Wanita Yang Kau Abaikan

Wanita Yang Kau Abaikan
Episode 12


__ADS_3

Setelah mendapatkan persetujuan dari keluarganya, akhirnya Bu Mariam pergi ke Amerika untuk melanjutkan pengobatan. Kini Aina merasa kehilangan, wanita yang selalu menyemangatinya kini tak berada disampingnya lagi. Tapi bagaimana pun Aina harus bisa hidup mandiri tanpa bantuan Bu Mariam. walaupun tak ada Ibu mertuanya yang baik, ia tetap akan menjadi wanita yang tangguh. Ia juga sudah mempersiapkan hati dan mentalnya bahwa sang suami akan membawa madunya untuk tinggal satu rumah bersama dirinya.


'Tak apa-apa, aku pasti kuat. Aku ikhlas menjalankan takdir yang telah di tentukan Tuhan.' lirihnya dalam hati.


Aina mendengar suara mobil yang baru saja datang dan terparkir dihalaman utama. Lalu Aina melihat dari lantai atas, ia menatap suaminya yang sedang bergandengan tangan dengan istri mudanya bahkan sangat mesra sekali. Ia tak pernah diperlakukan seperti itu oleh suaminya, hatinya sangat iri melihat kemesraan sang suami dan madunya. Ia juga melihat adik Bu Mariam yang sedang berbincang-bincang dengan Adam.


'Aku tak boleh lemah, aku tak boleh memperlihatkan sisi lemah ku. Aku harus kuat.' ucapnya dalam hati dengan menguatkan dirinya. Aina memberanikan diri untuk turun ke lantai bawah menyambut kedatangan suami dan madunya.


Ia membukakan pintu utama.


"Mas adam!"


"Hem, tolong bawakan baju Erina." ucapnya tanpa mempedulikan hati Aina.


"Kenapa harus aku Mas? kan ada bi Asti."


"Aina ini perintahku, kenapa kau membantahku!"


"Maaf Mas," Erina tersenyum senang, ia merasa diragukan oleh suaminya. Niatnya semakin yakin untuk memiliki Adam seutuhnya.


"Mbak, maaf ya. Tanganku lagi sakit jadi aku minta bantuan mbak." ucapnya dengan nada sedih padahal dalam hatinya mengejek.


Sedangkan Shaka hanya memandang mereka bertiga,ia tak mengerti dengan kehidupan disini.


"Apa boleh aku minta bantuan juga?" kata shaka. menatap pada Aina, ia pikir Aina sebagai asisten rumah tangga. Karena Adam tidak memberitahunya bahwa Aina istri pertama.


"Kamu butuh bantuanku?" tanya Aina. Shaka mengangguk sebagai jawabannya.


"Baiklah, aku akan membantumu." ucapnya.

__ADS_1


"Terima kasih Aina."


Aina membawakan dua koper milik Shaka dan Erina. Ia juga dibantu oleh bi Asti.


"Maaf ya non, tadi bibi dibelakang jadi bibi gak tahu."


"Tak apa-apa kok bi," ucapnya sambil tersenyum. Aina mengantarkan koper ke kamar Adam sedangkan koper Shaka dibawakan oleh bi Asti. Ruang kamar Erina berada disebrang ruang kamar Aina jadi mereka tidak terlalu berjauhan.


Baru saja sampai depan pintu kamar Erina, ia mendengar ******* dari dalam kamar. Seketika langkah Aina terhenti, seluruh tubuhnya bergetar bahkan hatinya merasakan sakit yang amat dalam.


"Mas, ini nikmat." ******* Erina sampai terdengar pada telinganya.


"Punya mu juga nikmat sayang," kata Adam. Air mata Aina semakin membasahi pipinya, bahkan lututnya terasa lemas. Ia sudah tak tahan lagi menopang tubuhnya.


'Kenapa kalian tega sekali hiks hiks,' Aina memegang dada dengan memukulnya pelan lalu ia menutup mulutnya rapat karena takut terdengar oleh suami dan madunya yang sedang menikmati surga dunia.


"Sama-sama Mas, aku senang jika kau menikmati tubuhku ini. Semoga secepatnya benih mu segera tumbuh di rahimku."


"Iya sayang, cup. Nanti malam kita lanjutkan lagi." Mereka berdua tertawa kecil tanpa mempedulikan perasaan seorang wanita yang berada didepan pintu kamarnya. Aina meletakkan kopernya disana lalu ia segera memasuki kamarnya dengan berlari.


'Sesakit inikah Tuhan, apa aku harus menyerah dengan apa yang dikatakan Ibu.' lirihnya.


"Sayang, tunggu disini ya. Aku mau menemui Aina dulu."


"Iya Mas, jangan lama-lama."


Kemudian Adam keluar dari kamar Erina, ia melihat koper yang dibawakan Aina berada didepan pintunya. 'Sejak kapan ia ada disini?' ucapnya bertanya-tanya dalam pikirannya. Adam pun segera melangkah kearah kamar Aina lalu ia masuk tanpa mengetuk pintu. Adam melihat Aina yang sedang menangis dibawah selimut tebalnya.


"Aina," panggilnya lalu ia memegang kepala Aina dengan lembut. Aina segera menghapus air matanya lalu ia membuka selimutnya.

__ADS_1


"Mas Adam! sejak kapan disini?"


"Baru saja."


"Kau kenapa? apa kau menangis?" tanyanya.


"Tidak Mas, aku hanya kelilipan saja."


"Kau bohong." Aina menunduk, lalu ia menatap mata suaminya.


"Aku hanya ingat sama Ibu Mas,"


"Ah begitu, jangan menangis lagi ya. Ibu pasti akan sembuh." Adam memeluknya lalu ia mengecup kening Aina.


"Bolehkah aku minta bantuanmu Aina?"


"Apa Mas? Mas butuh apa?"


"Bisakah kau memasak untukku? aku merindukan masakkan mu." seketika Aina tersenyum bahagia mendengar Adam yang masih menyukai masakkan favoritnya.


"Baik mas, aku akan memasak untukmu. Aku akan segera kesana."


"Porsinya ditambah ya Aina, karena Erina juga pasti lapar ingin mencicipi masakkan mu." seketika senyum Aina kembali memudar setelah mendengar ucapan suaminya. Ia kira Adam memang sangat menginginkan masakannya, namun ternyata Adam hanya memikirkan istri mudanya.


"Baik Mas," ucapnya.


'Sebenarnya aku ini dianggap apa Mas,' lirihnya.


Hai jangan lupa like, komen, serta subscribe nya ya. Terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2