Wilson & Tisya

Wilson & Tisya
Bab 15


__ADS_3

Tisya menatap punggung suaminya dengan tatapan nanar, mau protes bagaimana dia sudah setuju untuk menyembunyikan status pernikahan mereka.


"Hehhhh, sakit banget rasanya!" gumamnya lalu segera beranjak dari tempat tidur dan melipat selimutnya.


Ia mengambil handuk dan baju ganti di tas yang masih teronggok di pojok kamar.


Saat keluar kamar, ia melihat suaminya sedang duduk di kursi yang ada di ruang tv sedangkan Nara sibuk mengoleskan obat merah pada siku Wilson yang terluka.


Tisya menatap kesal dan berjalan cepat menuju ke kamar mandi, air yang begitu dingin di kamar mandi seakan tidak bisa mengalahkan rasa panas di hati dan kepalanya.


"Tis, kamu keramas? Nggak dingin?" tanya Wilson saat Tisya sudah keluar dari kamar mandi, ia tahu jika istrinya itu anti air dingin.


"Nggak! Panas tadi!" jawab Tisya asal, Nara sudah merapikan kembali kotak obatnya, sekarang siku Wilson sudah berbalut hansaplas dengan motif Doraemon.


"Kak Wilson perhatian sekali sama Tisya!" Nara iri dengan perhatian yang di berikan Wilson pada Tisya, mau bagaimana pun Nara Tidka tahu jika mereka sepasang suami istri.


"Iya tuh Wil, sudah sana perhatian aja sama calon istri!" jawab Tisya sewot lalu masuk kembali ke dalam kamar.


Tisya kenapa sih? Kok gitu, memang aku salah apa?


Wilson hanya terbengong menatap pintu kamar yang sudah kembali tertutup.


"Kak Wilson mau sekalian sarapan di sini?" pertanyaan dari Nara menyadarkan, ia segera menoleh pada wanita yang masih berdiri di depannya itu.


"Eh enggak, ibu nyariin pasti! Aku pulang dulu ya, salam buat Tisya, bilang nanti setelah sarapan aku akan ke sini!"


"Kenapa kak? Mau ngantar aku ke sekolah ya?"


Wilson dengan cepat menggelengkan kepalanya, "Enggak, saya mau pergi sama Tisya! Pakek mobil!"


"Ohhhh!" Nara menunjukkan raut kecewanya. Ia berharap Wilson lebih perhatian padanya di banding dengan Tisya yang katanya hanya seorang sopir.


"Aku pulang dulu ya!"


...***...


Tepat jam tujuh pagi, Nara sudah bersiap hendak berangkat ke sekolah tempatnya mengajar. Nara sengaja tidak mengatakan pada Tisya kalau Wilson akan datang.


"Tis, mau ikut aku nggak? Dari pada di rumah, nanti kamu jenuh loh!" tawarnya pada Tisya.


"Aku?" Tisya menunjuk pada dirinya sendiri, jujur dia masih kesal saat mengingat wanita itu berada dekat-dekat dengan suaminya, "Ke sekolah? Ngapain?"


"Di sana ada Wifi gratis, kamu bisa hubungi keluarga kamu di kota!"


Ahhh benar juga kata Nara, aku kesampingkan dulu deh kesalku sama nih cewek ...

__ADS_1


"Baiklah aku ikut!" ucapnya setelah menimbang-nimbang.


Mereka berangkat ke sekolah dengan jalan kaki, Tisya malas pakai mobil kalau dengan wanita yang menjadi saingannya itu.


"Masih jauh ya nih?" Tisya sudah memegangi kakinya yang pegal, ia tidak pernah melakukan perjalanan. jauh sebelumnya dan sekarang dia sudah berjalan hampir seperempat jam dan belum juga ketemu sudut gedung sekolahannya.


"Enggak sebenarnya lagi, lima menit lagi lah!"


"Dari tadi kamu bilang juga tinggal lima menit, tapi ini sudah lima belas menit tapi nggak sampek-sampek, kamu ngerjain aku ya?" Tisya sudah benar-benar kesal saat ini. Sedangkan Nara hanya tersenyum, gadis itu menggelengkan kepalanya.


"Kamu jangan terlalu manja, kamu kan sopir harusnya biasa kan jalan kayak gini! Gaji kamu banyak ya makannya wajah kamu glowing kayak gitu?"


Nihhh anak ngomong apa sih? Tisya mengerutkan keningnya tidak mengerti itu sebuah pertanyaan sebuah hinaan.


"Kak Wilson kayaknya perhatian banget sama kamu, padahal kan aku yang calon istrinya! Aku kalau perawatan seperti kamu, wajahku juga nggak kalah bersih!"


Ohhh jadi ini maksudnya, cemburu? dia tidak tahu aja berapa biaya yang aku keluarkan untuk sekali perawatan, mau nyaingin aku lagi ...., sifat sombong Tisya tiba-tiba hadir begitu saja.


"Aku sih nggak banyak gajinya, tapi memang kalau perawatan wajib!" kali ini Tisya merasa menang dari gadis yang bermimpi jadi calon istri suaminya itu.


"Kamu perawatan juga buat apa Tis, atau jangan-jangan kamu gunakan untuk menggoda kak Wilson ya?"


Kalau iya memang kenapa? Dia suamiku, jadi pengen dia naik darah saat tahu aku istrinya Wilson


Mendengarkan jawaban Tisya, Nara menghentikan langkahnya dan menatap tajam pad Tisya.


"Kamu jangan aneh-aneh deh Tis, aku kira kamu baik ya, tapi ternyata kamu punya maksud jahat ya!" setelah mengatakan hal itu Nara berjalan cepat meninggalkan Tisya.


"Yah ..., dia marah!" sepertinya sikap menyebalkan Tisya masih belum hilang sepenuhnya. "Salah sendiri suka sama suami orang!"


Tisya tidak ada pilihan lain selain menyusul Nara, mau kembali ke belakang juga ia sudah jalan terlalu jauh dan belum kenal dengan wilayah itu.


"Nara_, tunggu dong!"


Sepertinya Nara benar-benar marah pada Tisya hingga Tidka mengindahkan panggilan Tisya.


...***...


Tisya sudah duduk di Gasebo sekolah, sekolah yang tadinya ramai anak-anak kini sudah sepi setelah beberapa menit yang lalu terdengar bel berbunyi.


"Gila tuh cewek, marah ya marah! Tapi nggak ninggalin aku juga, kalau aku di culik sama orang sini bagaimana?" nafas Tisya masih terdengar naik turun tapi rasa kesalnya membuatnya terus mengumpat.


Setelah merasa sedikit lega, ia segera merogoh saku celananya, mengambil benda pipih yang ada di saku celananya.


"Bodoh! Percuma aku duduk di sini kalau nggak minta password nya, mau di sambungin sama apa coba!"

__ADS_1


Terpaksa Tisya turun dari Gasebo dan memakai kembali sepatunya, ia berjalan mencari Nara. Mengelilingi kelas yang jumlahnya dua belas.


"Susah juga nyari tuh anak!" ia sudah mengelilingi sekolah lebih dari setengah tapi masih belum menemukan sosok Nara.


"Mbak, mau cari siapa ya?"


Tisya benar-benar terkejut kali ini, ia sampai memegangi letak jantungnya.


"Mas, kalau bisa jangan ngagetin dong!" protesnya saat berbalik dan menatap pria di yang tadinya berdiri di belakangnya.


"Maaf mbak, soalnya dari tadi lihat mbaknya kayak kebingungan!"


"Kamu guru di sini ya?"


"Iya mbak!"


"Kenalkan saya Tisya!" Tisya meraih tangan pria itu dan memperkenalkan diri.


Walaupun tampak terkejut karena tiba-tiba di ajak berkenalan dengan seorang wanita, pria itu terlihat Tidka menolak,


"Saya Riski mbak!"


"Okey Riski, kayaknya kita seumuran kan jadi aku nggak perlu basa-basi ya! Gini, kamu kenal yang mananya Nara kan?"


"Oh ..., Bu Nara? Dia guru kelas satu mbak_, Tisya!"


"Kelas satu ya, baiklah aku cari dua dulu ya!"


Tisya segera berbalik meninggalkan pria yang masih berdiri di tempatnya, menatap heran pada Tisya.


Ehhh tunggu, kalau Nara masih marah, dia kan nggak mungkin kasih tahu passwordnya, si Riski ini pasti juga tahu kan, kenapa nggak tanya sama dia aja ya?


Tisya kembali berbalik setelah berhenti cukup lama, untuk Riski masih berdiri di tempatnya.


"Ada yang masih bisa di bantu mbak_, Tisya?"


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


IG @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰...

__ADS_1


__ADS_2