
Aina menatap kepergian suaminya dengan wanita lain, ia hanya bisa menahan sakit dan kecewa. 'Apa aku sudah tak berarti lagi untukmu Mas, aku memang wanita tak sempurna yang tidak bisa memberimu keturunan.' lirihnya dalam hati.
"Asti, bagaimana dengan Aina?" tanya Bu Mariam. "Non Aina masih berdiri depan, tuan Adam pergi bersama wanita yang akan dinikahinya."
"Kasihan sekali menantuku, Adam sangat keras kepala. Aku menyesal terlalu memanjakannya." bi Asti mengusap lembut pundaknya, ia juga sedih melihat kondisi Bu Mariam yang semakin memburuk. "Nyonya tak perlu memikirkan tuan Adam lagi, Asti yakin non Aina pasti kuat menghadapinya. Lebih baik nyonya fokus pada kesehatan saja, agar nyonya bisa membantu non Aina." ucapnya.
"Bagaimana mungkin aku membiarkan menantuku terpuruk sendirian Asti. Aku tak tega melihat Aina seperti ini. Andai waktu bisa diulang kembali, aku ingin menjadikan Aina sebagai anakku tanpa harus menikah dengan Adam." ucapnya dengan nada penuh penyesalan. "Semua ini sudah takdir nyonya, kita jalani saja. Semoga kedepannya Aina akan mendapat kebahagiaan." Bu Mariam mengangguk atas jawabannya. "Antar aku untuk menemui Aina." ucapnya.
"Baik nyonya." Asti mendorong rodanya menuju pintu utama. Mereka melihat Aina yang masih berdiri disana dengan terik matahari yang menyinari tubuhnya.
"Asti tolong panggilkan Aina untuk masuk kedalam. Kenapa dia sangat betah sekali berdiri disana."
"Baik nyonya." Lalu Asti menghampiri Aina, ia melihat Aina yang masih menangisi kepergian suaminya. "Non, ayo masuk. Disini sangat panas."
"Aku masih betah disini bi, aku akan menunggu suamiku sampai ia kembali pulang." ucapnya.
"Tolong jangan seperti ini nona, ayo masuk. Ibu menunggumu didalam." Asti terpaksa menarik tangan Aina, ia takut jika Bu Mariam semakin sedih melihatnya. "Aku masih ingin disini bi."
"Nona, tolonglah jangan begini. Kasihan sama Ibu. Dia ikut sedih melihatmu." ucapnya, Aina baru sadar dengan Ibu mertuanya yang sedang sakit. Dengan cepat Aina berlari kedalam untuk menemui Bu Mariam.
"Ibu!" panggilnya, Aina berjongkok didepan Ibu mertuanya lalu ia memeluknya dengan erat. "Ibu, maafkan Aina."
"Untuk apa kau minta maaf Aina, Ibu bahagia jika kau kembali tersenyum. Kenapa kamu berdiri disana?"
"Ah Aina hanya sedang berjemur, sudah lama badan ini tak terkena sinar matahari." ucapnya dengan mencari alasan. "Ini sudah siang Aina, tidak baik berdiri disana lama-lama."
"Maaf Bu, Aina lupa tak melihat jam. Aina kita masih pukul 8 pagi hehe."
"Kau ini ada-ada saja Aina." Bi Asti ikut tersenyum menyaksikan keduanya, ia salut dengan Aina yang bisa membuat Bu Mariam kembali ceria.
__ADS_1
…
Adam kembali ke apartemennya bersama Erina. Ia masih memendam kekesalannya pada Aina dan juga Ibunya. Padahal kemarin ia sudah senang dengan restu dari mereka. Namun, nyatanya tak sesuai dengan ekspektasi.
"Mas, bagaimana dengan pernikahan kita? apakah Ibumu tak merestui kita?" Adam menarik nafasnya dengan kasar, lalu ia menatap Erina dalam-dalam. "Mari kita menikah saja, aku tak peduli pada mereka." ucapnya.
"Maksud Mas Adam menikah sekarang?"
"Iya, lebih cepat lebih baik. Aku akan menikahimu hari ini juga. Aku akan meminta bantuan Jack untuk mempersiapkannya. Apakah kau setuju Erina?" Erina mengangguk atas jawabannya. Inilah yang ia inginkan dari Adam. "Aku setuju Mas, aku ingin segera menjadi istrimu. Agar aku bisa secepatnya memberi keturunan untukmu Mas." Adam bahagia mendengar jawabannya lalu ia memeluk erat calon istrinya. Inilah yang ia inginkan dari seorang wanita, ia ingin secepatnya memiliki keturunan.
"Tunggu sebentar disini. Aku akan menghubungi Jack dulu."
Adam mulai menghubungi Jack dengan ponselnya.
"Hallo Jack."
"Tolong panggilkan Pak penghulu sekarang juga ke apartemenku." tegasnya.
"Apa maksudmu? kau akan menikah?"
"Ya, aku akan menikahi Erina sekarang juga, Jack. Tolong secepatnya kau bawa Pak penghulu kesini." Jack semakin bingung dengan ucapan tuannya.
"Kenapa secepat ini bos, apa kau sudah tidak tahan ingin mencicipi seorang gadis." ledeknya.
"Sial kau malah meledekku. Apa kau ingin ku potong gajimu?"
"Tidak... tidak, enak saja potong gaji. Aku akan secepatnya kesana bos. Kau harus menambah uang bonus untukku."
"Tenang saja aku pasti akan menambah bonusmu. Cepatlah! jangan banyak bicara." Lalu Adam menutup telponnya. Setelah itu ia kembali menghampiri Erina.
__ADS_1
"Bagaimana Mas? apa kita jadi untuk menikah sekarang?"
"Tentu saja, sayang. Maaf aku tak bisa mengadakan pesta pernikahan kita. Apa kau tak apa-apa jika aku tak membuatkan acaranya?" Erina tersenyum lalu ia memeluk tubuh calon suaminya. "Tentu saja tidak apa-apa Mas, aku bukan wanita matre yang ingin menikmati hartamu. Daripada Mas mengadakan acara lebih baik uangnya ditabung saja."
"Kamu benar juga Erina. Ternyata kamu wanita yang aku cari selama ini, aku menginginkan wanita yang mementingkan masa depan."
"Ya begitulah kalau jadi aku. Aku terbiasa hidup susah jadi aku sangat tidak setuju kalau Mas mengadakan acara pernikahan. Sayang uangnya kan Mas." Adam mengecup bibir Erina sekilas, ia merasa menemukan wanita yang tepat untuknya. "Kenapa kita tak bertemu sejak lama? mungkin saja aku sudah menikahimu Erina, lalu memiliki banyak anak." ucapnya.
"Kamu ini ada-ada saja Mas, mungkin inilah cara Tuhan mempersatukan kita."
Tak lama kemudian Jack datang membawa seorang pria yang sudah berumur ke apartemen bosnya. Adam membukakan pintunya lalu menyuruhnya untuk masuk.
"Ini orangnya Pak, mereka tak sabar ingin menikah sekarang." kata Jack pada bapak itu.
Adam menyentil jidatnya Jack. "Jangan sembarangan kau."
"Jadi kalian ingin menikah secara agama dulu?" tanyanya.
"Iya Pak, nanti 2 hari lagi kami akan ke KUA. Sekarang saya minta untuk secara agama dulu, dan Jack yang akan menjadi saksinya." kata Adam.
"Baiklah, mari kita laksanakan sekarang." Adam mengucapkan Ijab Qabul dengan disaksikan Jack dan Pak penghulu. Ia tega melakukan pernikahan tanpa sepengetahuan istrinya, bahkan ia tak memikirkan perasaan wanita yang sudah menemaninya selama 5 tahun. Ia melupakan semua janjinya pada Aina, bahkan ia juga mengingkari janjinya pada sang Ibu. Adam mencari kebahagiaannya sendiri dengan menikahi wanita yang baru dikenalnya.
"Selamat ya bos! selamat menikmati malam pertama juga." Erina tersenyum simpul mendengar kata-kata dari Jack, ia sangat malu jika sudah membicarakan soal malam pertama.
"Lebih baik kau pergi saja dari sini, Jack."
"Jadi kau mengusirku? dasar pengantin baru yang sudah gak sabar ingin open booking haha." Jack tertawa sambil menggelengkan kepalanya lalu ia keluar dari apartemen bosnya.
"Awas saja kau Jack! aku akan memotong gajimu." ucapnya dengan nada penuh penekanan. "Sudahlah Mas, kasihan dia yang sudah membantumu." kata Erina dengan sentuhan lembutnya membuat Adam tak tahan ingin segera melakukan sesuatu.
__ADS_1