
Bu Mariam pamit pada Erina untuk pulang. "Ibu hanya bisa menjenguk mu sebentar, Ibu harus pergi ke kantor setelah ini. Semoga kamu cepat sembuh, ya."
"Iya Bu, terima kasih sudah menjenguk kesini. hati-hati di jalan Bu," balas Erina, kemudian ia menyalami tangan Ibu mertuanya dengan rasa bahagia di hatinya.
Sedangkan Adam masih berdiri disana. Ia tidak diperbolehkan pulang oleh Ibunya, ia disuruh untuk menemani Erina.
"Mas, aku merindukanmu," ucap Erina dengan menatap bola mata Adam.
"Ck, setelah kau berbuat salah. Kau masih berani berkata seperti itu." Adam geram pada Erina yang tidak mengakui kesalahannya.
"Maaf, Mas. Aku memang merindukanmu. Kenapa Mas Adam berubah? Apa ada yang salah diriku."
"Ck, apa kau tak tahu apa kesalahanmu?" sergahnya. "Aku menyesal telah menikahi wanita pembunuh seperti mu." bentaknya.
Tiba-tiba hati Erina sakit dengan bentakan Adam yang membuat air matanya lolos begitu saja. Ia tak menyangka Adam akan semarah ini padanya.
"Aku minta maaf, Mas."
"Mulai hari ini kau bukan istriku lagi! Mari kita bercerai."
__ADS_1
"Apa maksudmu, mas." tanya Erina dengan bibir bergetar.
"Kita bercerai saja, aku sudah tak bisa menjalani hubungan ini lagi. Jadi, kita bercerai saja. Aku tak sudi hidup dengan seorang pembunuh." ketusnya, kemudian Adam pergi meninggalkan Erina yang masih menangis meratapi nasibnya.
Erina tak menyangka Adam akan berkata cerai padanya, ia juga tak menyangka dengan tindakan yang ia ambil membuat Adam marah dan membencinya. Baru saja ia diterima menjadi menantunya Bu Mariam, namun sekarang ia harus menerima kenyataan pahit dari suaminya yang telah memberikan talak padanya.
Erina berteriak frustasi setelah kepergian Adam, sehingga suster harus menyuntikkan obat penenang agar Erina tak memberontak.
'Aku harus kembali pada Aina, sebelum dia di ambil oleh orang lain.' pikirnya dalam hati. Adam dengan semangat mengendarai mobilnya menuju rumah utama untuk menemui Aina.
Setelah sampai sana ia langsung berjalan melangkah ke arah kamar Aina.
Tok tok tok...
"Aina, buka pintunya. Ada yang ingin aku bicarakan dengan mu." Aina yang dari dalam pun segera membuka pintu tanpa berpikir panjang.
"Ada apa, Mas?"
"Aku ingin bicara dengan mu."
__ADS_1
"Bicara apa lagi?"
"Biarkan aku masuk dulu." Aina merentangkan tangannya untuk menghalangi Adam.
"Kau tak boleh masuk, kita tak ada hubungan apa-apa lagi. Aku tak ingin jadi fitnah, apalagi kau sudah beristri."
"Aku hanya ingin kembali padamu lagi, tak apa-apa jika aku tak memiliki keturunan darimu. Aku bersedia adopsi anak untuk masa depan kita." Aina tercengang mendengar jawaban dari Adam.
"Apa-apaan kamu, mas? apa kamu sudah gila hah! Kau ini sudah beristri, kenapa tidak puas dengan satu wanita? aku tak habis pikir padamu," kata Aina dengan menggelengkan kepalanya.
"Aku akan menceraikan Erina demi kamu, agar kita kembali lagi seperti dulu." Aina tertawa mendengar kata-kata konyol dari mantan suaminya itu.
"Maaf, Mas. Aku sudah memiliki kekasih. Dan aku tak akan pernah kembali padamu." setelah mengatakan itu, kemudian Aina masuk kembali ke kamarnya dengan keras menutup pintu.
"Aina, buka pintunya. Aku belum selesai bicara," ujar Adam dengan menekan handle pintu, namun Aina telah menguncinya.
"Aku tahu ucapan ku tak masuk akal, jujur aku menyesal telah meninggalkan mu demi wanita lain. Tolong beri aku kesempatan lagi, aku janji akan memperbaiki perlakuan ku. Aku mencintaimu, Aina." Adam tak peduli dengan harga dirinya, ia bukan tipe pria yang mudah lembut bahkan baru kali ini ia memohon pada Aina.
Bersambung.
__ADS_1