Wanita Yang Kau Abaikan

Wanita Yang Kau Abaikan
Episode 14


__ADS_3

Adam merayu Erina dengan berbagai cara untuk mengembalikan mood Erina.


"Sayang, kamu kenapa?"


"Aku tak suka Mas tidur dengan dia."


"Tapi dia juga istriku, Erina."


"Aku tetap tidak suka Mas, aku tak mau jadi yang kedua. Aku ingin jadi wanita satu-satunya untukmu." Adam mencoba memberi pengertian pada Erina namun tetap saja Erina susah di taklukkan.


"Aku ingin segera Mas bercerai dengannya, kalau Mas tak mau bercerai. Maka aku yang akan pergi dari sini."


"Tak bisa begitu Erina, kau tahu sendiri bahwa Aina itu wanita pilihan Ibuku."


"Baik Mas, kalau gitu aku yang akan pergi dari sini. Dan aku ingatkan lagi, kalau bersama dia sampai kapan pun Mas tak akan memiliki anak." Adam mulai berpikir dengan ucapan Erina, apa yang dikatakannya memang benar. Tujuan Adam menikah lagi untuk memiliki keturunan.


"Mas, pilih aku atau dia. Beri aku keputusan sekarang juga."


"Maaf Erina, aku belum bisa memutuskannya." ucapnya dengan bingung.


"Katanya Mas tak mencintainya, tapi kenapa Mas masih berhubungan dengannya. Kalau gitu aku saja yang akan menyerah."


"Tidak Erina! Kau tetap istriku, kau tak boleh pergi. Beri aku waktu untuk memikirkannya." Erina tersenyum bahagia, akhirnya ia bisa mempengaruhi sang suami.


"Baiklah, aku kasih waktu satu hari."


"Kenapa hanya satu hari?"


"Pokoknya aku gak mau tahu Mas, hanya satu hari."


"Baiklah," ucapnya dengan nada lemas.


"Mulai hari ini Mas tak boleh menyentuh dia lagi. Kalau Mas bersetubuh dengan dia, maka Mas jangan pernah menyentuhku. Aku tak sudi berbagi suami dengan dia."


Adam semakin tertekan dengan ucapan Erina, ia memang tidak mencintai Aina tapi ia tak ingin mengingkari janjinya dengan sang Ibu. Bagaimana jika Ibunya tahu? ia takut semakin mempengaruhi penyakit sang Ibu. Padahal Bu Mariam tidak mempermasalahkan soal itu. Ia juga sudah menyuruh Aina untuk menyerah namun Aina masih tetap ingin bersama Adam suaminya.


Aina mendengarkan obrolan suami dan madunya dari luar pintu yang tidak tertutup dengan rapat. Ia memegang dadanya yang terasa sakit, jadi selama ini ternyata benar bahwa Adam tak pernah mencintainya. Ia terlalu berharap pada seorang pria sehingga ia terjatuh kedalam jurang. Aina tak bisa membuang cintanya begitu saja, ia sangat mencintai suaminya dengan tulus. Namun Adam memanfaatkannya hanya demi sang Ibu.


'Apa lebih baik aku menyerah saja?' lirihnya. Kemudian Aina kembali kekamarnya sebelum suami dan madunya mengetahui dirinya.


Malam ini Aina kembali tidur sendirian, setelah Adam menikah dengan Erina. Ia tidak pernah tidur seranjang dengan Aina, bahkan Adam melakukan hubungan dengan paksa sehingga Aina tak merasakan kelembutan dari suaminya.


'Perutku sangat lapar sekali, lebih baik aku bikin Snack saja.' Aina mulai bangkit dari tidurnya lalu ia segera keluar dari kamar dan menuju dapur. Namun langkahnya terhenti seketika mendengar suara ******* dari kamar sebelah.


Deg, jantungnya berdebar kencang, bahkan lututnya seketika terasa lemas. Aina memegang dadanya dengan memukul lalu ia menutup telinganya. Sedangkan dari kejauhan Shaka melihat Aina, ia khawatir pada Aina yang tiba-tiba seperti orang kesakitan.


Aina segera menepis pikirannya, lalu ia menutup telinga dan segera melangkah menuju dapur. Sedangkan Shaka penasaran, ia pun melangkahkan kakinya menuju kamar Adam. Shaka merapatkan telinganya pada pintu, ia mendengar dua orang yang sedang menikmati dinginnya malam.


'Ck, rupanya dia cemburu mendengar ******* suami dan madunya. Lalu kenapa dia mau di madu. Dasar wanita aneh.' ucapnya, lalu ia mengikuti langkah Aina menuju dapur.


"Hem,"

__ADS_1


"Kakak! ada apa?" ucapnya dengan mata yang terlihat memerah.


"Kalau kau tak suka di madu, kenapa kau mau?"


"Apa maksudmu?" ucapnya dengan gugup.


"Matamu terlihat memerah, kau pasti sudah menangis."


"Tidak! aku hanya kelilipan saja."


"Ck, dasar pembohong. Bilang aja sakit hati." ledeknya. Seketika Aina kesal dengan ledekan Shaka yang terlalu memojokkannya.


Aina mencubit lengan Shaka sekeras mungkin, ia tak bisa menahan kesalnya pada Shaka. Sehingga Shaka berteriak kesakitan.


"Argh sial! ini sakit." teriaknya.


"Rasakan! beraninya kau meledekku." Shaka pun tak ingin kalah, ia membalas kembali cubitannya. Aina menyadari itu, lalu ia segera berlari menjauhinya.


"Berhenti kamu Aina! beraninya kau membuat tanganku sakit."


"Hahaha," Aina tertawa puas dengan berlari mengelilingi meja makan yang tak jauh dari dapur.


"Kak Shaka berhenti, aku sudah lelah. Aku minta maaf."


"Enak saja, enteng sekali bicara mu itu. Aku tak akan memaafkan mu Aina." Aina kembali berlari, ia sangat takut dengan ancaman Shaka.


Brukkk.


Brukkk.


"Auh, sakit!" kata Aina. Namun Shaka bukannya segera bangun, ia malah menatap wajah Aina.


'Ngapain dia menatapku seperti itu?'


Tiba-tiba saja bibir Shaka tersenyum.


'Cantik,' ucapnya dalam hati. Mereka saling bertatap-tatapan dan berbicara dalam hatinya.


"Aina!" Adam menyadarkan mereka berdua. Aina segera mendorong tubuh Shaka dengan kasar.


"Mas Adam?"


"Kau sedang apa disini?" tanyanya.


"Ah aku sedang bikin cemilan Mas, apa Mas mau?" tanyanya. Adam tak suka dengan kejadian barusan. Apalagi ia melihat Shaka dan Aina tanpa jarak membuat hatinya terasa panas.


"Kembali ke kamarmu, Aina."


"Baik Mas," Aina segera melangkah menuju kamarnya, ia tak mau suaminya marah atas kejadian baru saja.


Adam menatap Shaka dengan serius.

__ADS_1


"Jangan pernah menyentuh istriku." tegasnya.


"Kau cemburu?" tanya Shaka.


"Jelas! karena dia istriku."


"Lalu bagaimana dengan kamu yang menikahi perempuan lain? apa kau tak memikirkan perasaan istri pertamamu."


"Diam kau Shaka! kau tak berhak ikut campur dengan urusanku."


"Ck, kau egois rupanya. Kalau begitu lebih baik kau ceraikan saja dia. Biar aku yang akan memungutnya." ucapnya, lalu Shaka meninggalkan Adam yang masih berdiri menatap kepergiannya.


"Sial! beraninya dia." geramnya.


Aina segera tidur karena hari sudah malam. Sebelum tidur Aina mengunci pintu kamarnya terlebih dahulu agar suaminya tak bisa masuk kedalam. Ia tak ingin melakukan hubungan badan dengan suaminya, apalagi dengan paksaan. Ia segera tidur dengan menutupi badannya oleh selimut lalu ia pergi ke alam mimpinya dengan nyaman.


...****************...


Pagi hari ini Adam mulai kembali bekerja dikantornya, begitu juga dengan Shaka yang akan selalu memantau keadaan perusahaan Mariam.


"Pagi Mas, aku sudah menyiapkan sarapan pagi untukmu." ucap Erina, lalu ia mengecup bibir suaminya di depan Aina dan juga Shaka.


"Terima kasih sayang."


"Ayo duduk disini Mas." kata Erina, Adam pun menuruti apa yang dikatakan istri mudanya itu.


"Gimana Mas, enak gak?"


"Ini enak sayang."


"Terima kasih Mas, kalau begitu aku akan selalu menyiapkan sarapan mu setiap hari. Boleh kan?"


"Tentu saja,"


Aina menatap kemesraan suami dan madunya, ada rasa iri dan rasa sakit hati menjadi satu. Namun, ia tak bisa seperti Erina yang terlihat manja pada suaminya bahkan Aina sadar ia tak mungkin bisa menaklukkan hati sang suami. Shaka yang melihat kesedihan dari raut wajah Aina, ia segera mencari cara agar Aina tak sedih kembali.


"Aina mana sarapan untukku?" tanyanya.


"Ah iya kak, ini sarapan untuk kakak."


"Terima kasih Aina,"


"Sama-sama kak," Shaka mulai mencari cara agar Adam cemburu pada istri pertamanya.


"Em buatanmu sangat enak, Aina. Sayangnya kau bukan istriku. Kalau saja kau istriku maka aku akan menjadikan mu seperti ratu." ucapnya, membuat Adam berhenti mengunyah lalu ia menatap Shaka dengan tatapan yang tak bisa diartikan.


"Kak Shaka ada-ada saja. Semoga kakak segera menikah dan mendapatkan wanita yang seperti kak Shaka inginkan."


"Terima kasih, tapi yang aku inginkan hanya kamu. Bagaimana dong?"


uhuk...uhuk...uhuk Aina tersedak makanannya setelah mendengar ucapan Shaka.

__ADS_1


"Pelan-pelan dong Aina, ini minumnya." kata Shaka dengan menyodorkan air minum. Sedangkan Adam menatapnya dengan tajam ke Aina dan Shaka. Ia tak suka menyaksikan drama pagi hari dihadapannya. Namun tidak dengan Erina, ia sangat senang melihat Shaka yang dekat dengan Aina. Itulah yang ia rencanakan selama ini.


__ADS_2