
Shaka yang baru saja turun dari mobil di kagetkan dengan kedatangan Adam yang tiba-tiba.
"Dimana Aina!" tegasnya dengan menarik kerah baju Shaka.
"Apa maksudmu?"
"Dimana Aina? kau yang menyembunyikannya dariku." Shaka tersenyum sinis lalu ia menatap kedua bola mata Adam.
"Aku tidak sedang bersama dia, aku tak tahu dia ada dimana? kenapa kau mencarinya, bukankah kau sudah bercerai dan sudah menjadi mantan suami? lalu kenapa kau masih mencarinya? Aina berhak pergi kemana pun atau menikah dengan siapapun. Aku hanya mengingatkanmu saja, bahwa Aina tidak bersamaku. Cek saja kamar hotelku kalau kau tak percaya." kata Shaka. Adam langsung melepaskan tangannya dari Shaka dengan kasar.
Shaka pergi meninggalkan Adam yang masih berdiri di samping mobilnya, ia menertawakan Adam dalam hatinya.
Sedangkan Adam masih berdiri disana, ia memikirkan kemana perginya Aina. Bahkan ia sudah menghubungi Aina berkali-kali namun nomornya tidak pernah aktif. Malam ini Adam sangat frustasi padahal belum satu hari Aina pergi dari rumahnya.
__ADS_1
'Aina, kau dimana?' lirihnya, Adam merasa menyesal dengan sikapnya yang sudah menyia-nyiakan Aina. Ia baru sadar bahwa dirinya tak bisa hidup tanpa Aina.
Malam ini Shaka tinggal disebuah hotel sampai Aina pulang kerumah utama, ia merasa tidak semangat jika Aina tak ada dirumah itu. Shaka juga menghubungi Aina lewat nomor baru yang Aina berikan padanya.
"Aina kau sedang apa? apa kau sudah makan?" tanyanya lewat pesan yang ia kirimkan.
Aina melihat ada notifikasi pesan masuk pada ponselnya. Ia tahu itu pasti Shaka karena Shaka lah yang sudah ia hubungi lewat nomor telpon baru.
Aina tak sanggup untuk membalas pesan itu, ia sedang menangis sendirian dirumah peninggalan orang tua. Aina telah di cap pelakor oleh wanita yang tak dikenal bahkan ia dibenci oleh warga yang ada di kampungnya.
'Kenapa hidupku selalu seperti ini, kenapa hidupku tak pernah tenang. Kenapa semua orang harus memperlakukanku seperti ini.' lirihnya, ia sudah tak tahan lagi hidup dalam kebencian orang lain. Ia kira tinggal di rumah peninggalan orang tuanya akan tenang tanpa ada yang mencari masalah. Namun ternyata yang dia harapkan itu tidak sesuai, ia sangat sedih bahkan terpuruk sendirian di rumah peninggalan orang tuanya.
Ponsel Aina mulai berdering kembali, shaka menghubunginya. Lantaran ia sangat mengkhawatirkan Aina. Aina bangkit dari keterpurukannya, ia harus meminta bantuan Shaka.
__ADS_1
"Aina, kenapa kau lama sekali menjawab teleponku." ucap Shaka dengan nada khawatirnya.
"Maaf Shaka," jawabnya dengan suara lemah. "Tolong aku," Shaka mengerutkan keningnya dengan permintaan tolong Aina.
"Kau kenapa?"
"Aku ingin pulang, aku takut disini."
"Tolong berikan alamat mu sekarang, aku akan kesana." ucapnya, Aina merasa lega telah menghubungi Shaka untuk meminta bantuan. Ia sangat bersyukur mengenal Shaka yang peduli padanya.
Tanpa menunggu hari esok, Shaka dengan cepat mengambil kunci mobilnya lalu ia segera pergi ke parkiran. Padahal ia belum tidur sama sekali untuk malam ini, bahkan ia lebih mempedulikan Aina dari pada dirinya. Namun di sisi lain, Adam melihat Shaka yang keluar dari hotel dengan tergesa-gesa. Ia curiga pada Shaka.
'Aku harus segera mengikutinya, aku yakin dialah yang tahu keberadaan Aina." gumamnya. Adam segera melajukan mobilnya untuk mengikuti Shaka.
__ADS_1
Bersambung.
Hai kak jangan lupa like, komen, serta suscribe ya.