemuinya." tegas Adam, lalu ia pergi meninggalkan ruang utama dengan perasaan kecewanya.
__ADS_1
Bu Mariam hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat perlakuan Adam.
"Shaka, kapan kau akan pulang? sekarang kakak sudah sembuh. Kau bisa mengurus perusahaan mu kembali." ucapnya kepada Shaka.
"Mungkin lusa aku akan pulang kak, sebenarnya aku masih betah tinggal di rumah ini. Tapi karena ini bukan tempat tinggalnya, jadi aku harus pulang." kata Shaka membuat hati Aina sakit, ia merasa tidak rela jika harus berpisah dengan Shaka. Karena ia sudah terlanjur nyaman dengan pria yang ada dihadapannya.
"Baiklah, jika kau akan pulang lusa. Terima kasih sudah menjalankan perusahaan kakak dengan baik."
"Sama-sama kak, kalau gitu aku permisi dulu." ucap Shaka, lalu ia meninggalkan Aina dan Bu Mariam yang masih mengobrol.
'Entah kenapa hati ini tak sanggup menatapnya, aku tahu kau memiliki perasaan yang sama sepertiku, Aina.' lirihnya dalam hati.
"Aina, kenapa wajahmu seperti memikirkan sesuatu?"
"Aku tidak apa-apa Bu hehe, aku hanya lelah saja."
"Ya sudah, istirahatlah Aina."
"Terima kasih Bu, kalau begitu aku izin ke kamar ku." Bu Mariam pun mengangguk dengan tersenyum.
Sesampainya di kamar, Aina menumpahkan air matanya yang sedari tadi ia tahan. Entah kenapa hatinya sakit sekali mendengar Shaka akan pulang besok lusa.
'Perasaan apa ini? kenapa sakit sekali,' lirihnya dengan memukul dadanya.
Bersambung.
__ADS_1