Wilson & Tisya

Wilson & Tisya
Bab 37


__ADS_3

"Maksud kamu nggak mau apa? Jangan bilang kalau kamu mulai suka dengan kepala sekolah itu?"


"Kalau iya bagaimana pak?!"


Pria yang menjabat sebagai pak lurah itu seketika memegangi kepalanya yang sebagian rambutnya sudah di penuhi uban,


"Sudah aku duga, ini nih buk hasil didikan kamu, jadi anak pembangkang!"


"Kok jadi ibu sih pak yang di salahkan!?"Bu lurah tampak protes, jelas dia tidak suka di salahkan apalagi ia hanya mengikuti semua perintah suaminya selama hampir dua puluh tujuh tahun menikah dengan pria itu.


"Bapak sudah menduga, beberapa kali anak buah bapak melihat kalian berboncengan! Sudah bapak bilang, bapak tidak suka dengan kepala sekolah dari kota itu, dia itu tidak punya etika! Entah siapa yang sudah memilihnya jadi kepala sekolah!"


"Bapak nggak tahu, pak Riski itu pria yang sopan pak, lagi pula kak Wilson juga tidak suka sama Nara, jadi jangan suka memaksakan kehendak bapak!"


"Kamu tidak tahu siapa bapak ya Wilson itu, walaupun dia orang biasa, bukan pejabat desa tapi dia cukup berpengaruh di desa, akan sangat bagus untuk kelanjutan jabatan bapak!"


"Bapak terus yang harus di pikirkan, kapan bapak bisa memikirkan tentang keputusan Nara sendiri?"


Perdebatan antara bapak dan anak itu seakan tidak ada habisnya, bahkan keputusan pak lurah benar-benar tidak bisa di ganggu gugat.

__ADS_1


"Pokoknya bapak nggak mau tahu, besok bapak akan ke rumah Wilson untuk menikahkan kamu dengan dia!"


"Bapak selalu saja gitu!" Nara melempar bantal sofa yang sedari tadi ia pegang dan berlalu begitu saja meninggalkan kedua orang tuanya.


Brakkkkk


Nara membanting pintu kamar dan menutup rapat, tidak lupa ia menguncinya juga.


"Itu tuh, kalau ibu terlalu memanjakan Nara, jadinya nglawan sama orang tua!"


"Bapak masih aja nyalahin ibu, lagi pula pak Riski juga nggak ada salahnya pak, dia pria yang baik dan lagi punya jabatan yang akan di segani oleh warga!"


Ibu tidak tahu saja, pria itu berada di kubu siapa, kalau aku sampai melepaskan Nara padanya, pasti Nara akan semakin menentang ...., pak lurah tidak berniat menjawab opini istrinya, ia lebih memilih memegangi kepalanya yang terasa nyeri karena seharian ini begitu banyak yang harus ia hadapi. Belum lagi berkas yang belum di temukan berserta menghilangnya Tisya juga.


"Nara harus apa sekarang?"


Nara memegangi ponselnya, di tempatnya cukup susah menghubungi seseorang dengan ponselnya, kalau dia mengirim pesan pastilah sampainya juga masih lama,


"Apa iya, Nara suka sama pak Riski?" dia bahkan meragukan hatinya sendiri. Tapi ia tidak tahu beberapa hari terakhir pria itu yang selalu muncul dalam benaknya.

__ADS_1


"Apa aku kirim pesan saja ya sama pak Riski?"


Nara pun mencari kontak nomor atasannya itu, pria yang selalu mencari perhatian lebih padanya.


//Pak, maaf ya Nara ganggu malam-malam, tapi mungkin sampainya pesan Nara baru besok pagi atau lusa, sebenarnya Nara cuma ingin tahu saja bagaimana perasaan pak Riski sama Nara? Apa pak Riski suka sama Nara? kalau iya, bisa tidak Nara buat lebih dekat mengenal bapak, atau setidaknya bebaskan Nara dari perjodohan Nara sama kak Wilson//


Setelah selesai mengetikkan pesan, Nara segera mengirimnya. Mungkin kebetulan ada sinyal yang nyantol ke ponselnya hingga pesan itu langsung terkirim.


"Yahhh sudah terkirim, aku belum sempat baca ulang tadi!" Nara terlihat menyesali perbuatannya sendiri.


"Bagaimana kalau ternyata pak Riski tidak punya perasaan sama Nara?"


"Aku pasti akan sangat malu besok!"


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya ya


Follow akun Ig aku ya

__ADS_1


IG @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2