Wanita Yang Kau Abaikan

Wanita Yang Kau Abaikan
Episode 35


__ADS_3

Adam turun kebawah dengan menenteng tas kerja di tangannya. penampilan pagi terlihat sedikit berantakan, ia juga tidak bisa memasangkan dasinya sendiri.


"Adam kau baru bangun?" tanya Bu Mariam.


"Sudah dari tadi Bu," jawabnya.


"Lebih baik kau jangan pergi ke kantor, pergilah temui istrimu. Dia butuh dukungan mu."


"Tidak Bu, aku malas."


"Adam, kau tak boleh seperti itu. Erina juga istri mu walaupun dia salah ambil tindakan, mungkin itu semua karena kamu juga." ucapnya, Adam tak menanggapi ucapan sang Ibu. Ia malah menatap Aina dengan tatapan yang tak bisa di artikan. Sehingga membuat Aina takut dan ia menunduk untuk menghindari tatapannya.


"Kalau gitu, Ibu akan menjenguk Erina. Kau harus antar Ibu kesana. Bagaimana pun dia istrimu, wanita yang telah kamu pilih dan membuang wanita pilihan Ibu." tegasnya pada Adam.


Adam menunduk lesu lantaran ia masih kesal dengan kejadian kemarin, bahkan Adam juga berniat menceraikan Erina.


"Ibu akan bersiap-siap dulu, tunggu sebentar." ujarnya, kemudian Bu Mariam berdiri dari tempat duduknya lalu segera pergi ke kamar untuk bersiap-siap.


"Aina, tolong rapihkan dasiku." kata Adam pada Aina, Shaka yang sedang menikmati sarapannya seketika langsung berhenti menatap Adam.


"Maaf Mas, aku tidak bisa." tolaknya.


"Kau tahu aku tak bisa memasangkan dasi, tolong bantu aku." ucap Adam.


"Maaf Mas, tapi aku tidak bisa. Kau bisa menyuruh istri mu saja." Adam menarik nafas dengan kasar lalu ia menatap Aina dengan tatapan tajamnya.

__ADS_1


"Kau tahu istriku sedang sakit? apa susahnya hanya membenarkan dasiku. Tenang saja aku tak akan bermacam-macam padamu." jelasnya, meyakinkan Aina. Dengan terpaksa Aina segera berdiri dari duduknya lalu ia menghampiri Adam yang masih duduk di kursi.


"Sini biar aku benarkan, Mas." Adam tersenyum senang karena Aina sudah menurut padanya, inilah niatnya untuk membuat Shaka cemburu.


"Sudah, Mas."


"Apa-apaan ini? ulang lagi." Aina pun mengulang kembali untuk merapihkan dasinya, padahal Adam sengaja ingin berlama-lama.


Shaka menatap tak suka pada Adam, ia tahu tujuan Adam untuk membuatnya kesal.


"Sudah, Mas."


"Terima kasih," setelah selesai merapihkan dasi, Aina melangkah kembali untuk menuju tempat duduknya. Namun tiba-tiba Adam menarik tangan Aina sehingga Aina terhuyung tepat di bagian dadanya Adam.


Adam tersenyum menatap bola mata Aina, ia senang mengerjai mantan istrinya di depan Shaka. Bahkan tak ada jarak di antara mereka sehingga hembusan nafasnya sangat terasa. Adam sengaja merangkul pinggang Aina dengan erat.


"Em maaf aku tak sengaja."


Shaka kesal dengan pemandangan barusan, ia mengepalkan jari tangannya dengan kuat. Shaka cemburu melihat Adam memperlakukan Aina seperti itu, Shaka ingin marah pada Adam. Akan tetapi dirinya tak punya hak untuk marah karena ia bukan siapa-siapa bagi Aina.


Tak lama kemudian Bu Mariam kembali ke meja makan dengan menenteng tas ditangannya. Bu Mariam terlihat segar dan kembali muda setelah merias penampilannya, kini ia kembali seperti Ibu direktur.


"Apa kau sudah selesai?" tanyanya pada Adam.


"Sudah Bu,"

__ADS_1


"Ya sudah ayo kita kesana." ajaknya.


"Aina, Ibu mau ke rumah sakit dulu ya." ucapnya lagi.


"Iya Bu, hati-hati dijalan." kemudian Bu Mariam pergi meninggalkan rumah utama, begitu juga diikuti oleh Adam. Sebelumnya Adam memberi senyuman tak biasa pada Aina sehingga membuat Aina merinding sekujur tubuhnya.


Kini hanya tinggal mereka berdua, tak ada suara yang diucapkan. Hanya ada suara dentingan sendok yang terdengar.


Shaka mulai membuka suara.


"Sepertinya mantan suami mu masih mengharapkan mu." ucap Shaka.


"Apa maksud kak Shaka? Mas Adam sudah memiliki Erina. Mana mungkin ia mengharapkan ku lagi. Lagian aku tak berharap padanya." Shaka mengangguk atas jawaban Aina, ia senang jika Aina memang sudah tak berharap lagi pada Adam.


"Apa benar kau tak berharap padanya?"


"Untuk apa? aku tak ingin jadi pelakor dalam rumah tangga mereka. Aku juga tak berniat kembali padanya." jawabnya dengan tegas.


"Bagus kalau kau tak berharap padanya, karena ada satu pria yang sedang mengagumimu dan ia memiliki perasaan padamu."


"Apa maksud mu, siapa dia?" ucap Aina dengan mengerutkan dahinya.


"Nanti juga kau akan tahu, aku permisi dulu karena ini sudah siang." ujar Shaka dengan melihat jam ditangannya.


"Ya, hati-hati dijalan kak."

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2