Wilson & Tisya

Wilson & Tisya
Bab 7


__ADS_3

Samar-samar Tisya mendengarkan suara bel dari rumahnya, ia masih begitu enggan untuk membuka matanya, rasanya masih begitu berat untuk di buka.


"Siapa sih pagi-pagi sekali sudah bertamu?" gumamnya.


Tisya pun meraba nakas yang ada di samping tempat tidurnya. Ia mengambil jam weker berbentuk kotak berwarna hijau yang menghiasi nakasnya.


Dengan begitu berat ia mencoba membuka matanya agar bisa melihat jarum jam,


"Masih jam lima pagi, orang gila mana yang bertamu pagi-pagi begini!" gerutunya.


Saat menoleh ke samping, ia masih mendapati suaminya yang tertidur pulas, tangannya masih memggenam tangannya.


"Tidak biasanya!" gumamnya tapi karena bel pintu terus berbunyi membuat Tisya menyingkap selimut dan mencari sendalnya.


Tisya pun segera turun dari tempat tidur dan melihat siapa yang bertamu pagi-pagi sekali.


Sebelum itu, ia juga mencari pengikat rambutnya lalu mengikatnya dengan asal. Ia segera berjalan menuju ke pintu depan.


"Siapa?" tanyanya dengan begitu malas sambil membuka pintu, tapi matanya terbelalak saat mendapati siapa yang ada di depan pintunya saat ini.


"Dokter!?"


Saat membuka pintu, ia mendapati dokter Richard berdiri di depan pintu.


"Selamat pagi nona Tisya!" sapa dokter Richard.


Tisya pun menanyakan perihal kedatangannya,


"Dokter tidak salah ya pagi-pagi ke sini? Di sini tidak ada yang sakit dok!" ucap Tisya dengan santainya.


Dan dokter Ricard pun memberitahu jika dia di minta Wilson untuk datang,


"Wilson yang meminta saya datang, nona!"


"Wilson?"


"Iya, bahkan Wilson meminta saya membawa peralatan bedah!"


"Bedah!?"


Tisya baru teringat jika semalam Wilson lukanya terbuka.


"Wilson dok!" ucapnya terkejut, dan dengan cepat Tisya berlari kembali ke kamar di ikuti dengan dokter Richard.


"Will!"


Dan benar saja ia mendapati suaminya begitu pucat, Tisya menyibakkan selimut yang menutupi suaminya dan begitu banyak darah di kaos yang sudah di ganti semalam dengan kaos yang bersih dan juga dari ada di selimut tebal itu.


"Wil, kamu tidak pa pa kan?" tanya Tisya panik sambil menepuk pipi Wilson berkali-kali.


"Nona, biar saya periksa dulu wilsonnya!" ucapnya dan Tisya pun menggeser tubuhnya menjauh dari suaminya, ia hanya bisa menutup mulutnya agar tidak menimbulkan suara tangisan.


Dokter Richard pun segera memeriksa keadaan Wilson yang ternyata sudah tidak sadarkan diri karena darah yang keluar terlalu banyak.


"Nona, sepertinya Wilson harus segera di bawa ke rumah sakit, dia sudah terlalu banyak mengeluarkan darah!"


"Apa yang harus aku lakukan?"


Dokter Richard pun hanya menutup kembali luka Wilson,


"Untuk sementara saya hanya akan menjahitnya agar darahnya tidak terus keluar! Nona bisa menghubungi ambulan sekarang!" ucap dokter Richard sambil mengeluarkan semua alatnya.


Tisya pun dengan cepat mengambil ponselnya yang berada di atas meja dan menghubungi ambulan rumah sakit.


Saat ini Wilson sedang membutuhkan banyak darah.


Tepat saat dokter Richard menutup luka Wilson, ambulans pun datang, Wilson pun di bawa ke rumah sakit.

__ADS_1


Tisya sampai tidak memikirkan penampilannya saat ini yang hanya memakai baju tidurnya,


Sesampai di rumah sakit, ia segera menghubungi kakaknya.


"Hallo kak!"


"Iya Tis, ada apa? Kenapa suaramu terdengar panik?"


"Kak, Wilson kak!"


"Wilson kenapa?"


"Wilson masuk rumah sakit!"


"Dia kenapa lagi?"


"Lukanya terbuka kembali!"


"Okey, jangan panik, sekarang sudah di tangani dokter kan?"


"Sudah, tadi ada dokter Richard!"


"Syukurlah, aku akan segera ke rumah sakit, jangan panik!"


Tisya pun mematikan sambungan telponnya. Ia kembali duduk menunggu hingga pintu ruang IGD itu terbuka.


"Bodoh ...., bodoh ....!" Tisya terus mengutuki dirinya sendiri, ia sampai tidak sadar kalau suaminya sedang menahan sakit semalaman gara-gara ulahnya.


"Istri macam apa aku ini, jahat sekali!"


Tisya terus menyalahkan dirinya sendiri.


"Tisya!"


Seseorang memanggilnya hingga membuat Tisya mendongakkan kepalanya.


Maira pun berjalan cepat mendekati Tisya dan memeluknya, melihat Tisya hanya memakai baju tidur Maira. pun segera melepas jasnya dan memakaikannya pada Tisya,


"Pakai ini!"


"Terimakasih ya kak! Kakak kok bisa ada di sini?"


"Tadi sebenarnya kakak nggak sengaja mampir ke rumah baru, trus pas aku mampir ke rumah kamu kata tetangga kamu ke rumah sakit karena suami kamu sakit, makanya Kakak segera ke sini!"


"Ini salah Tisya kak!" Tisya tidak tahu lagi harus berbuat apa selain menyalahkan diri sendiri dan terus menangis.


Maira pun kembali memeluk Tisya hingga dokter Frans pun datang dan menghampiri Tisya.


"Bagaimana keadaan Wilson?" tanya dokter Frans, Tisya pun melepaskan pelukan Maira dan beralih memeluk dokter Frans.


"Belum tahu kak, dokter sedang menanganinya!"


"Sabar ya, Wilson itu orangnya kuat, dia tidak akan kalah hanya dengan luka seperti itu saja!"


"Tapi Tisya khawatir kak!"


Dokter Frans mengusap punggung Tisya agar sedikit tenang, kemudian dokter Frans menemukan orang lain di sana, ia mengerutkan keningnya melihat ada Maira di sana.


"Anda?"


Maira pun tersenyum dan menundukkan kepalanya memberi hormat, "Selamat pagi dokter Frans, perkenalkan saya Maira, kakak Tisya!"


"Hmm!"


Maira pun mendekati Tisya, "Tisya, aku pergi dulu ya, sudah ada dokter Frans yang jagain kamu!"


"Iya kak, terimakasih ya sudah mau ke sini! Jas kakak!?"

__ADS_1


"Pakai saja, aku pergi ya!"


Tisya pun mengganggukkan kepalanya.


Setelah maira benar-benar meninggalkan mereka, dokter Frans pun kembali mendekati Tisya.


"Boleh nggak kakak berpendapat?"


"Pakek nanya sih kak?"


"Jangan dekat-dekat sama maira ya?"


"Kenapa?"


"Nggak pa pa, hanya kakak kurang suka saja sama dia, senyumnya tidak tulus!"


"Kak!?"


"Itu pendapat kakak saja, semoga yang kakak khawatirkan tidak benar!"


Setelah menunggu lama akhirnya pintu pun terbuka, dokter mengijinkan Tisya dan dokter Frans untuk masuk.


Wilson sudah sadar saat ini,


"Wil!"


"Aughhh!"


Keluh Wilson saat Tisya tiba-tiba memeluk tubuhnya.


"Maaf, aku tidak sengaja, aku tadi khawatir sama kamu!"


"Aku tahu!"


Wilson pun menatap pria yang berdiri di belakang istrinya,


"Tuan!" ucap Wilson sambil berusaha untuk bangun.


"Begitu saja, bagaimana keadaanmu?"


"Sudah lebih baik, tuan!"


"Bagaimana bisa terbuka lagi jahitannya?" tanya dokter Frans dan wilson bingung harus menjelaskan bagaimana.


"Sebenarnya salah Tisya kak! Tisya yang tanpa sengaja mencubitnya semalam!"


"Hanya di cubit?" tanya dokter Frans menyelidik.


Wilson pun terpaksa mengaku, "Tidak tuan, sebenarnya saat tidak sanggup jika terlalu lama berpuasa!" ucapnya dengan begitu polos.


Ha ha ha ....


Seketika dokter Frans tidak sanggup untuk menahan tawanya.


"Begini banget ya pesona adik gue ....!"


Tisya yang tidak terlalu faham hanya menatap dokter Frans dan suaminya bergantian


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


IG @tri.ani5249


Happy reading 🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2