
Aina yang sedang bersantai diruang tamu, tiba-tiba ia dihampiri oleh pak security.
"Nona Aina, ini ada paket." Aina mengerutkan keningnya, ia merasa tidak memesan paket.
"Dari siapa pak? aku tak memesan paket." katanya.
"Gak tahu non, ini untuk nona Aina. Coba dibuka saja non."
"Ah iya pak, terima kasih ya," ucapnya, kemudian pak security kembali ke tempat kerjanya.
'Paket dari siapa ya? perasaan aku tak pernah memesan sesuatu. Selama hidup disini baru kali ini aku mendapat paket.' dengan penasaran Aina pun membuka isi paketnya.
"Gaun? dari siapa?" bingungnya, namun di dalamnya ada surat yang membuat ia semakin penasaran. Aina mulai membacanya dalam hati.
'Tolong dipakai gaunnya untuk nanti sore ya, aku ingin mengajakmu ke suatu tempat. Dari aku pria yang mencintaimu, Shaka.'
Aina shock dengan isi suratnya, ia langsung menutup mulut karena tidak menyangka.
'Kak Shaka? apa-apaan ini.'
Ting. Bunyi ponsel Aina menandakan ada pesan masuk.
'Nanti sore pakai gaun itu ya,' isi pesan dari Shaka.
'Sejak kapan kak Shaka memiliki nomor ponselku.' ucapnya dengan bingung, Aina tak membalas pesannya, ia hanya membaca saja membuat Shaka kepikiran.
'Awas kalau tidak dipakai!"
Aina melihat isi pesan keduanya, ia tersenyum entah kenapa ia sangat bahagia ada pria yang perhatian padanya.
'Iya kak nanti aku pakai.' balasnya.
Bi Asti yang melihat Aina sedang tersenyum, ia langsung menghampirinya.
"Non Aina lagi bahagia ya?" ledeknya.
"Eh bibi bikin kaget saja,"
"Hehe maaf ya non, bibi senang sekali melihat non Aina tersenyum lagi."
"Aku sedang bertukar pesan dengan kak Shaka bi. Ternyata dia orangnya asik juga ya," bi Asti tersenyum menanggapinya.
"Memang dia tuh orangnya asik, baik, ganteng lagi. Kayanya cocok kalau sama nona Aina."
"Bibi ada-ada saja, gak mungkin lah." bi Asti dan Aina saling bertukar cerita sampa akhirnya waktu tak terasa sudah siang.
Shaka dengan semangat menyelesaikan pekerjaannya, ia sudah tak sabar ingin melihat Aina memakai gaun pemberiannya.
'Yes, akhirnya selesai.' ucapnya, kemudian ia membereskan berkas-berkas yang berada dimeja kerjanya lalu setelah selesai ia segera meninggalkan ruang kerja.
__ADS_1
"Kau pulang siang?" tanya Adam yang baru saja keluar dari ruangannya.
"Ya, karena ada janji dengan seseorang orang jadi aku sudah menyelesaikan pekerjaanku lebih awal." Adam mengangguk mengerti dengan apa yang dikatakan Shaka.
Aina menatap cermin, ia memoleskan bedak tipis pada wajahnya. Ia juga menggunakan lipstik dengan warna yang natural.
"Gaunnya cantik," ucapnya dalam hati. Entah kenapa jantungnya berdebar, tak biasanya ia seperti ini. Namun kali ini berbeda dari biasanya.
Aina segera keluar dari kamarnya, ia akan menunggu Shaka diruang tamu.
"Aina! kau mau kemana?" kata Erina dengan menelusuri penampilan Aina yang tak biasanya.
"Aku mau pergi bersama Shaka." Erina mengerti mengangguk, ia senang jika Aina dekat dengan Shaka.
"Wah rupanya kamu berkencan dengan Shaka ya?" godanya, Aina langsung menggelengkan kepala.
"Tidak, aku hanya berteman saja lagian kak Shaka sudah ku anggap saja saudara." ucapnya.
Adam baru saja sampai kerumahnya, ia melihat penampilan Aina yang tak biasanya. Bahkan Adam sangat terpesona melihatnya, baru kali ini ia melihat penampilan Aina yang sangat cantik.
"Aina," panggilnya.
"Ya," ucapnya singkat, Aina tak mau Erina cemburu hanya gara-gara Adam menyapanya.
"Kau cantik sekali." seketika Erina menatap tak suka pada Aina.
Adam langsung menutup mulutnya, ia lupa kalau Aina bukan istrinya lagi. Bahkan ia melupakan Erina yang berada dihadapannya.
"Maaf, Mas tak bermaksud seperti itu."
"Bohong kamu Mas,"
Aina mulai melangkahkan kakinya untuk menghindari perkelahian dua orang pasangan. Ia tak mau menjadi duri dalam rumah tangga mereka.
Tak lama kemudian Shaka datang dengan membawa bunga untuk Aina, tadi sebelum pulang ia mampir dulu untuk membelikan bunga.
"Hai, kamu sudah selesai."
"Iya kak," jawabnya gugup.
"Ini untukmu." Shaka menyodorkan bunga mawar putih pada Aina.
"Untuk aku kak?" ucapnya bingung.
"Iya, kalau gitu kita jalan sekarang," Aina pun mengiyakan ucapan Shaka, sedangkan Adam mantan suaminya sedang menatap dari jauh. Ia tak suka dengan kedekatan Shaka dan Aina, rasanya ia tidak rela melihat Aina berkencan dengan pria lain.
"Mas, kenapa setelah bercerai dengan dia, Mas tak pernah perhatian padaku lagi." ucap Erina dengan pelan, ia sangat cemburu pada suaminya yang terus memperhatikan Aina.
"Apa maksudmu Erina, jangan mencari masalah. Aku hanya lelah, maafkan aku."
__ADS_1
"Tapi aku merasa kamu berubah, Mas." Adam segera bangkit lalu ia memeluknya dengan erat.
"Tidak sayang, aku tak akan berubah. Aku tetap mencintaimu. Bagaimana keadaan anakku?"
"Dia baik-baik saja Mas, dia rindu pada kasih sayang ayahnya." ucap Erina dengan mengelus perutnya yang masih rata. Adam tersenyum menanggapinya.
'Kenapa setelah bercerai dengan Aina, aku jadi merindukannya. Padahal dulu tak seperti ini.' ucapnya dalam hati sambil memeluk Erina. Namun rasanya sangat berbeda, ia tak merasakan debaran dalam dadanya lagi.
Shaka membawa Erina ke suatu tempat yang ingin mereka kunjungi. Bakso pinggir jalan yang selama ini Aina inginkan, akhirnya terkabul juga.
"Terima kasih ya kak, aku senang bisa menikmati bakso pinggir jalan."
"Sama-sama, aku juga tak menyangka ternyata makanan disini lebih enak." ucapnya.
"Apa kak Shaka juga menyukai makanan pinggir jalan." Shaka langsung mengangguk.
"Diluar negri tidak ada yang seperti ini, aku sangat bahagia tinggal disini apalagi bersama denganmu." ucapnya, Entah kenapa Aina sangat senang dengan perkataan Shaka, padahal ia belum lama mengenalnya.
Aina melotot melihat Shaka yang menambah porsi dua mangkuk bakso, ia tak menyangka dengan Shaka yang bisa melahap semuanya.
"Kak, kakak udah nambah dua mangkuk loh. Apa kakak tidak kenyang?"
"Aku tak tahu, makanan ini sangat enak dan cocok di mulutku."
"Ia makanan ini memang enak, tapi tidak baik kalau kakak makan berlebihan." ucaonya.
"Ya kau benar juga, kalau gitu kita lanjut lagi."
"Kakak mau mengajakku kemana?"
"Kita berbelanja, aku ingin memberikanmu sesuatu." ucapnya, setelah menghabiskan makanan lalu Shaka segera membayarkan dan ia menarik tangan Aina untuk segera masuk kedalam mobilnya.
"Kak, maaf ya. Aku sudah merepotkan mu."
"Tidak Aina, justru aku senang bisa mengajakmu jalan-jalan." ujarnya dengan memberikan senyuman pada Aina. Shaka membelikan gelang untuk Aina, bahkan itu gelang terbaru yang baru saja launching.
"Harganya jadi berapa mbak?" tanya Shaka pada pemilik toko perhiasan.
"150 juta ya pak," seketika Aina langsung shock mendengarnya, ia menarik tangan Shaka lalu ia membisikkan sesuatu.
"Kak, jangan beli ini. Ini sangat mahal." kata Aina dengan mimik wajah yang khawatir karena selama ini ia belum pernah membeli perhiasan yang semahal itu.
"Kau tenang saja Aina, hartaku tak akan habis hanya karena membeli ini."
"Ck, sombongnya." ucap Aina dengan bibir yang mengerucut membuat Shaka semakin gemas melihatnya. Ia mencubit hidung Aina dengan keras membuat Aina berteriak.
"Kak Shaka!" tegasnya.
"Maaf, aku minta maaf." setelah selesai membayar, Shaka mengajak Aina untuk berkeliling mall. Sepanjang jalan Shaka tak pernah melepaskan genggamannya bahkan Aina sampai berdebar jantungnya dengan perlakuan Shaka yang tak pernah ia dapatkan.
__ADS_1