Wanita Yang Kau Abaikan

Wanita Yang Kau Abaikan
Episode 24


__ADS_3

Pagi hari ini seperti biasa Aina selalu menyiapkan sarapan pagi, namun kali ini hanya dua porsi saja untuk dirinya dan juga Shaka. Aina menyiapkannya di meja makan lalu ia memanggil Shaka menuju pintu kamarnya yang tak jauh dari dapur.


Tok tok tok.


"Kak, sudah bangun belum? sarapannya sudah siap." kata Aina dari luar pintu kamar Shaka.


"Ya, sebentar Aina. Aku sedang merapihkan dasi dulu tapi ini susah." ucapnya dari dalam. Aina mengerutkan keningnya.


"Apa mau ku bantu kak?" Shaka yang dari dalam kamar tersenyum mendengar tawaran Aina, kemudian ia keluar kamarnya untuk menghampiri Aina.


"Tolong bantu aku merapihkan ini." ucapnya sambil menunjuk pada kerah baju. Aina tersenyum mengangguk lalu ia segera memasangkan dasi.


"Sini biar aku pasangkan, biasanya juga kak Shaka selalu pasang sendiri."


"Iya, tapi tak tahu kenapa sekarang jadi susah. Apa mungkin dasinya ingin di pasangkan oleh mu."


"Ada-ada saja, mana ada dasi mau di pasangkan olehku. Kecuali orangnya yang mau." kata Aina.


"Nah, akhirnya kau peka juga. Harusnya setiap pagi kamu pasangkan dasiku."


"Boleh saja, cuma pasang dasi gampang kok." ucapnya, sedangkan Adam diam-diam memperhatikan mereka berdua yang sedang asyik memasang dasi. Erina sangat kesal pada Adam yang terus saja menatap Aina dan Shaka. Ia sudah berkali-kali memanggil Adam namun tidak menyahut karena Adam terlalu fokus dengan tatapannya.


"Mas!" panggil Erina dengan nada tingginya lantaran ia kesal pada adam.


"Ah em iya ada apa?"


"Dari tadi aku memanggilmu Mas, kenapa Mas malah menatap mereka berdua." kesalnya, membuat Aina dan Shaka melirik kearah sumber suara.


"Maaf Erina, aku sedang tidak fokus."


Shaka tersenyum senang, akhirnya ia bisa membuat Adam kepanasan.


"Kalian sudah disini?" tanya Shaka.


"Ya jelas! karena kita mau sarapan pagi." ketus Adam membuat Shaka semakin ingin tertawa namun ia tahan.


"Oh begitu." Aina segera mengambilkan nasi goreng kesukaan Shaka lalu ia menyodorkannya, sedangkan Adam juga menyukai nasi goreng. Namun ia terpaksa harus sarapan dengan sayur buatan Erina.


'Kenapa rasanya tidak pas di lidah. Aku menyukai masakan Aina, rasanya aku ingin mencicipi lagi nasi goreng buatan Aina.' ucapnya dalam hati. Erina menatap suaminya yang hanya memasukkan nasi beberapa suap saja lalu ia menyudahinya dengan minum air putih.

__ADS_1


"Mas, kenapa sarapannya gak dihabiskan?"


"Aku sudah kenyang Erina, aku mau berangkat ke kantor sekarang ya." ucapnya, tanpa mencium kening Erina yang tak seperti biasanya, ia pergi begitu saja.


Tak lama kemudian Shaka pun pamit pada Aina, seperti biasa Aina selalu mengantarnya sampai gerbang.


"Hati-hati di jalan ya," kata Aina.


"Baik, kamu juga hati-hati di rumah." ucapnya dengan melambaikan tangan pada Aina sebelum melakukan mobilnya. Entah kenapa rasanya sangat nyaman bagi Aina setelah mengenal Shaka bahkan ia merasa terlindungi.


'Terima kasih kak Shaka.' lirihnya, kemudian ia kembali ke ruang utama. Disana masih ada Erina yang sedang duduk santai menunggu Aina. Aina tak peduli dengan keberadaannya, ia melangkahkan kaki menuju lantai dua namun Erina malah menghentikannya.


"Berani sekali kamu mengambil hati suamiku lagi." sindirnya, seketika Aina berhenti lalu ia membalikkan badan.


"Apa katamu? kau berbicara padaku?"


"Ck, pura-pura bodoh atau gimana? jangan berani mendekati suamiku lagi!"


Aina tersenyum dengan sinis. "Lagian siapa yang mau dengan suamimu, jangan mimpi! aku tak sama dengan mu yang doyan sama laki orang, ck."


"Apa kau bilang!" ucap Erina mulai berdiri dari duduknya.


"Kau tuli atau budeg?"


"Lagian kenapa harus takut? kau hanya istri Adam tapi ingat! Ibu mertuamu tak suka padamu. Bahkan rumah ini milik Ibu Mariam bukan suamimu! untuk apa aku takut padamu." tantangnya pada Erina, seketika Erina terdiam. Apa yang dikatakan Aina memang benar adanya.


Aina pun segera pergi meninggalkan Erina yang masih terdiam bisu di tempatnya.


Hari ini Aina berniat akan pulang ke kampungnya, ia sangat merindukan rumah peninggalan orang tuanya. Bahkan sudah satu tahun ia tak berkunjung kesana karena Adam yang tak pernah memberi izin. Akan tetapi sekarang ia bertekad untuk pulang selagi ia bebas dari Adam. Aina mulai memasukkan beberapa baju pada tas untuk dibawa, ia berniat akan menginap disana untuk melepaskan rasa rindu pada orang tuanya yang telah tiada.


Setelah selesai, Aina mulai pergi meninggalkan rumah tanpa sepengetahuan siapa pun, bahkan Erina juga tak mengetahui kepergiannya.


"Aku rindu ayah dan ibu, aku akan segera berkunjung kesana." ucapnya dalam hati, ia sudah berada di dalam bus untuk tujuan menuju Bandung tempat tinggalnya dulu.


Ia juga sudah mengirimkan pesan pada Shaka bahwa dirinya pulang kampung dengan alasan merindukan orang tuanya.


"Aina pulang kampung? bukankah orang tuanya sudah tiada." ucapnya dalam hati.


Adam cepat-cepat menyelesaikan pekerjaannya, entah kenapa rasanya ia ingin segera pulang untuk bertemu dengan wanita yang ia rindukan. Ia tak tahu merindukan Erina istrinya atau Aina mantan istrinya. Adam segera membereskan berkas kerja lalu ia segera pergi ke parkiran. Sedangkan hari ini Shaka bersantai-santai, ia berniat pulang larut malam. Tanpa Aina Shaka tak bersemangat untuk pulang, mungkin hari ini ia lebih memilih menginap di hotel.

__ADS_1


"Mas, kau pulang siang lagi?"


"Iya sayang, Mas merindukan mu." ucapnya.


"Aku juga merindukanmu Mas, anakmu juga merindukanmu." kemudian Adam mengelus perut Erina yang masih rata lalu ia segera melangkah ke lantai atas menuju kamarnya.


Adam menatap kamar Aina yang tertutup rapat, entah kenapa perasaannya tak enak.


"Sayang, apa Aina tak bermacam-macam padamu lagi?" tanyanya.


"Tidak Mas, aku hanya mengobrol saja waktu tadi pagi. Tapi dari siang sampai saat ini aku tak bertemu dengannya."


"Apa maksudmu? Aina tidak ada?"


"Aku gak tahu Mas, aku tak melihatnya lagi. Mungkin saja dia sedang tidur."


"Ah begitu," ucap Adam dengan mengangguk. Biasanya setelah pulang kerja yang pertama ia lihat selalu Aina, karena Aina sering duduk diruang utama. Namun kali ini ia tak bertemu dengan Aina membuat hatinya tidak enak dan kepikiran.


"Erina, aku mau ke ruang kerja dulu sebentar ya." ucapnya.


"Iya Mas," jawab Erina tanpa curiga sedikit pun pada Adam. Kemudian Adam keluar dari kamarnya lalu ia masuk kekamar Aina tanpa mengetuk pintu.


"Aina," panggilnya dengan nada pelan agar Erina tak mendengar.


"Aina," panggilnya lagi, namun tak ada sahutan dari Aina.


Adam sudah mencarinya ke seluruh kamar Aina, namun ia masih belum menemukannya.


"Mungkin saja dia berada di dalam sana." tunjuknya ke arah toilet.


Adam menarik nafasnya, ia ingin sekali membuka pintu toiletnya namun ia takut Aina akan marah dan berpikiran negatif tentangnya karena ia sudah tak ada hubungan lagi dengan Aina.


"Aku buka saja, biarkan saja dia bilang aku apa." ucapnya.


Adam segera membukanya, namun Aina tetap saja tak ada disana.


"Aina, kamu dimana?" lirihnya, entah kenapa hatinya merasa takut kehilangan Aina. Adam segera berlari keluar untuk mencari Aina ke ruang utama.


'Kenapa perasaanku tidak enak.'

__ADS_1


Bersambung.


Hai kak beri like, komen, serta suscribe ya. Terima kasih.


__ADS_2