Wilson & Tisya

Wilson & Tisya
Bab 30


__ADS_3

Akhirnya setelah sepuluh menit kopi yang mereka pesan datang juga.


"Sudah kan, sekarang sudah ada kopi, tinggal bicara!"


"Baiklah, beberapa tahun terakhir saya menjabat sebagai kepala sekolah di sekolah_!"


"Saya sudah tahu di sekolah itu, langsung ke intinya saja!" tampak Wilson sangat tidak sabar hingga ia memotong ucapan kepala sekolah itu.


"Anda benar-benar tidak sabaran ya!"


"Masalahnya, dari pagi aku belum bertemu sama_!" Wilson menghentikan ucapannya, ia lupa sedang menyembunyikan statusnya dari orang-orang walaupun pria yang sedang ia ajak bicara saat ini sudah tahu hubungannya dengan Tisya, tapi jika ada orang lain yang mendengarnya bisa berbahaya untuk Tisya, apalagi saat ini Tisya sedang dalam keadaan hamil.


"Sudah lupakan, lanjutkan saja!"


Tampak kepala sekolah itu menarik sudut bibirnya, ia tahu apa yang akan di ucapkan oleh Wilson, ia juga tampak menggelengkan kepalanya, melihat orang yang sedang bucin membuatnya teringat pada Bu guru Nara.


"Baiklah, aku jelaskan dari awal. Beberapa tahun terakhir sekolah mewajibkan memiliki akses internet untuk mengerjakan berkas-berkas sekolah yang sering kali di tuntut on line!


Awalnya begitu susah untuk mendapatkan ijin menghubungkan WiFi ke sekolah, tapi setelah perdebatan panjang akhirnya pak lurah mengijinkannya dengan berbagai syarat, diantaranya tidak boleh menyalurkan ke tempat lain.


Hanya untuk sementara kami pun menyetujuinya, beruntung sekolah dekat dengan kampung sebelah yang sudah punya sinyal internet, jadi kami tidak membutuhkan biaya banyak untuk pemasangan kabel.


Saat ini, semakin maju negara kita. Maka anak-anak pun di tuntut untuk mengenal internet juga, kemudian saya mengajukan agar ada internet gratis di beberapa titik di kampung agar anak-anak juga bisa menikmati internet, tapi ternyata ijin itu tidak mudah.

__ADS_1


Jika saja, di salah satu lahan kosong di kampung kita bisa di bangun tower, pasti biaya pemasangan WiFi atau setidaknya para penduduk kampung bisa menggunakan kartu selulernya untuk di ubah menjadi kartu Internet dengan bekerja sama dengan para pemilik kartu seluler.


Dengan begitu, kita tidak perlu mengeluarkan uang dan pemilik tanah malah akan mendapatkan kompensasi yang cukup besar."


"Lalu kenapa tidak melakukan hal itu?"


"Seperti yang saya katakan sebelnya, ijinnya membutuhkan kesabaran!"


"Baiklah, saya mengerti sekarang!"


"Kalau sudah mengerti, saya permisi!" kepala sekolah itu segera menghabiskan kopinya yang sudah tidak panas lagi dan berdiri, "Tolong bayarkan kopi saya!" ucapnya sebelum meninggalkan Wilson.


Wilson menyebirkan bibirnya tidak percaya,


Wilson tidak sabar untuk segera pulang, ia harus segera menemui istrinya.


...****...


Di rumah Nara


Tampak di rumah itu sedang heboh, pak lurah ternyata tidak pergi ke kantor desa karena dia sedang ribut mencari sesuatu, Nara pun hari ini tidak bisa ke sekolah karena ulah bapaknya itu.


"Bapak taruh di mana sih?"

__ADS_1


"Memang bapak punya tempat lain selain di laci bapak, itu bahaya Nara kalau sampai hilang!"


"Memang ada apa dengan berkas itu?"


"Nggak usah banyak bertanya, cari aja! Di suruh bapak kok malah tanya balik!"


"Ya kan siapa tahu Nara bisa bantu pak, atau mungkin di kantor desa bapak masih punya file nya!"


"File nya nggak sama!"


"Kok bisa nggak sama?"


"Kenapa kamu jadi cerewet sih, atau gara-gara banyak bergaul dengan anak kota itu?"


Tisya yang berada di ruangan sebelah sudah merasa deg degan karena memang berkas itu hilang karena ulahnya.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


IG @tri.ani5249

__ADS_1


...Happy Reading 🥰🥰🥰🥰...


__ADS_2