
Hari pertama Aina berstatus seorang janda, ia tetap beraktifitas seperti biasa bahkan ia lebih banyak diam tanpa berbicara. Mulai hari ini Aina kembali seperti dulu sebagai asisten rumah tangga di kediaman Adam. Semua pelayan sudah mengetahui tentang perceraian Aina begitu juga dengan Shaka. Aina mengumumkannya didepan semua orang agar tahu bahwa dirinya bukan nona dirumah ini.
"Yang sabar ya non, semoga non mendapat kebahagiaan lagi." kata bi Asti.
"Jangan panggil aku nona lagi bi, aku disini sama seperti bibi. Panggil saja aku Aina."
"Tapi bibi tidak enak non,"
"Semoga bihi mengerti apa maksudku ya bi, tolong ubah panggilanku."
"Baik Aina." ucapnya dengan gugup.
"Terima kasih bi."
Aina segera meletakkan sarapannya dimeja makan. Seperti biasa ia selalu menyediakan makanan kesukaan Adam.
"Pagi semua." sapa Erina dengan wajah cerianya.
"Pagi juga." jawab Aina dengan wajah cerianya juga, ia tak mau memperlihatkan kesedihannya didepan semua orang. Sebisa mungkin ia akan menyembunyikannya.
"Mas kau mau makan apa? biar aku ambilkan." kata Erina, biasanya Aina lah yang mengambilkan nasi untuk Adam namun kali ini Erina lah yang akan melayaninya.
"Aku mau sayur sama lauk saja."
"Oke sayang, oh iya Aina mulai besok kau tak perlu masak ya. Aku yang akan masak untuk suamiku." kata Erina.
"Baik nona Erina," ucapnya membuat bi Asti sedih dengan ucapan nona untuk Erina.
__ADS_1
"Wah kau sudah mengubah panggilanku ya, terima kasih ya Aina." Aina tersenyum menanggapinya. Tak lama kemudian Shaka datang dengan pakaian kerjanya, ia semakin terlihat tampan setelah tahu Aina telah menjadi seorang janda.
"Pagi semua, pagi Aina," sapanya.
"Pagi juga kak,"
"Bolehkah aku minta ambilkan sarapanku."
"Tentu saja kak, kak Shaka mau sarapan dengan apa?"
"Em, sayur saja." Aina mengambilkannya lalu ia menyodorkan piringnya pada Shaka.
"Terima kasih, ini semua masakan mu? tanyanya.
"Iya kak," Adam memperhatikan kedekatan Aina dan Shaka. Entah kenapa hatinya tidak terima namun ia juga tidak bisa mencegahnya karena Aina bukan miliknya lagi.
"Masakan mu selalu enak Aina, oh iya nanti sore aku ingin mengajakmu jalan-jalan."
"Ke tempat bakso yang pernah aku beli untukmu, gimana?"
"Boleh kak, aku mau. Sudah lama aku tak makan bakso pinggir jalan." Adam mulai menimpali pembicaraan Shaka dan mantan istrinya.
"Kau dari dulu tidak berubah, kenapa kau suka sekali makanan yang dipinggir jalan. Itu tidak higienis untuk dikonsumsi." ucap Adam pada Aina.
"Makanan dipinggir jalan itu enak, kau harus mencobanya Adam. Aku saja yang tinggal diluar negri juga menyukai makanan pinggir jalan." kata Shaka mencoba membela Aina.
"Memang enak, tapi makanan itu tidak higienis dan tidak layak dikonsumsi. Kau tahu sendiri Aina tak bisa memiliki seorang anak, itu karena dia tidak teliti dalam memilih makanan."
__ADS_1
Jlebbb, hati Aina langsung nyeri mendengar perkataan mantan suaminya. Ia sangat sedih jika berbicara soal kehamilan.
"Erina saja orang kampung, dia juga makannya di pinggir jalan." kata Shaka tak mau kalah.
"Sudah, sudah, semua makanan juga enak kok Mas." ucap Erina.
"Hem, ya sudah aku mau berangkat kerja dulu sayang."
"Hati-hati dijalan Mas," Adam mengecup kening Erina lalu ia mengecup perutnya juga. Aina melihat pemandangan di depannya membuat ia iri melihatnya.
"Aku pamit ya Aina, jangan lupa nanti sore."
"Iya kak."
Setelah kepergian Adam dan Shaka, Aina mulai membereskan bekas makannya untuk dicuci.
"Aina!" panggil Erina.
"Ya, ada apa?"
"Terima kasih sudah mengikhlaskan Mas Adam untukku. Aku minta maaf sudah membuatmu seperti ini, seharusnya kamu tak berstatus janda jika tak ada aku disini. Maafkan aku karena aku mencintai Mas Adam." ucapnya, setelah Adam menjadi miliknya Erina merasa senang dan ia juga merasa bersalah pada Aina.
"Tidak apa-apa, mungkin semua ini sudah takdir dari yang maha kuasa. Aku mengikhlaskan mu dengan Mas Adam, semoga kamu bahagia." ucapnya membuat Erina terharu, tiba-tiba ia memeluk Aina dengan erat membuat Aina bingung dengan sikapnya.
"Terima kasih Aina, sebenarnya aku tak ingin menjadi duri. Tapi apa kau tahu dengan permasalahan ku sehingga aku bertemu dengan Mas Adam. Aku wanita miskin yang hidup dikampung dengan banyak hutang, sehingga aku harus menikah dengan kakek tua. Aku bersyukur Mas Adam sudah menyelamatkan ku dari lubang neraka, itu semua karena mu Aina, kau yang telah mengizinkan ku menikah dengan Mas Adam walaupun awalnya kau tak setuju. Terima kasih Aina."
padahal permasalahan hidupnya jika dibandingkan dengan Aina mungkin ia akan merasa semakin bersalah. Namun Aina tak ingin menceritakannya, cukup ia dan Tuhan yang tahu. Mulai sekarang ia tak ingin ikut campur urusan rumah tangga orang lain. Walaupun rumah tangganya hancur karena orang ketiga, ia bukan wanita pendendam yang akan membalasnya.
__ADS_1
"Sama-sama semoga kau bahagia." ucapnya dengan rasa sesak di dada.
Hai Readers jangan lupa like, komen, serta subscribe nya ya. Beri masukan untuk author. Happy reading🌷