
Shaka mulai mencairkan suasana agar Aina tidak terlalu memperhatikan suami dan madunya.
"Aina!"
"Ya kak, ada apa?"
"Kamu kenapa melamun?" tanyanya.
"Tidak apa-apa kak, ini makanannya enak kak."
"Gimana kalau besok kita ketempat makanan ini, pasti lebih enak jika dimakan disana."
"Benar juga kak, sudah lama aku tak pernah makan dipinggir jalan." ucapnya.
"Aku mau keatas dulu ya kak, nanti aku habiskan makanannya." Shaka mengangguk sebagai jawabannya. 'Aku yakin dia pasti menangis,' ucapnya dalam hati.
Benar saja Aina berlari menuju kamarnya dengan air mata berderai, ia tak kuat menahan sakitnya melihat Adam yang memperlakukan istri mudanya seperti ratu. Sedangkan ia selama pernikahan belum pernah diperlakukan seperti itu.
'Aku sudah tak kuat lagi Tuhan, haruskah aku hidup sendiri dengan status janda. Apa yang harus aku lakukan?' lirihnya. Semakin hari Aina semakin merasakan sesak di dadanya. Dulu walaupun suaminya cuek, ia tak mempermasalahkan bahkan ia tak pernah sesakit ini. Setelah adanya Erina kini suasana berubah bahkan sikap suaminya yang cuek pun semakin menjauh darinya.
'Kapan aku bisa merasakan kebahagiaan, berilah aku keturunan agar suamiku mencintaiku.' lirihnya lagi. Aina menangis dengan memeluk lutut, seluruh badannya bergetar mengingat suami dan madunya.
'Aku rindu Ibu, semoga Ibu cepat sembuh.'
Seketika Adam masuk kedalam kamar Aina tanpa mengetuk pintu, ia melihat Aina yang sedang menangis dengan memeluk lututnya.
"Aina!" panggilnya.
"Mas, Mas adam." Aina segera menghapus air matanya lalu ia segera berdiri menghampiri suaminya.
"Ada apa Mas?"
"Ini untuk mu." Adam menyodorkan sebuah kertas yang selama ini Aina takutkan.
__ADS_1
"Ini apa Mas?"
"Kau baca saja," Aina segera membuka isi surat itu, seketika ia membeku seluruh badannya tak bisa bergerak menerima kenyataan.
"Kau bisa menandatanganinya sekarang,"
"Apa ini Mas?" ucapnya dengan suara bergetar.
"Aku minta maaf tak bisa melanjutkan hubungan ini, jujur saja aku tak bisa menjalankan amanat dari Ibuku. Kau tahu sendiri bahwa aku tak bisa adil memperlakukanmu dengan Erina, jadi aku memilih satu diantara kalian agar tidak ada yang tersakiti." jelasnya.
"Apa aku memang sudah tidak ada di hatimu lagi Mas, apa selama 5 tahun aku tak pernah membuatmu mencintaiku?"
"Maafkan Aina, jujur saja aku tak mencintaimu. Dari dulu aku tak merasakan apapun padamu, jika saja kau bisa mengandung benihku mungkin aku akan mempertimbangkannya. Aku juga sudah memberitahu pada Ibu dan Ibu menyetujui semuanya."
"Ibu? Ibu sudah tahu kau akan menceraikan ku? bagaimana dengan kesehatannya Mas."
"Kau tak perlu khawatir, kesehatan Ibu semakin membaik. Tolong segera tandatangani surat itu." ucapnya, kemudian ia berbalik untuk segera pergi meninggalkan Aina.
"Ada apa lagi Aina? penjelasannya sudah cukup!"
"Kamu serius dengan surat ini Mas?"
"Ya aku serius dan aku menceraikan mu. Walaupun kau sudah bercerai denganku, kau harus tetap tinggal disini karena ini semua perintah Ibuku."
"Bagaimana aku bisa tinggal disini sedangkan mantan suamiku berada dirumah ini."
"Kau harus bisa melupakanku Aina, anggap saja kita tak pernah kenal."
"Apa segampang itu kau mengatakannya Mas? kau tak pernah tahu isi hatiku seperti apa, kau tak pernah tahu setiap aku melihatmu dengan Erina membuat hatiku sakit Mas, hiks hiks."
Adam menghampiri Aina lalu ia menggenggam tangannya.
"Aku minta maaf dengan apa yang telah aku lakukan padamu, tolong izinkan aku untuk berbahagia dengan Erina. Aku mencintainya," ucapan Adam membuat hati Aina semakin sakit.
__ADS_1
"Aku sudah memberitahu semuanya, kau mau tinggal disini atau diluar itu terserah dirimu. Apa yang membuatmu nyaman maka lakukanlah." sambungnya lagi. Aina mengangguk dengan apa yang dikatakan Adam.
"Baik Mas, aku mengikhlaskan mu untuk berbahagia dengan Erina. Jika suatu saat kau datang padaku lagi, jangan harap perasaan ini sama." Adam tersenyum sinis.
"Aku tidak akan kembali padamu, Aina. Cukup Erina sebagai istriku bahkan dia wanita yang akan melahirkan anak-anakku. Carilah kebahagiaanmu sendiri, jangan terlalu berharap aku akan kembali padamu lagi. Maaf jika kata-kataku menyakiti hatimu." ucapnya lalu ia pergi meninggalkan Aina yang masih berdiri menatap kepergiannya dengan air mata yang semakin membasahi wajahnya.
'Baik Mas, aku tak akan mengganggumu lagi Mulai sekarang aku akan melupakanmu. Aku tak akan pernah berharap padamu lagi, dan rasa cinta ini akan ku buang.' lirihnya.
Tiba-tiba ponsel Aina berdering menandakan ada yang menghubunginya. Aina melihat nama Ibu mertuanya terpampang disana. Ia segera menghapus air matanya lalu ia menekan tombol hijau.
"Hallo Ibu, apa kabar?"
"Aina!" panggilnya dengan suara yang masih terdengar lemah.
"Ya Bu, bagaimana keadaan Ibu sekarang?"
"Ibu sudah baikan Aina, tak lama lagi Ibu akan pulang kesana." Aina langsung berdoa dalam hatinya mengucapkan syukur pada Tuhan yang sudah memberikan kesehatan pada Ibu mertuanya.
"Aina terharu Bu, semoga Ibu cepat pulang ya. Aina sudah sangat rindu."
"Iya nak, Ibu akan segera pulang. Tolong jangan pergi dari rumah itu walaupun Adam sudah menceraikan mu Aina."
"Ibu sudah tahu kalau Mas Adam menceraikan Aina?" tanyanya.
"Ya, dia yang meminta izin pada Ibu dan Ibu menyetujui keputusannya. Adam bukan suami yang baik untukmu Aina. Semoga kau mengerti dengan keputusan Ibu."
"Ya Bu, Aina mengerti. Ibh tak perlu memikirkan Aina, Aina akan tinggal disini sampai Ibu pulang."
"Terima kasih kau sudah mengerti nak." ucapnya, kemudian Bu Mariam mematikan ponselnya. Ia tak kuat jika harus berbicara lama karena ia masih dalam masa pemulihan.
Aina segera menandatangani surat cerai yang diberikan Adam.
'Ini yang terbaik untukku, aku ikhlas Tuhan.' lirihnya.
__ADS_1