Wanita Yang Kau Abaikan

Wanita Yang Kau Abaikan
Episode 31


__ADS_3

Tak lama kemudian dokter yang menangani Erina pun keluar. Adam segera menghampiri dokter itu dengan mengajukan beberapa pertanyaan.


"Dok, bagaimana dengan istri saya? apakah dia baik-baik saja?"


Dokter menarik nafasnya dalam-dalam lalu menatap Adam dengan serius.


"Istri anda keguguran, maaf saya tidak bisa menyelamatkan anak anda." mendengar jawaban dari dokter, ia langsung frustasi.


"Bagaimana bisa dok?"


"Sebelumnya saya ingin bertanya pada anda, sebenarnya ada masalah apa dengan istri anda sehingga ia meminum obat penggugur kandungan?"


"Apa! obat penggugur kandungan?" ucapnya dengan terkejut tak percaya Erina melakukan itu. Bahkan Aina dan Shaka pun sama-sama terkejut mendengar penjelasan dari dokter.


"Ya, ia meminum obat itu sehingga janinnya tidak bisa di selamatkan. Ia sudah meminum obat terlarang."


"Tidak, tidak mungkin dok. Saya dan istri saya tidak ada masalah apapun. Kenapa ia bisa meminum obat itu?"


"Tanyakan saja pada istri anda untuk mengenai ini, sebentar lagi istri anda akan segera sadar jadi silahkan untuk menjenguknya. Saya permisi." dokter pun segera pamit dari hadapannya.


Adam mengepalkan jari tangan, rahangnya mengeras, menahan amarah setelah mendengar penjelasan dari dokter. Ia kira Erina terjatuh dari kamar mandi, namun nyatanya ia meminum obat terlarang sehingga janin yang di kandung mengalami keguguran.

__ADS_1


Adam segera masuk ke ruang rawat dimana Erina sedang dalam masa pemulihan lalu diikuti oleh Aina dan juga Shaka.


Adam melihat Erina yang masih belum sadarkan diri.


"Bangun Erina, bangun! beraninya kau membunuh anakku sialan." Adam marah dengan mencengkram pundak Erina. Akan tetapi Aina melepaskan tangannya.


"Mas, kau keterlaluan. Erina masih dalam masa pemulihan, kau tak boleh seperti itu."


"Kau tahu dia sudah membunuh anakku! dia harus menerima hukuman dariku."


"Sabar Mas, kau jangan marah seperti ini. Tanyakan pada dirimu sendiri kenapa Erina bisa seperti itu?" ucap Aina menyadarkan Adam dari marahnya.


Sedangkan Shaka hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Adam yang seperti orang bodoh.


Tak lama kemudian akhirnya Erina sadar, ia membuka matanya perlahan dan ia melihat Adam yang sedang berada di sampingnya dengan tatapan tajam yang tak bisa di artikan.


"Mas, kau disini?"


Adam tak menjawab pertanyaan Erina, ia menatapnya tajam dengan tatapan yang mematikan.


"Mas, maaf. Tadi pagi aku terjatuh di kamar mandi." Adam tersenyum sinis mendengar jawaban dari istrinya yang selama ini ia percaya untuk mengandung anaknya.

__ADS_1


"Kau bohong!"


"Mas, kenapa aku berbohong padamu. Aku juga tak mau kehilangan anak yang ada di kandungan ku." ucapnya. Aina dan Shaka mendengarkan perbincangan sepasang suami istri yang ada di hadapannya. Aina sangat kasihan pada Erina yang terlihat lemah dan pucat. Namun ia juga tak bisa menolongnya dari amarah Adam karena Erina sendiri yang melakukan kecerobohan.


"Aku menyesal telah menikahi mu, Erina. Aku kira kau wanita baik-baik yang akan mengandung anakku. Namun nyatanya kau pembunuh." tegas Adam dengan mengapalkan jari tangan menahan amarah didalam dadanya.


"Apa maksud mu, Mas. Aku tak mengerti, kenapa kau malah menyalahkan ku. Aku juga tak ingin seperti ini. Kau tahu aku sangat kesakitan."


"Itu karena ulah mu sendiri, aku tak menyangka dengan sikap mu itu. Aku kecewa padamu Erina." ucapnya, lalu Adam membalikkan badannya untuk segera pergi meninggalkan Erina. Akan tetapi Erina menahan tangannya.


"Mas, maafkan aku. Aku seperti ini karena kau yang hanya menginginkan anak mu saja. Apa kau tahu aku sangat frustasi dengan kata-kata mu semalam, Mas." ucapnya dengan bibir bergetar menahan tangis.


Adam melepaskan tangan Erina dengan kasar, ia mendengar lagi penjelasan dari Erina. Ia marah bahkan kecewa dengan perlakuan Erina.


"Mas..." teriaknya dengan tangisan yang ia tahan.


"Sabar ya, Erina." ucap Aina yang menghampiri Erina.


"Ini semua gara-gara kamu Aina." teriaknya. Aina tak tahu kenapa ia yang disalahkan, padahal ia sama sekali tidak ikut campur dengan permasalahannya.


"Jangan pernah berani menyalahkan Aina. Ia tak salah, dan semua ini karena ulah mu." ucap Shaka dengan penuh penekanan. Kemudian ia menarik tangan Aina untuk segera pergi meninggalkan ruangan itu, karena Shaka tidak suka pada Erina yang sering mengalahkan Aina.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2