Wilson & Tisya

Wilson & Tisya
Bab 19


__ADS_3

Saat Wilson masuk kembali ke dalam rumah, langkahnya langsung di hadang oleh bapaknya.


"Wil!"


"Ada apa pak?"


"Bapak dengar apa yang kamu bicarakan sama Nara!"


"Wilson capek pak, Wilson mau istirahat!"


Wilson hampir saja masuk ke dalam kamarnya tapi segera di tahan tangannya oleh bapak nya.


"Mau istirahat sama wanita itu? Hehhh?"


Wilson pun mengibaskan tangannya dan berbalik, ia memilih duduk di kursi rotan yang ada di ruang tv. Terlihat sekali saat ini kepalanya benar-benar pusing, ia memegangi kepalanya.


Bapak Wilson segera menyusulnya, ia ikut duduk di kursi yang berbeda. Ibu Wilson memilih mendengar pembicaraan mereka dari dapur. Rumah itu tidak terlalu besar jadi pembicaraan mereka sudah pasti akan terdengar dari ruangan lain di rumah itu.


"Bapak benar-benar nggak habis pikir, apa yang kamu lihat sebenarnya dari wanita kota itu hingga kamu bisa mengabaikan Nara!"


"Pak, bapak tahu sendiri dari dulu Wilson tidak pernah mencintai Nara! Kami hanya berteman, kenapa bapak memaksakan hubungan kami?"


"Kamu jangan lupa Wil, adik kamu bisa selamat sampai sekarang karena bantuan bapaknya, bantuan pak lurah! Wilna saat itu sakit keras dan bapak tidak punya biaya untuk membawanya ke rumah sakit, tapi bapaknya Nara yang dengan tangan terbuka membantu keuangan kita, ia sampai menjual kebunnya untuk membantu biaya operasi Wilna!"


"Tapi kan Wilson sudah membeli lagi kebun itu, bukan salah Wilson kalau mereka tidak mau menerimanya pak! Mereka bukan menolong tanpa pamrih ini namanya, mereka mau aku di tukar di sana!"


"Apa salahnya, mereka keluarga terpandang Wil, kaya! Kamu pasti juga akan hidup enak jika menikah dengan Nara!"


"Tapi Wilson tidak mau menikah dengan Nara!"


"Kenapa? Apa karena gadis itu? Bapak akan mengusirnya dari sini kalau kamu masih ngotot dengan pendirian kamu ini!"


"Kalau bapak mengusir Tisya dari sini, Wilson juga akan pergi!"


"Dasar keras kepala kamu! Gadis itu tidak ada apa-apa nya di bandingkan Nara!"


"Berhenti merendahkan Tisya pak!"


"Ada apa? Memang siapa dia? Gadis yang ikut dengan pria yang tidak ada hubungan apa-apa, memang masih bisa di sebut gadis baik-baik!?"


"Dia istri Wilson!"


Mendengar ucapan Wilson, bapaknya terdiam seribu bahasa, ibunya yang sedang sibuk di dapur pun seketika mendekati mereka.


"Wil, apa yang kamu katakan?" ibunya tampak begitu marah.


"Wilson mengatakan yang sebenarnya Bu, Tisya istri Wilson! Maafkan Wilson karena tidak mengatakan dari awal!"


Ibu dan bapak Wilson terlihat begitu terkejut, ibunya ikut duduk di samping sang bapak. Mereka sama-sama memegangi kepalanya.


"Kamu pasti membohongi kami kan?"

__ADS_1


"Wilson punya buktinya pak!"


Wilson pun segera masuk ke dalam kamar dan mengambil sesuatu dari kamarnya, dua buah buku satu berwarna hijau dan satunya berwarna coklat.


"Ini pak buktinya!" Wilson meletakkan dua buku kecil itu di depan bapak dan ibunya.


Mereka pun segera membukanya, dan benar ada foto Wilson dan tisya di sana.


"Pernikahan kalian tidak sah!" bapak Wilson masih berkeras hati.


"Pak_, sudahlah! Wilson capek harus hidup dalam kepura-puraan hanya untuk menyenangkan orang lain!"


"Ibu Wilson tampak mulai tergugu dalam tangisnya, "Ini gimana pak? Bagaimana caranya kita bicara sama pak lurah?"


"Bapak juga tidak tahu, dia benar-benar anak kurang ajar!" bapak Wilson menatap tajam ke arah Wilson.


"Maafkan Wilson pak, tapi secara hukum negara dan agama, Tisya adalah istri saya!"


"Kamu tidak tahu bagaimana kerasnya pak lurah, mereka punya anak buah banyak!"


"Bapak seharusnya tidak khawatir, jika bapak tahu siapa Tisya! Tapi bapak malah memperlakukan Tisya dengan tidak baik!"


"Memang bapak bisa apa sekarang! Mungkin besok bapak akan habis sama pak lurah!"


"Wilson yang akan maju pak!"


"Kamu jangan buat urusannya semakin runyam, bapak mohon jangan katakan hal ini pada siapa-siapa dulu, bapak nggak mau keluarga kita jadi bulan-bulanan warga!"


Setelah menyimpan kembali buku nikahnya, ia segera mendekati sang istri. Ada perasaan lega yang muncul setelah ia mengatakan kebenarannya pada kedua orang tuanya.


"Sayang, aku sudah mengatakan pada bapak sama ibu! Jika mereka tetap tidak mau menerima kamu, kita pulang saja ke Jakarta!"


Tiba-tiba tangan Wilson di genggam dengan erat oleh Tisya, wanita yang sudah berstatus sebagai istrinya itu membual matanya.


"Kamu sudah baikan?"


Tisya mengangukkan kepalanya, "Kita harus meluluhkan hati mereka, Wil!"


"Kita tidak bisa lama di sini, kamu bisa ketinggalan kuliahmu!"


"Tidak pa pa, memang siapa yang berani melawan kakakku!"


Wilson segera mengacak rambut sang istri, tidak peduli sakit atau tidak wanita itu tetap dengan gaya sombongnya.


"Hehhh, aku bahkan lupa siapa istriku! Dia kan singa, kenapa aku bisa takut sama tikus!?"


"Jadi bapaknya Nara itu tikus, sepertinya memang lebih cocok!"


Tiba-tiba Tisya mengubah posisinya menjadi duduk membuat Wilson begitu terkejut,


"Tis, apa yang kamu lakukan?"

__ADS_1


"Sepertinya aku harus kembali ke rumah itu!"


"Untuk apa?"


"Menjebak tikus ke dalam lubangnya!"


Mendengar ucapan sang istri, Wilson segera berdiri dan berkacak pinggang.


"Kamu jangan aneh-aneh ya!"


Tisya malah menunjukan dua jarinya dan menarik sudut bibirnya hingga memperlihatkan gigi-giginya yang rata,


"Please ...., I can't rest easy if I let evil persist for long!"


"Tapi ini bahaya!"


"Apa kamu tidak percaya dengan singa mu ini? Atau kamu lupa bagaimana dulu aku melawan kak Felic, walaupun itu salah!"


Hehhh, jiwa berjuangku kembali bangkit, batin Tisya dengan senyum smirt nya.


"Bisa nggak sekali saja jangan membuatku cemas!?"


Tisya kembali tersenyum, "Tidak!"


"Kamu begitu jujur, sudah aku mengantuk, aku mau tidur!"


Wilson pun segera melompat dan merebahkan tubuhnya di samping Tisya, menutup tubuhnya dengan selimut.


"Wil_, boleh ya, boleh ya, please ....!"


"Enggak!"


"Ayolah Wil, aku janji akan jaga diri, ya ya ....!"


Wilson membuka kembali selimutnya dan menghela nafas.


"Boleh?" tanya Tisya lagi.


"Baiklah, tapi janji jika ada sesuatu segera hubungi aku!"


"Siap bos!"


"Sudah tidur!" Wilson segera menarik tubuh Tisya ke dalam pelukannya. Untuk pertama kalinya selama di kampung mereka tidak pernah tidur dalam satu kamar.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


IG @tri.ani5249

__ADS_1


...Happy Reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2