
"Tisya duduk di sini saja!" ucap Tisya sambil menggeser bangku yang belum di geser oleh Wilson karena memang sebenarnya tempatnya bukan di situ.
Karena Tisya sendiri yang meminta, Wilson tidak bisa berkata-kata apa-apa lagi, ia pun kembali duduk di tempatnya tadi, terpisah dengan Nara.
"Hai, Tisya! Kenalkan aku Nara!" gadis lembut itu mengulurkan tangannya. Tisya membalasnya dengan senyum yang di paksakan.
"Aku Tisya!" rasanya enggan untuk menyambut tangan gadis itu, terbayang dalam benaknya gadis lembut di depannya tampak seperti rubah yang sedang mengincar suaminya yang masih lemah.
Karena tidak menerima sambutan dari Tisya, Nara pun kembali menarik tangannya.
"Ya gitu Nara, anak kota memang tidak punya sopan santun, untung Wilson sudah dari dulu kita didik dengan sopan santun walaupun lama bergaul dengan orang kota, ya tetap punya unggah ungguh!" ucap ibunya Wilson, walaupun nadanya lembut tapi perkataan itu menusuk.
Lama-lama nyebelin banget sih nyokapnya Wilson,
Sepertinya Wilson menyadari kekesalan istrinya,
"Buk, bukan seperti itu! Di kota memang ada aturan kita tidak boleh sebarangan menerima uluran tangan orang asing, karena hal itu bisa membuat orang asing baper!"
Mendengar ucapan Wilson, Tisya sampai memelototkan matanya tidak percaya kalau kata-kata itu keluar dari bibir seksi sang suami.
Tau tauan aja baper ....
Wilson hanya tersenyum membalas pelototan sang istri.
Wilson pun segera mengambil piring kosong dan mengambilkan makanan untuk Tisya,
"Kamu kok ambil piring lagi?" tanya Ibunya dan Wilson menghentikan kegiatannya dengan piring yang masih menggantung di udara. Ia sadar jika saat ini mereka tidak berperan sebagai suami istri.
"Ah_, ini! Saya ambilkan untuk Tisya, kasihan dia anaknya pemalu, makanya tidak juga mengambil makanannya!"
"Kok ya manja sekali, biar dia ambil sendiri! Kasihan Nara!" ucap ibunya lagi yang memang gadis itu sekarang terlihat tidak nyaman dengan kelakuan Wilson pada Tisya.
"Tidak pa pa Budhe, mungkin kak Wilson udah kebiasaan!" ucap Nara seolah-olah ia tidak pa pa meskipun dalam hatinya sekarang sedang merasakan iri dengan perlakuan. Wilson pada Tisya.
"Sudah-sudah, itu saja kasihkan! Kamu juga masih sakit gitu, jangan banyak bergerak!" ibu Wilson kembali menengahi walaupun dia sendiri sebenarnya yang sedang berbicara tadi.
Tisya yang memang tidak terlalu mau tahu dengan ucapan orang lain hanya menceburkan bibirnya tidak peduli. Ia pun dengan santainya mengambil piringnya yang sudah terisi makanan,
"Ya udah lah buk, ayo makan saja. Nggak baik loh ribut di depan makanan!"
__ADS_1
Tisya pun segera menyantap makanannya tidak peduli dengan tatapan kedua orang tua Wilson yang seolah-olah sedang menilai bagaimana perilakunya.
Dia benar-benar tidak ada manis-manis nya, untung aku cinta.
Wilson menggelengkan kepalanya.
"Bagaimana? Enak kan?" Nara kembali membuka suara, kali ini bukan Wilson yang di tanya tapi Tisya.
Tisya yang memang tampak begitu menikmati makanannya pun segera menghentikan makannya dan menoleh pada gadis bermuka manis itu,
"Iya!" Tisya hanya menjawab dengan jawaban singkat dan kembali melanjutkan makannya karena dia sangat lapar.
"Iya lah enak, yang masak calon mantu, iya nggak pak?"
Mendengar perkataan ibu mertuanya, Tisya menghentikan kunyahannya membuatkan makanan itu tetap berada di dalam mulut, tiba-tiba saja nafsu makannya hilang seketika mengetahui yang memasak bukan ibu mertuanya tapi calon saingannya.
Rasanya begitu berat hanya untuk menelan makanan yang sudah terlanjur di dalam mulut itu, Wilson mengerti bagaimana istrinya sekarang.
"Minumlah!" Wilson menyodorkan segelas air minum miliknya.
Tisya pun perlahan dengan susah payah menelan makanan yang yang sudah terlanjut di dalam mulut, jika saja saat ini tidak ada orang lain sudah pastilah dia akan memuntahkan kembali makanannya.
Setelah berhasil menelannya, Tisya segera mengambil air minumnya.
"Ini sudah kebiasaan pak!" Wilson tidak mungkin membiarkan Tisya sampai kenapa-kenapa.
"Iya, kami tuh jadi laki-laki harus tegas, kalau sudah punya pasangan jangan suka memperhatikan anak gadis lain!" ibunya memberi nasihat.
Tuh dengar ...., buang jauh-jauh gadis lembut itu
Kali ini Tisya merasa menang, tapi segera berhempaskan setelah mendengarkan kelanjutan ucapan ibu mertuanya.
"Kasihan Nara, dia itu seorang gadis, pasti nggak rela kalau kamu deket-deket dengan gadis lain meskipun itu sopir kamu! Lagian kenapa juga kamu bawa-bawa sopir kamu pulang!"
"Bu, Wilson nggak kuat nyetir, lagi pula Tisya ini gadis yang baik, dia juga manis!" Wilson tersenyum pada istrinya yang sudah mulai ngambek karena ucapan ibu mertuanya.
Melihat wajah Wilson yang di buat manis membuat Tisya tidak bisa berkutik.
Dia pandai sekali merayu
__ADS_1
Akhirnya acara makan selesai juga,
"Biar aku bantu membereskan mejanya budhe!" tawar Nara pada mertua Tisya.
Pintas sekali dia cari muka
"Nggak usah kamu temenin Wilson, sekalian bantu minum obat.
Oh tidak bisa ....
Tisya pun segera menyambar obatnya dan mengambil air putih,
"Biar saya saja yang bantu Wilson buat minum obat, kamu bantu ibu saja di dapur! Iya kan Wil?" Tisya mencoba mencari dukungan pada Wilson.
"Iya Nara, kasihan ibu! Kalau Tisya, dia nggak bisa melakukan itu, soalnya kerjanya cuma nyetir mobil, kalau pekerjaan perempuan dia tidak bisa!"
"Baiklah!" terlihat sekali wajah Nara begitu terpaksa.
Tisya tersenyum penuh kemenangan dan segera duduk di kursi yang tadi di tempati Nara, gadis itu sudah berlalu meninggalkan tempat makan dengan membawa piring kotor.
"Jangan harap ya kamu bisa genit genitan sama gadis lemah lembut itu!" ancam Tisya sambil mengulurkan obat untuk Wilson.
"Mana ada yang berani kalau istrinya segalak kamu!"
Hampir saja Tisya mencubit perut Wilson tapi langsung di tahan oleh tangan kekarnya,
"Jangan cubit dulu dong, kan masih sakit, kalau cubitnya di sini boleh deh!" Wilson menunjuk pada bibirnya membuat wajah Tisya merona di buatnya.
"Ada bapak sama ibu!" tolak Tisya.
"Kan di sini cuma kita berdua, ayo dong sayang!" ucap Wilson dengan suara yang begitu pelan agar tidak ada yang bisa mendengarkan ucapan mereka.
Tisya pun mendekatkan bibirnya, Wilson yang tidak sabar segera menarik pinggang sang istri hingga mereka bibir itu mendarat sempurna di sana, ia segera melu*at bibir itu dengan rakus, rasanya akan sangat rindu jika tidak bisa bermesraan seperti ini.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
__ADS_1
IG @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰...