
Walaupun menerima, tetap saja Tisya ngedumel.
"Kalau buat Wilson saja ada, kalau buat aku enggak, aku kan cewek, harusnya aku dong yang di perhatikan!" Tisya terus saja menggerutu selama di kamar mandi, apalagi saat memegang air di kamar mandi, airnya begitu dingin.
"Aku nggak mandi aja ah, mandi besok pagi!" Tisya pun memutuskan untuk mencuci muka dan menggosok gigi saja dari pada masuk angin.
Di ruang lain, saat Wilson keluar dari kamar mandi, matanya terus saja mencari sosok yang bersamanya sepanjang hari.
"Bu, Tisya di mana?" tanyanya pada sang ibu saat tidak menemukan istrinya di mana-mana.
"Ibu suruh tinggal di rumah Nara!"
Wilson begitu terkejut hingga suaranya meninggi, "Kok bisa sih Bu, biar Wilson jemput!"
"Kamu kok reaksinya begitu sekali!"
"Tapi Bu, Tisya itu nggak tahu apa-apa di sini, kalau ada orang jahat bagaimana?"
"Wong Tisya di rumah pak lurah, memang siapa yang mau jahatin dia, sudah sana pergi tidur, ibu sudah bersihkan kamar kamu!"
"Kalau nggak boleh tidur sama saya, ya tidur di kamar Wilna kan bisa Bu!"
"Kenapa kamu jadi ngotot sekali, sudah sana tidur, tas kamu juga sudah ibu masukkan ke kamar!"
Wilson hanya bisa pasrah, tapi tetap saja walaupun perutnya nyeri dia tidak bisa tidur. Ia segera mencari ponselnya di dalam tas dan hendak menghubungi sang istri.
"Astaga, nggak ada sinyal lagi!" Wilson melempar ponselnya asal dan menjatuhkan tubuhnya ke kasur.
"Kalau tuan Frans tahu adiknya aku biarkan tinggal sendiri, bisa di gantung aku!"
Wilson mengusap kepalanya kasar, ia benar-benar bingung harus melakukan apa sekarang.
"Apa aku harus mengatakan semuanya sekarang? Iya aku harus mengatakan semuanya sekarang!"
Wilson pun kembali bangun dan berjalan mencari bapak dan ibunya. Sudah tidak ada siapapun di sana.
Wilson pun segera mengetuk pintu kamar,
"Pak, Bu, Wilson ingin bicara sesuatu!"
Tidak ada sahutan, mungkin mereka sudah tidur sekarang.
"Baiklah, aku akan bicara lagi besok!"
Wilson menyerah, ia pun segera beranjak dari depan kamar orang tuanya, tapi baru beberapa langkah pintu itu terbuka.
"Ada apa?" pak Arif tampak menggantungkan sarungnya di bahu dengan mata yang terlihat berat.
"Sudah tidur ya pak?"
__ADS_1
"Iya, sudah tahu bapak seharian kerja, capek mau tidur, ada perlu apa lagi, mau tidur di temenin ibu kamu?"
"Nggak, besok saja deh pak kita bicaranya!"
Wilson pun melanjutkan langkahnya dan masuk ke dalam kamar, untuk pertama kalinya setelah menikah ia akan tidur tanpa Tisya, ia bahkan kesulitan untuk memejamkan matanya karena bayangan Tisya seperti melayang-layang di pelupuk mata.
Yang bisa ia lakukan hanya menscroll layar ponselnya melihat beberapa potret sang istri di ponselnya untuk mengurangi rasa rindunya.
***
"Kamu nggak mandi Tis?" tanya Nara yang melihat Tisya lebih cepat kembali dari perkiraannya.
Tisya sebenarnya begitu malas untuk menjawab, ia hanya tersenyum dan segera naik ke atas tempat tidur tidak lupa ia mengambil tas kecilnya yang berisi ponsel dan barang-barang penting seperti identitas diri dan kartu ATM.
Tisya sebenarnya ingin berkirim pesan pada suaminya tapi ternyata tidak ada sinyal sama sekali.
"Di sini nggak ada sinyal ya?" Nara yang terlihat sibuk segera menoleh ke arah Tisya dan tersenyum.
"Nggak ada Tis, kalau mau telpon besok aja ke bukit, nggak jauh kok dari sini!"
"Serius?" Tisya benar-benar membelalakkan matanya tidak percaya.
Nara menganggukkan kepalanya dengan yakin.
"WiFi?"
"WiFi?" Nara malah balik bertanya, sepertinya kata itu masih asing di telinganya.
"Hp kami di sini cuma begini, buat apa punya WiFi, kalau cuma buat telpon biasa saja di rumah ini juga bisa kalau kayak gini!" Nara menunjukkan ponselnya yang hanya bisa di gunakan untuk menelpon dan mengirim pesan SMS.
"Jadi di sini nggak ada sinyal internet?"
"Ada!"
"Di mana?"
"Di kantor desa, di sana juga sudah di pasang WiFi, tapi kami jarang yang ke sana selain perangkat desa, kan hp kami juga cuma kayak gini!"
Astaga ...., ini desa sebenarnya hidup di jaman apa sih ...
Hehhhhh
Tisya menghelanya nafas dalam, ia tidak bisa berkutik tanpa jaringan internet sekarang, "Baiklah, aku akan memasang jaringan WiFi di sini, biar mudah kalau berkomunikasi!"
Ha ha ha
Nara tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Tisya. Hal itu membuat Tisya mengerutkan keningnya bingung,
"Kenapa tertawa?"
__ADS_1
"Tis, Tis, pasang WiFi di sini itu kayak mendirikan tower!"
"Kamu juga tahu tower?" Tisya tidak menyangka gadis desa seperti Nara juga tahu tower.
"Ya tahu, aku SMA di kota, walaupun cuma tiga tahun setidaknya aku sudah pernah ngerasain kehidupan di kota! Di sini itu belum ada tower makannya jaringan susah, buat pasang tower yang juga nggak bisa sembarangan!"
"Ohhhh!"
Kamu belum tahu aja kekuatan kakak aku ....
Tisya hanya tersenyum penuh misteri, ia akan membuat kejutan dengan memasang tower di kampung ini, kalau dia sudah berhasil menghubungi sang kakak.
Tisya pun tertarik untuk memperhatikan Nara yang sedang sibuk dengan beberapa buku di depannya,
"Kamu kenapa? Belajar?"
Nara kembali menoleh dan menggelengkan kepalanya, "Enggak, ini aku koreksi buku anak-anak!"
"Anak-anak?"
"Iya, aku mengajar di salah satu sekolah dasar di sini, baru di bangun!"
"Kamu kuliah juga?"
Nara menggelengkan kepalanya, "Enggak, lebih tepatnya belum!"
"Kok bisa mengajar?"
"Di sini lagi kekurangan pengajar, makanya aku bantu di sana, memang di tuntut untuk kuliah tapi masih nunggu waktu, kata bapak setelah menikah gitu!"
Deg
Mendengar kata menikah, Tisya Hadi teringat dengan tujuan mereka datang ke kampung Wilson. Untuk mencegah pernikahan antara Wilson dan calon istrinya, dan calon istrinya sekarang berada di depannya.
"Menikah?" Tisya bahkan sampai kesusahan untuk menelan salivanya.
"Iya, aku sama kak Wilson, kami sudah di jodohkan sejak kecil, kata bapak setelah kami menikah aku baru boleh melanjutkan kuliah itu pun kalau kak Wilson setuju!" Nara berbicara dengan wajah yang tampak berbinar-binar, ada rona bahagia saat mengatakan tentang laki-laki yang sudah resmi menikahi Tisya satu tahun yang lalu itu.
Tisya tidak tahu harus berkata apa lagi, rasanya hatinya sekarang sedang begitu sakit.
"Aku tidur dulu ya!" tanpa menunggu jawaban dari Nara, Tisya pun segera memiringkan tubuhnya membelakangi Nara, air matanya tidak mampu terbendung lagi sekarang, ia hanya bisa mengusap air matanya beberapa kali dan menutup mulutnya dengan tangan agar tidak menimbulkan suara.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
IG @tri.ani5249
__ADS_1
...Happy Reading 🥰🥰🥰...