
Setelah kepergian Aina, Erina berteriak sekeras mungkin. Ia sangat frustasi sekarang lantaran suaminya pergi meninggalkan dirinya.
"Arghhh," suster yang sedang berjaga pun segera menyuntikkan obat penenang agar Erina tak memberontak.
"Aina, kau tak boleh lemah jika sedang bersama Erina. Kau tahu dia itu yang licik." ujar Shaka.
"Iya kak, maafkan aku yang lemah ini." Shaka menggenggam tangannya, lalu ia mengecupnya.
"Kau tak perlu minta maaf padaku, aku hanya mengingatkan saja. Aku meminta padamu agar nanti disaat aku pergi dari negara ini, aku tak ingin kau terlihat lemah dihadapan mereka." kata Shaka.
"Jadi kak Shaka mau pergi meninggalkan negara ini? kenapa kak Shaka tidak tinggal disini untuk selamanya?" ujar Aina dengan memandang sendu pada Shaka.
Shaka tersenyum, lalu ia mengacak-acak rambut Aina dengan gemas.
"Karena aku memiliki perusahaan disana. Aku tak bisa tinggal disini terus, kecuali..."
"Kecuali apa kak?" tanyanya.
"Hem kecuali, aku memiliki kekasih atau seorang istri di negara ini. Maka aku akan tinggal disini selamanya." kata Shaka, ia berharap Aina mengerti apa yang ia maksud.
"Lalu kenapa kakak tak mencari kekasih? agar kakak bisa tinggal disini."
__ADS_1
"Hem, aku tidak mau jika harus mencari. Aku hanya menginginkan wanita yang sedang bersamaku." ujarnya membuat Aina bertanya-tanya dalam hatinya.
"Siapa dia? kenapa aku tak tahu kalau kak Shaka memiliki seorang wanita." Shaka tersenyum menanggapi ucapan Aina, lalu ia menatapnya dengan serius.
"Kalau aku hilang wanita yang sedang bersamaku adalah kamu, apa kamu akan menerima?"
"A-apa maksud kak Shaka, ke-kenapa jadi aku?" ucap Aina dengan nada terbata-bata.
"Ya, memang kamu. Itulah kenyataannya, sudah lama aku ingin memiliki mu sejak awal kita bertemu."
"Apa maksud kak Shaka? jadi selama ini kak Shaka mengincar ku?"
"Hahaha," Shaka tertawa dengan pertanyaan Aina.
"Ah sudahlah, jangan bahas soal itu. Lebih baik sekarang kita pulang." ucapnya dengan mengajak Aina untuk segera pulang. Padahal Aina masih ingin tahu penjelasan dari Shaka. Karena ia juga memiliki perasaan yang tak biasanya saat sedang bersama Shaka. Ia sedikit kecewa karena Shaka tak melanjuti obrolannya. Begitu juga dengan Shaka, ia sangat berharap Aina akan bertanya soal perasaannya.
Adam baru saja sampai di rumah utama, ia melihat banyak mobil berjejer dihalaman rumah utama.
"Ibu? apa Ibu sudah pulang?" pikirnya dalam hati. Kemudian Adam segera memasuki rumah, ia sudah sangat merindukan kepulangan Ibunya.
"Adam," ucap Bu Mariam dengan nada lembutnya.
__ADS_1
"Ibu!" Adam melangkah dengan sedikit berlari kearah sang Ibu, ia langsung memeluknya dengan erat dan mencium tangannya berkali-kali.
"Ibu, terima kasih sudah pulang kerumah. Aku sangat merindukan Ibu." Ya, Bu Mariam tidak menggunakan kursi roda lagi. Ia sudah bisa berdiri tanpa bantuan tongkat.
"Ibu juga merindukan mu, dimana Aina?" tanyanya.
"Aina sedang bersama Shaka Bu, sebentar lagi ia pasti pulang."
"Dimana istrimu?" tanyanya lagi.
"Maksud Ibu? istriku?"
"Ya, istrimu. Dimana dia?"
"Aku sudah bilang, Aina bersama Shaka Bu." Entah kenapa Adam tak ingin menyebutkan nama istrinya, ia takut penyakit Ibunya kambuh kembali.
"Bukankah Aina sudah menjadi mantan istrimu? Ibu bertanya dimana istri pilihanmu itu?"
"Ah, Erina sedang berada dirumah orang tuanya Bu," jawab Adam berbohong. Padahal Bu Mariam mengetahui apa yang terjadi pada menantunya itu. Selama ia sakit, ia telah menyuruh seseorang untuk memata-matai kehidupan dirumah utama. Bahkan tak sedikit pun yang terlewat untuk dilaporkan padanya.
Bu Mariam hanya tersenyum menanggapi ucapan Adam, padahal ia tahu bahwa Erina keguguran dan ia juga tahu Erina meminum obat terlarang.
__ADS_1
...----------------...