Wilson & Tisya

Wilson & Tisya
Bab 45


__ADS_3

Walaupun berat hati tapi Riski tetap membawa pergi, ia sedikit banyak tahu apa yang di rasakan istrinya. Pasti berat selama ini tinggal dengan bapak yang seperti itu.


Mereka akhirnya sampai juga di rumah sederhana milik Riski, bukan rumah yang sama yang menjadi tempat singgah sementara Tisya beberapa hari lalu, tapi sebuah rumah dinas yang sengaja oleh perangkat desa sediakan. Memang selama ini rumah itu yang di ketahui oleh penduduk kampung adalah rumahnya, tentang rumah yang di tinggali Tisya, tidak ada yang tahu. Setahu penduduk kampung rumah itu adalah rumah milik orang kota yang sering di singgahi orang kota, walaupun kepala.sekolah itu kerap di sana dan membersihkannya, mereka tidak mengira kalau itu miliknya. Karena kepala sekolah tetap tinggal di rumah dinas selama ini.


"Maaf ya rumahnya kecil dan sederhana, tidak seperti rumah kamu!" Riski meras tidak enek, ia mempersilahkan wanita yang sudah resmi menjadi istrinya itu untuk masuk setelah membuka pintu dengan kunci yang ia simpan di balik vas bunga yang ada di atas meja kecil di teras rumah.


"Ini jauh lebih nyaman dari istana pak, ini untuk pertama kalinya aku bisa bernafas dengan udaraku sendiri buka udara yang di sajikan oleh bapak!" tampak dari kata-kata Nara, wanita itu sudah memendam luka yang begitu lama.


"Masuk dan duduklah, aku akan mengambilkan air untukmu!"


Nara pun menuruti kata-kata suaminya, ia duduk di sofa berwarna coklat tua yang ukurannya sedang dengan meja yang penuh dengan berkas-berkas sekolah, sepertinya ruangan itu menjadi ruang favorit kepala sekolah itu untuk bekerja.


Nara pun tanpa permisi merapikan satu persatu berkas yang berserakan di atas meja agar terlihat lebih rapi.


Tak berapa lama Riski kembali dengan membawa segelas air putih, ia buru-buru meletakkan gelas yang berisi air itu di atas meja,


"Kamu tidak perlu repot-repot merapikannya!" Riski terlihat panik dan segera mengambil berkas yang berada di tangan Riski.


Tapi na'as salah satu lembaran itu jatuh dan langsung di pungut oleh Nara,

__ADS_1


"Sudah jangan di baca biar aku simpan saja!" Riski hampir merebut kertas itu tapi Nara berhasil menyelamatkannya.


"Tidak pak, aku tahu berkas ini! Ini berkas yang di cari bapak beberapa waktu lalu, jadi pak Riski yang menyimpannya?" walaupun hanya membaca sekilas tapi Nara langsung tahu apa isinya.


"Maaf ya, aku menyembunyikan semuanya!"


Walaupun terlihat raut wajah kecewa karena mengira Tisya yang memberikan berkas itu padanya tapi ia meletakkan begitu saja di atas meja dan tidak mau tahu lagi dengan berkas itu,


"Tidak pa pa!"


Riski yang melihat rona kecewa di wajah Nara segera berjongkok di depannya dan menarik kedua tangannya, menggengam kedua telapak tangannya,


"Pak Riski yang menyembunyikan Tisya? kalian tinggal bersama di sini?"


Riski pun langsung menggelengkan kepalanya,


"Tidak, tidak seperti itu."


"Sungguh aku tidak pa pa!"

__ADS_1


"Tapi benar kenyataannya tidak seperti itu. Berkas ini bukan aku yang bawa, tapi Wilson. Yang ambil benar Tisya, tapi ia memberikannya pada Wilson. Berkas ini yang asli, sedangkan yang di ajukan bapak kamu di kecamatan adalah berkas yang sudah di rekayasa anggarannya hingga!"


"Jadi maksud bapak, bapak aku korup?" mata Nara terlihat nanar, benar selama ini ia memang sudah menduganya tapi ia tidak pernah punya keberanian untuk mencari tahu apa lagi mencampuri urusan bapaknya.


Riski hanya bisa menganggukkan kepalanya, "Dan besok pagi Wilson akan_!" Riski menghentikan bicaranya, ia tidak sanggup melihat istrinya bersedih. Walau bagaimanapun itu adalah orang tua wanita yang ia cintai, "Tapi jika kamu keberatan aku akan meminta Wilson untuk_!"


"Tidak, aku tidak pa pa. Keadilan tetap harus di tegakkan kan, meskipun itu keluarga Nara? Nara sungguh tidak pa pa, mungkin Nara akan sakit sebentar, tapi sekarang Nara punya pak Riski yang bahunya akan sangat nyaman untuk Nara!" walaupun air matanya terlihat menetes tapi dia tetap menarik garis bibirnya agar melengkung ke atas.


Riski pun langsung bangkit dan menarik tubuh Nara ke dalam pelukannya,


"Aku tahu kamu wanita yang luar biasa, sungguh beruntungnya aku mendapatkan berlian sepertimu!"


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


IG @tri.ani5249

__ADS_1


...Happy Reading 🥰🥰🥰🥰...


__ADS_2