
Hari ini adalah hari ke pulangan Shaka untuk kembali ke negaranya, ia sudah bersiap-siap dengan merapihkan bajunya ke dalam cover.
Sedangkan Aina Sadang berada di kamarnya, ia tak tahu harus bagaimana untuk mengungkapkan perasaannya pada Shaka.
'Aku sudah tak mampu lagi menahan rasa ini, apa aku harus bilang dan jujur pada kak Shaka.'
Shaka mengirimkan pesan pada Aina. "Aina, keluarlah. Aku mau pulang sekarang, kenapa dari kemarin kau menjauhiku." isi pesan yang dikirim pada Aina.
Aina pun membaca pesannya dengan perasaan tidak rela. Kemudian ia membuka pintu kamarnya untuk turun ke lantai utama. Akan tetapi ia malah di bertemu Adam yang berdiri di hadapan pintu kamarnya.
"Aina!" ucap Adam dengan menggenggam tangan Aina.
"Ada apa lagi, Mas. Lepaskan tanganku." ketusnya.
"Tidak, sebelum kau menjawab pertanyaan ku."
"Pertanyaan yang mana, Mas?"
"Jangan pura-pura amnesia, aku tahu kau masih ingat dengan ucapanku kemarin," Aina menarik nafasnya, lalu ia menatap Adam dalam-dalam.
"Aku sudah bilang padamu, Mas. Aku tak akan pernah kembali padamu. Jadi tolong jangan ganggu hidupku. Bahagia lah bersama istrimu yang sekarang."
"Tidak, Aina. Aku ingin kembali padamu, aku ingin kita seperti dulu. Aku akan menceraikan Erina demi kamu. Ayo kita hidup bahagia seperti dulu." Aina menggelengkan kepalanya mendengar kata-kata mantan suami yang tak masuk akal.
"Kata-kata macam apa lagi, Mas. Sangat konyol sekali." Aina segera melepaskan tangan Adam dengan kasar, lalu ia berjalan dengan sedikit berlari untuk turun ke lantai bawah.
"Aina," panggil Bu Mariam.
"Dimana kak Shaka, bu?"
"Dia sudah berangkat, Aina. Kenapa kau lama sekali? Tadi Shaka menunggu ke datanganmu."
"Kenapa dia tak menungguku sebentar saja, Bu," ucapnya dengan nada panik.
__ADS_1
"Kalau gitu Aina mau ke bandara, Aina mau bertemu kak Shaka dulu." sambungnya lagi.
"Ya, masih ada waktu setengah jam lagi untuk ke berangkatannya. Cepatlah, nanti dia keburu terbang."
"Iya Bu," Aina pun berlari ke halaman depan untuk mencari taxi, akan tetapi Bu Mariam segera menyuruh sopir pribadinya untuk mengantarkan Aina.
"Anak itu ada-ada saja, kenapa dia nyari taxi padahal ada sopir," pikirnya dalam hati dengan menggelengkan kepalanya melihat tingkah Aina yang begitu polos.
"Nona, ayo masuk. Saya disuruh nyonya untuk mengantar."
"Terima kasih, pak. Tolong lebih cepat ya, aku takut kak Shaka ke buru pergi."
"Iya non, ini sudah di kecepatan tinggi. Semoga saja tuan Shaka masih disana."
Aina duduk di kursi belakang dengan perasaan tak menentu.
'Kak, aku mohon jangan dulu pergi.' lirihnya dalam hati.
Aina mengambil ponselnya di saku, lalu ia menghubungi Shaka. Akan tetapi ponselnya tidak aktif.
'Kak kamu dimana?'
"Non, apa tuan Shaka nya masih ada?"
"Saya juga tidak tahu pak, tolong bantu saya untuk temui dia. Bukankah ini belum jam penerbangan."
"Iya non, kalau gitu saya mau pergi ke arah sana. Semoga bisa bertemu dengan tuan Shaka."
"Iya pak, terima kasih ya," Aina kembali berjalan mencari keberadaan Shaka karena jam penerbangannya sebentar lagi.
Ia mencoba kembali menghubungi nomor teleponnya, namun hasilnya nihil. Nomor yang digunakan Shaka tidak aktif.
"Apa kau menghubungiku?" ucap seorang pria yang berada di belakangnya. Aina pun segera membalikkan badannya, ia tak asing dengan suara yang sering ia dengar.
__ADS_1
"Kak Shaka," ucapnya dengan nada bergetar, ia langsung memeluknya dengan erat.
"Kak, akhirnya kau masih di sini."
"Ada apa kau mencariku? Kenapa kau tak menemuiku tadi."
"Maaf kak, aku minta maaf. Aku tak ingin melihat kepergian kak Shaka karena jujur hati ini sakit dan tak rela," ucapnya dengan nada bergetar yang hampir saja air matanya pecah.
"Kenapa seperti itu?" tanyanya.
"Aku tak tahu kenapa, aku gak rela kak Shaka pulang... tinggallah disini bersamaku kak," ucapnya dengan gugup.
Shaka tersenyum dengan pengakuan Aina, kemudian ia menangkup wajah Aina.
"Benarkah seperti itu?" Aina pun mengangguk sebagai jawaban.
"Untuk apa aku tinggal di sini kalau hanya sebatas teman, bukankah lebih baik aku pulang untuk mencari wanita yang mencintaiku."
Aina menatap Shaka dengan tatapan sendunya.
"Tolong jangan pulang, aku ingin kak Shaka tinggal disini bersamaku sebagai pendamping hidupku." Aina memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaannya yang selama ini ia pendam.
Shaka tersenyum menatap Aina, lalu ia mendekatkan wajahnya tanpa jarak sehingga hembusan nafas yang terasa.
Cup...
Shaka mengecup bibir Aina dengan lama, kemudian ia mengakhiri kecupan itu. Tapi entah kenapa Aina masih ingin merasakan bibir basah yang menempel pada bibirnya.
"Aku mencintaimu, Aina. Mau kah, kau menjadi istriku."
"Aku mau kak," jawabnya tanpa berpikir panjang, ia menerima Shaka sebagai pendamping hidupnya.
...----------------...
__ADS_1