
Shaka segera pergi keruang khusus untuk mengecek cctv-nya, begitu juga Aina dan Adam ikut kesana. Sedangkan Erina ia pergi ke kamar untuk tidak melihat kebenaran yang akan terungkap.
"Aku yakin istrimu pasti berbohong Adam, jika istrimu benar berbohong kau akan berbuat apa?" tanya Shaka pada Adam.
"Aku ingin lihat dulu benar atau tidak!" ketusnya.
Shaka segera mengeceknya, ia menunjukkan sesuatu apa Adam. Adam melihat Erina sedang mengobrol dengan Aina, disana Erina terlihat memohon pada Aina namun Adam tak tahu apa yang telah dikatakan sang istri.
"Kau lihat!" kata Shaka. Aina tersenyum sinis melihat ekspresi wajah mantan suami.
"Apa kataku, aku tak pernah mencelakai istrimu." ucap Aina. Namun tetap saja Adam tak menerimanya, ia tetap menyalahkan Aina yang sudah membuat Erina kesakitan.
"Tetap saja kau yang sudah membuat istriku seperti seperti itu, aku tidak tahu apa yang sedang kau bicarakan dengan istriku sehingga dia merasakan kram di perutnya."
"Terserah kau saja Adam, aku tak peduli kau mau menuduhku apa! intinya aku tak berniat untuk mencelakai istrimu itu." Adam menatap Aina dalam-dalam, ia baru kali ini mendengar Aina memanggil namanya tanpa sebutan Mas.
"Adam, kau bilang Adam."
"Ya memangnya kenapa? gak salahkan aku memanggilmu Adam karena itu memang nama mu." Adam sangat geram pada Aina, ia semakin tak suka dengan mulut Aina yang sering melawannya. Kali ini Adam ingin melayangkan tamparan, namun dengan sigap Shaka menahannya.
"Jangan berani-beraninya kau menyentuh kekasihku dengan tangan kotor mu itu." tegasnya, membuat Adam diam seketika. Kemudian Shaka menarik tangan Aina untuk keluar dari ruang tersebut.
"Dia bilang kekasih? sejak kapan mereka berhubungan. Pintar sekali Aina mendapatkan hati saudaraku. Awas saja kau Aina." geramnya dengan mengepalkan jari tangan.
__ADS_1
'Semoga Mas Adam tidak marah padaku, kaku harus berbuat sesuatu agar saudaranya itu pergi dari rumah ini.' ucapnya dalam hati.
Brukkk.
"Mas Adam!" Erina kaget dengan suara pintu yang baru saja di dobrak oleh suaminya.
"Arghhh,"
"Mas, ada apa?"
"Tidak ada apa-apa, aku sangat marah pada Aina."
"Marah kenapa Mas?"
"Aina, kau tak apa-apa?" tanya Shaka dengan nada khawatirnya.
"Aku tak apa-apa kak,"
"Jangan berbohong Aina, aku tahu kau sedang merasakan sakit dipunggung mu. Sini biar aku obati." dengan cepat Aina menolaknya, ia tak mau Shaka melihat punggungnya karena ia malu.
"Jangan kak! biar nanti saja aku obati."
"Aina, jangan menunda lukamu itu. Nanti bisa infeksi."
__ADS_1
"Tapi kak, kita bukan suami istri. Kau tak mau kak Shaka melihat punggungku. Biar nanti di obati sama bi Asti saja." kata Aina.
"Apa kamu lupa, Aina. Bi Asti pulang ke kampungnya."
"Astaga, iya aku lupa kalau bi Asti pulang ke kampungnya." ucapnya dengan menepuk jidat.
"Sini biar aku obati! tenang saja aku tak akan melakukan apapun padamu." ucapnya dengan memaksa Aina. Aina pun pasrah dengan paksaan Shaka, karena ia memang merasakan perih di punggungnya.
Shaka mulai membuka sedikit bajunya perlahan, ia melihat memar dan sedikit darah pada punggung Aina. Namun tiba-tiba Shaka berhenti.
Glekkk, ia menelan ludahnya dengan kasar.
'Kenapa mulus sekali. Ah sial, jiwa lelaki ku meronta.' ucapnya dalam hati, ia juga pria normal yang kapan saja bisa tergoda, apalagi ia baru melihat kulit mulusnya Aina.
Shaka menutup kembali baju Aina, ia tak mengoleskan apapun pada punggungnya.
"Sudah selesai kak?"
"Be-belum! ini lukanya parah, sebaiknya kita kedokter saja." ucapnya dengan gugup, padahal masih bisa diobati olehnya namun Shaka tak mau dirinya semakin menahan hasrat.
"Ya sudah kak, gak apa-apa. Biar aku obati sendiri saja tak perlu ke dokter, nanti juga sembuh. Aku permisi dulu ya." ucap Aina lalu ia pergi meninggalkan Shaka, ia sadar bahwa Shaka tak bisa melakukan karena mungkin tergoda dengan kulit mulusnya. Aina wanita 27 tahun yang sudah menikah selama 5 tahun lamanya, tentu saja ia mengerti dengan jiwa sang lelaki. Hanya saja Aina pura-pura tak menyadarinya. Ia tak mau Shaka malu karenanya dan Aina sangat memaklumi itu.
__ADS_1